Jumat, November 6, 2026
Kalimahsawa.ID
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
Kalimahsawa.ID
No Result
View All Result

Menghadapi Gelombang Digital: Tantangan dan Peluang Pendidikan Al-Qur’an di Era Gen-Z

RedaksiKS by RedaksiKS
Oktober 25, 2025
in Esai, Narasi
0
Menghadapi Gelombang Digital: Tantangan dan Peluang Pendidikan Al-Qur’an di Era Gen-Z
25
SHARES
145
VIEWS

Oleh: Farhan Shiddiq

Pada era digital saat ini, pendidikan Al-Qur’an menghadapi tantangan besar sekaligus peluang besar, terutama bagi generasi Z atau yang dikenal dengan sebutan gen-Z yang dikenal sebagai generasi digital atau milenial muda yang sangat akrab dengan teknologi. Ahmad Nurrohim, dosen Universitas Muhammadiyah Surakarta, menyoroti berbagai aspek terkait hal ini, baik dari sisi tantangan yang dihadapi maupun peluang yang bisa dimanfaatkan untuk memperkuat pemahaman dan pengamalan Al-Qur’an pada generasi muda.

TulisanTerkait

Perempuan dalam Kapitalisme: Merdeka atau Sekadar Menjadi Komoditas?

Reorientasi Sarjana Pendidikan: KKN, Skripsi atau Penguatan PPG?

Ketika Mimpi Besar Berhadapan dengan Keterbatasan Keluarga

Nah, apa aja sih tantangan dan hambatan bagi kebanyakan anak-anak dari Gen-Z ini? Dan bagaimana cara mengatasinya?

Generasi Z ataupun yang lenih dikenal dengan sebutan gen-Z diidentifikasi sebagai kelompok yang muncul di tengah kemudahan akses terhadap teknologi digital. Namun mereka juga rentan terhadap kelalaian dalam mempelajari Al-Qur’an. Salah satu tantangan utama yang mereka hadapi adalah kurangnyna motivasi serta kedalaman dalam memahami isi Al-Qur’an, karena pengajaran yang terlihat sekadar formal atau dangkal. Nurrohim menyatakan  bahwa dalam pembelajaran digital, seringkali materi yang disajikan terlalu ringkas dan gagal menyentuh sisi spiritual serta kedalaman ajaran Al-Qur’an (Nurrohim, 2025).

Selain itu, godaan dari media sosial dan hiburan digital menyebabkan generasi Z atau gen-Z terjebak dalam distraksi yang membuat mereka lupa akan pentingnya belajar Al-Qur’an secara rutin dan konsekuensi. Banyak anak muda yang lebih fokus pada konten hiburan atau sekadar mengikuti tren, ketimbang memahami makna ayat-ayat suci yang penuh hikmah dan pesan moral (Nurrohim, 2025).​

Lebih jauh, tantangan teknis juga muncul dari ketidakmerataan akses teknologi dan literasi digital yang rendah di sebagian kalangan yang masih tergolong awam terhadap penggunaan teknologi untuk belajar agama. Kondisi ini menimbulkan jurang pemisah yang semakin melebar antara generasi yang sudah mampu memanfaatkan teknologi secara optimal dan yang tercecer dalam dunia digital (Nurrohim, 2025).​

Di sisi lain, era digital membuka peluang besar untuk memperluas dan mempermudah proses belajar Al-Qur’an bagi generasi Z. Akses internet, aplikasi pembelajaran berbasis mobile, dan media sosial dapat menjadi alat yang sangat efektif jika digunakan secara positif. Aplikasi pembelajaran Al-Qur’an yang interaktif dan menarik menawarkan pengalaman belajar yang lebih menyenangkan dan menyentuh aspek emosional serta spiritual pelajar (Nurrohim, 2024).​

Selain itu, platform digital mampu menyediakan berbagai fitur seperti terjemahan, tafsir, audio mengaji, dan forum diskusi yang memungkinkan generasi Z belajar secara mandiri, fleksibel, dan menyenangkan. Nurrohim menegaskan bahwa, jika konten pendidikan Al-Qur’an mampu disusun secara menarik dan komunikatif, maka peluang untuk meningkatkan motivasi belajar dan kedalaman penghayatan semakin terbuka lebar (Nurrohim, 2024).​

Pentingnya pendekatan interaktif dan partisipatif melalui media digital juga mampu mengurangi sikap lalai yang selama ini menjadi masalah utama. Dengan metode ini, anak-anak dan remaja bukan lagi sekadar pendengar pasif, melainkan aktif berinteraksi, berdiskusi, bahkan mengkaji ayat-ayat Al-Qur’an secara langsung dan menyenangkan (Nurrohim, 2024).​

 Pentingnya untuk Menggabungkan Metode Pembelajaran Al-Qur’an Tradisional dengan Inovasi Digital

Tantangan terbesar bukan hanya soal bagaimana memberikan akses, tetapi juga bagaimana membangun kedekatan dan kedalaman memahami Al-Qur’an melalui media digital. Pendekatan yang berimbang antara metode tradisional dan inovatif harus dilakukan, agar pembelajaran Islam tetap berakar kuat pada tradisi, tetapi tetap mampu mengikuti perkembangan zaman (Nurrohim, 2025).​

