Meskipun nama ‘tasawuf’ belum banyak dikenal pada masa awal kemunculan agama Islam, akan tetapi ajaran-ajaran tasawuf banyak yang diambil dari kitab suci Al-Qur’an dan hadits. Karena itulah tidak heran jika perilaku-perilaku dari kaum sufi sebagian mengikuti perilaku-perilaku Rasulullah dan sahabatnya.
Kaum sufi terkenal dengan kezuhudannya. Kezuhudan tersebut bukan tanpa dasar apapun. Melainkan lebih kepada bentuk pengalaman yang menyeluruh terhadap ajaran agama Islam. Bahkan perilaku-perilaku zuhud tersebut yang telah dilakukan oleh kaum sufi sebenarnya merupakan ajaran yang telah dipraktekkan Rasulullah di hadapan para sahabat-sahabatnya.
Disebutkan bahwa perjalanan tasawuf dapat digambarkan melalui proses produksi anggur murni berikut ini. Ia disemaikan pada Nabi Adam a.s., dirawat dan dipelihara pada zaman Nabi Nuh a.s., mulai bersemi pada zaman Nabi Ibrahim a.s., tumbuh dan berkembang pesat pada masa Musa a.s., mencapai kematangan pada zaman Nabi Isa a.s., dan menghasilkan anggur murni pada zaman Nabi Muhammad saw.
Pada awal munculnya agama Islam di Jazirah Arab, agama Islam yang didakwahkan Nabi Muhammad saw., tampak begitu sederhana. Formulasi ajarannya begitu mudah dipahami, karena Rasulullah sendiri ialah panutan utama atau dikenal dengan sebutan Uswatun Hasanah, Central Figure bagi semua umat muslim yang ajarannya dan contoh teladannya dapat diberikan secara langsung tanpa adanya perantara.
Kezuhudan Nabi Muhammad saw. dapat dilihat dari sebuah hadits yang meriwayatkan bahwa ketika itu sahabat Umar bin al-Khathab masuk kerumah Rasulullah, sementara Rasulullah tampaknya baru bangun tidur dengan bekas tikar kasar pada bahunya. Melihat hal ini sahabat Umar menangis.
Ketika ditanya oleh Rasulullah apa yang tengah membuatnya menangis, sahabat Umar menjawab:
“Saya teringat Kaisar Romawi dengan segala kemewahan kerajaannya, Hurmuz dengan kebesaran kerajaannya, serta raja Habasyah dan kebesaran kekuasaannya, sementara engkau yang padahal utusan Allah hanya tidur di atas tikar yang terbuat dari daun kurma yang kasar!”.
Kemudian Rasulullah menjawab:
“Tidakkah engkau ridho bahwa mereka memiliki dunia, sementara kita memiliki akhirat?” (HR. Ibn al-Mundzir dari sahabat Ikrimah).
Kezuhudan tidak hanya dilakukan ataupun dipraktekkan oleh Nabi Muhammad saw. Akan tetapi juga dilakukan oleh para nabi terdahulu sebelum Rasulullah. Hal ini dikarenakan hampir keseluruhan dari para Nabi Allah ialah orang-orang fakir yang tidak menyentuh kesenangan duniawi. Mereka para Nabi Allah meski dikaruniai keluasan rizki dan kekuasaan, tetapi kesehariannya mereka tetap pada mempraktekkan kehidupan zuhud.
Pada kehidupan Nabi Muhammad saw., juga terdapat petunjuk yang menggambarkan bahwasannya dirinya ialah seorang sufi. Nabi Muhammad saw. telah melakukan pengasingan diri di Gua Hira menjelang datangnya wahyu. Beliau menjauhi pola hidup keduniawian ketika para orang Arab tengah tenggelam di dalamnya, seperti dalam praktik perdagangan yang didasarkan pada prinsip menghalalkan segala cara.
Selama di Gua Hira, Rasulullah hanyalah bertafakkur dan hidup sebagai seorang Zahid. Beliau hidup dengan sangat sederhana, bahkan memakai pakaian tambalan, tidak makan dan tidak minum kecuali yang halal.
Di setiap malam senantiasa beribadah kepada Allah swt., sehingga membuat Siti Aisyah bertanya: “Mengapa engkau berbuat begini ya Rasulullah? Padahal Allah swt senantiasa mengampuni dosamu?” Rasulullah menjawab: “Apakah engkau tidak menginginkanku menjadi hamba yang bersyukur?”.
Dengan demikian, sikap zuhud Nabi Muhammad saw., sebagai pola hidup paling ideal dan patut ditiru dalam segenap aspek kehidupan kita. Dimana dalam kehidupan beliau dapat mempengaruhi kehidupan para sahabat-sahabatnya serta para pengikutnya. Pola hidup Rasulullah merupakan khazanah dan ibrah bagi kehidupan kaum sufi.
Editor: Yusuf