Rabu, Oktober 7, 2026
Kalimahsawa.ID
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
Kalimahsawa.ID
No Result
View All Result

Mengapa Allah Menggunakan Kutiba Dalam Perintah Puasa?

RedaksiKS by RedaksiKS
Maret 11, 2025
in Esai, Narasi
0
Mengapa Allah Menggunakan Kutiba Dalam Perintah Puasa?
54
SHARES
317
VIEWS

Oleh: Muhammad Syahidul Haqq (Mahasiswa Ilmu Al Quran dan Tafsir, FAI UMS)

قَالَ الصَّحَابِيْ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَسْعُوْدٍ: سَيِّدُ الْأَيَّامِ يَوْمُ الْجُمْعَةِ وَسَيِّدُ الشُّهُوْرِ شَهْرُ رَمَضَانَ

TulisanTerkait

Refleksi Tahanan Politik Aksi 2025: Menulis untuk Rekan Juang yang Terpenjara

Ketika Prestasi Menjadi Ukuran: Membangun Organisasi Berbasis Meritokrasi

Wacana Digitalisasi Ikatan: Mengapa Satu Data IMM penting?

            “Sahabat Abdullah bin Masoud berkata: Sebaik – baiknya hari adalah hari Jumat dan sebaik – baiknya bulan adalah bulan Ramadhan.”

Bulan Ramadhan merupakan bulan yang paling mulia diantara bulan yang lainnya. Mengapa bulan ini disebutkan sebagai bulan yang paling mulia diantara bulan yang lainnya?. Karena bulan Ramadhan adalah bulan ketika Rasulullah SAW mendapatkan wahyu berupa turunnya Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi umat manusia di muka bumi ini, sebagaimana firman Allah SWT dalam surat Al-Baqarah ayat 185:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيْٓ اُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْاٰنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنٰتٍ مِّنَ الْهُدٰى وَالْفُرْقَانِۚ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ ۗوَمَنْ كَانَ مَرِيْضًا اَوْ عَلٰى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ اَيَّامٍ اُخَرَ ۗيُرِيْدُ اللّٰهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيْدُ بِكُمُ الْعُسْرَ ۖوَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰىكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ

“Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (antara yang hak dan yang batil). Oleh karena itu, siapa di antara kamu hadir (di tempat tinggalnya atau bukan musafir) pada bulan itu, berpuasalah. Siapa yang sakit atau dalam perjalanan (lalu tidak berpuasa), maka (wajib menggantinya) sebanyak hari (yang ditinggalkannya) pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran. Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu agar kamu bersyuk

Selain menjadi bulan dimana Al-Qur’an diturunkan didalamnya, Ramadhan menjadi bulan penuh ampunan untuk seluruh kaum muslimin. Pada bulan ini seluruh pintu surga dibuka selebar-lebarnya dan pintu neraka ditutup serapat-rapatnya, sebagaimana salah satu hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari Muslim yang berbunyi:

إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ، فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ، وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ، وَسُلْسِلَتِ الشَّيَاطِينُ

“Apabila datang bulan Ramadhan, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup dan setan-setan dibelenggu” (HR Bukhari No 3277, Muslim N0 1079).

Oleh sebab itu sudah sepantasnya bagi kaum muslimin untuk mencari amal sebanyak-banyaknya di bulan yang penuh keberkahan ini. Pada bulan ini setiap amalan ibadah mendapatkan pahala yang berlipat ganda, sehingga bulan ini menjadi kesempatan untuk kaum muslimin untuk meningkatkan ketakwaan dirinya masing-masing. Dilain dari itu semua perintah apa yang sebenarnya ingin disampaikan oleh Allah SWT kepada umat-Nya dalam bulan Ramadhan ini? Allah berfirman dalam surat Al-Baqarah ayat 183:

يٰٓـاَيُّهَا الَّذِيۡنَ اٰمَنُوۡا كُتِبَ عَلَيۡکُمُ الصِّيَامُ کَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيۡنَ مِنۡ قَبۡلِکُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُوۡنَۙ‏ (١٨٣)

Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa, sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. (QS. Al:Baqarah: 183)

Pada ayat diatas, Allah memerintahkan kepada umatnya untuk melaksanakan puasa, sebagaimana Allah memerintahkan umat-umat sebelumnya untuk berpuasa. Dalam tafsirnya Ibnu Katsir mengatakan bahwa puasa tidaklah hanya untuk menahan diri dari makan dan minum saja. Akan tetapi, dalam berpuasa terkandung hikmah membersihkan jiwa, menyucikannya serta membebaskannya dari endapan-endapan yang buruk (bagi Kesehatan tubuh) dan akhlak-akhlak yang rendah. Dalam tafsir Jalalain juga disebutkan bahwasannya berpuasa memiliki maksud untuk menjaga diri dari maksiat, karena puasa itu dapat membendung syahwat yang menjadi pangkal sumber kemaksiatan.

Namun, sadarkah kalian dalam ayat diatas mengapa Allah menggunakan kata kutiba bukan menggunakan kata wujiba atau furidho?. Pada dasarnya lafadz kutiba berasal dari kata kataba yang memiliki arti “dituliskan” namun mengapa pada ayat diatas kata kutiba diartikan dengan makna “diwajibkan”.

Pada dasarnya makna wajib dalam bahasa arab terdapat berbagai macam kata seperti kutiba, wujiba dan furidho. Ketiga kata tersebut memiliki makna yang sama yaitu “wajib”. Namun, apa yang membedakan dari ketiga kata tersebut?.

Senada dengan hal yang saya pahami terhadap tulisan Muhammad Qutub Al Qasas, yang berjudul “Kutiba ‘Alaikum” bahwasannya para ahli ilmu telah menjawab persoalan tersebut bahwa kata wujiba dan furidho hanya memiliki makna diwajibkan saja tidak ada penguatan didalamnya. Akan tetapi kata kutiba memiliki makna tambahan selain makna “diwajibkan” yaitu makna “penguatan”. Oleh karena itu, kata kutiba memiliki makna “diwajibkan dan penguatan”.

Mari kita analogikan bersama, ketika kepala sekolah memerintahkan kepada seluruh muridnya untuk melaksanakan kelas tambahan setelah pulang sekolah, kemudian kepala sekolah mengeluarkan perintah tersebut secara tertulis dalam sebuah surat, maka perintah tersebut sifatnya akan menjadi lebih kuat dibandingkan perintah yang hanya diucapkan saja tanpa dituliskan.

Dapat dilihat dari analogi tersebut bahwa suatu perintah akan lebih kuat, dan lebih tinggi kedudukannya ketimbang perintah yang hanya diucapkan saja. Dari pemahaman diatas dapat kita pahami Bersama, bahwa perintah puasa ini sangat kuat kedudukannya karena sudah tertulis di sisi Allah SWT. Maka dari itu marilah kita maksimalkan puasa kita di bulan yang penuh berkah ini yaitu bulan Ramadhan. Wallahu A’lam Bishawab.

Terkait

Tags: IslamMuhammadiyahPuasa
Previous Post

Peran Wanita Dalam Islam: Interpretasi Surat An-Nisa’ Ayat 34

Next Post

Hukum Mati Koruptor: Dosen UIN Solo Mustain Nasoha Soroti Langkah Presiden Prabowo Subianto

RedaksiKS

RedaksiKS

Kalimahsawa.id hadir atas kesadaran bahwa pluralitas merupakan sesuatu yang tak terelakkan dan bahwa keragaman tak harus menjadi keseragaman. Dalam konteks keindonesiaan, Negara Pancasila merupakan titik temu pemikiran antara keislaman, kemoderenan dan keindonesiaan secara harmonis.

Next Post

Hukum Mati Koruptor: Dosen UIN Solo Mustain Nasoha Soroti Langkah Presiden Prabowo Subianto

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Tentang Kalimahsawa.id
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan
Contact Person: 085850332866

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.

No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.