Dalam hal ini, pengembangan digital yang berorientasi pada kualitas konten dan keilmuan yang valid sangat penting. Tafsir Al-Qur’an berbasis digital harus mampu menjawab kebutuhan generasi Z akan pengetahuan yang cepat, lengkap, dan mendalam tanpa mengurangi aspek spiritual dan keimanan mereka (Nurrohim, 2025).​

Nah kemudian, dari penggabungan kedua metode ini terciptalah sinergi yang saling melengkapi ;

Efektivitas dan jangkauan: Peserta didik mendapatkan bimbingan mendalam dari guru (tradisional) sekaligus memanfaatkan materi pendukung digital untuk memperdalam pemahaman dan mengulang pelajaran.

Pendekatan modern yang tetap berakar: Inovasi digital membantu menarik minat generasi muda dan digital native, namun tetap didasari oleh prinsip-prinsip otentik yang diajarkan dalam metode tradisional.

Pembelajaran yang lebih kaya: Kombinasi ini menawarkan pengalaman belajar yang lebih komprehensif, menggabungkan interaksi personal dengan sumber daya digital yang melimpah.

Mempertahankan nilai spiritual: Metode tradisional menanamkan nilai-nilai spiritual dan akhlak, sementara teknologi digital membantu memfasilitasi proses belajar, memastikan bahwa teknologi menjadi alat, bukan tujuan utama. 

Kemudian, Apa Upaya yang Harus Dilakukan dalam Mengatasi Kelalaian dan Meningkatkan Motivasi Para Kawula Muda?

Aspek psikologis dan mental generasi Z harus menjadi prioritas utama dalam pendidikan Al-Qur’an di era digital. Mereka perlu dibangun motivasi yang kuat dan rasa kedekatan terhadap Al-Qur’an melalui pendekatan yang menyentuh hati, tidak hanya sekadar untuk memenuhi kewajiban formal.

Kegiatan interaktif dan game edukatif berbasis Al-Qur’an yang bersifat menyenangkan dan menantang dapat menjadi solusi untuk mengatasi kelalaian ini. Dengan demikian, belajar Al-Qur’an tidak lagi dipandang sebagai beban, tetapi sebagai pengalaman spiritual yang menyenangkan dan membangun karakter (Nurrohim, 2025).​

Selanjutnya, agar pendidikan Al-Qur’an di era digital mampu menjangkau dan menginspirasi generasi Z, diperlukan kolaborasi besar antara pengembang teknologi, ulama, pendidikan, dan orang tua. Pembuatan konten digital harus dilakukan secara bersinergi agar mampu menyentuh sisi spiritual sekaligus memenuhi kebutuhan belajar yang cepat dan efektif.

Selain itu, model pembelajaran berbasis digital harus didukung dengan pelatihan untuk para guru dan pendidik agar mampu memanfaatkan teknologi dengan baik dan tetap menjaga nilai-nilai keislaman yang otentik. Dengan demikian, generasi Z tidak hanya menguasai aspek belajar berteknologi tetapi juga mendalam dan tulus dalam memahami kandungan Al-Qur’an yang penuh hikmah (Nurrohim, 2025).​

Oleh sebab itu, dapat kita simpulkan bahwa, era digital menawarkan tantangan besar berupa kemungkinan kelalaian dan distraksi, tetapi sekaligus membuka peluang besar untuk memperkuat dan memperluas pendidikan Al-Qur’an. Generasi Z atau gen-Z harus diarahkan untuk memanfaatkan teknologi secara bijak dan positif. Dengan pendekatan yang inovatif dan berimbang, mereka dapat memahami dan mengamalkan ajaran Al-Qur’an secara mendalam dan menyentuh hati. Ahmad Nurrohim menegaskan pentingnya kolaborasi, inovasi, dan kedekatan emosional agar pendidikan Al-Qur’an di era digital tidak hanya sekadar formalitas, tetapi mampu membangun karakter dan keimanan mereka yang kokoh.

Editor: Astyra Gita Kinanti

Terkait

Tags: GenZ
Previous Post

Dari Niat ke Takdir: Apa Hukum Tarik Menarik “Quantum” Melalui Lensa Tafsir tentang Doa, Ikhtiar, dan Tawakal?

Next Post

Bangun dengan Pikiran Bahagia: Rahasia Kecil yang Bisa Mengubah Harimu

RedaksiKS

RedaksiKS

Kalimahsawa.id hadir atas kesadaran bahwa pluralitas merupakan sesuatu yang tak terelakkan dan bahwa keragaman tak harus menjadi keseragaman. Dalam konteks keindonesiaan, Negara Pancasila merupakan titik temu pemikiran antara keislaman, kemoderenan dan keindonesiaan secara harmonis.

Next Post
Bangun dengan Pikiran Bahagia: Rahasia Kecil yang Bisa Mengubah Harimu

Bangun dengan Pikiran Bahagia: Rahasia Kecil yang Bisa Mengubah Harimu

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Tentang Kalimahsawa.id
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan
Contact Person: 085850332866

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.

No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.