Mencoba Mendamaikan Masa Lalu

Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial–Universitas Muhammadiyah Surakarta (PSBPS-UMS) menggelar Kolokium dengan konsep diskusi buku pada Jum’at (18/10/2019) siang di ruang rapat Badan Pembina Harian (BPH) UMS. Buku yang didiskusikan pada acara tersebut berjudul “Dunia Barat dan Islam, Cahaya di Cakrawala” yang ditulis oleh Dr. Sudibyo Markus yang sekaliagus menjadi pemateri pada acara tersebut.

Pada umumnya, karya yang membahas hubungan Dunia Barat dan Islam dibahas oleh sarjana Barat dengan sudut pandangnya masing-masing. Di Indonesia, kajian tentang masalah ini nyaris belum ada. Maka dari pada itu, menurut Paksi Hidayatulloh sebagai ketua panitia karya Dr. Sudibyo Markus tersebut perlu diapresiasi melalui kegiatan diskusi buku tersebut.

Buku terbitan Gramedia yang menjadi bahan diskusi ini yang merupakan up date dari buku “Konsili Vatikan II, Satu Pembaharuan Sikap Gereja Terhadap Islam” (Lembaga Penelitian & Pengembangan Agama, Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Pustaka Antara 1978) merangkum dan menterhubungkan empat rangkaian milestones atau tonggak sejarah penting yang mengantar manusia kepada modernitas dan jalan yang semakin mendekatkan manusia, khususnya umat beragama kepada perdamaian.

Acara berlangsung lancar dan apik, diawali oleh orientasi oleh Yayah Khisbiyah Direktur Eksekutif PSBPS-UMS. Pada sesi orientasi ini, Yayah juga sekaligus memperkenalkan website kalimahsawa.id sebagai media yang mewartakan nilai-nilai perdamaian, multikulturalisme, keadilan, kebaikan, dan pluralism positif. Setelah sesi orientasi, moderator Nurgiyatna selaku dekan FKI UMS memandu jalannya diskusi dengan diawali ulasan singkat terkait buku oleh dr. Sudibyo Markus, M.B.A. Di mana beliau kurang lebih memaparkan perihal latar belakang dan kegelisahannya dalam menulis buku itu.

Baru kemudian moderator mempersilahkan kepada Sigit Wijayanta, Ph.D selaku Ketua Badan Pertimbangan PELKESI sekaligus dosen UKDW dan Dr. M. A. Fattah Santoso, M.Ag. selaku staff ahli Rektor UMS untuk meberikan ulasan terhadap buku karya dr. Sudibyo Markus. Adapun peserta Kolokium diskusi buku ini dihadiri sejumlah mahasiswa, aktivis organisasi kemahasiswaan, pegiat pusat studi dan tamu udangan umum.

Tanggapan pertama oleh Sigit Wijayanta. Beliau berpendapat  ada 3 point tanggapan yakni dari sisi Paradigma Penulisan, content/isi, dan kemanfaatan dalam konteks masa kini dan yang akan datang. Judul buku Dunia Barat dan Islam: Cahaya di Cakrawala. Merefleksikan bahwa penulis adalah sejarawan yang positif-optimis. Walau content yang ditulis banyak bercerita tentang sejarah kelam gereja, tetapi judul yang dipilih adalah Dunia Barat yang berkonotasi lebih luas bukan sekedar agama Kristen.

Diberi tambahan Cahaya di Cakrawala, menunjukan sikap optimist bahwa ada harapan karena fajar telah datang, kegelapan telah ditinggalkan dan dikalahkan oleh cahaya di cakrawala, yang kalau tidak “mendung” akan menyinari dan menghangati seluruh bumi di sepanjang hari. Ini Judul yang positif-opitimist, buku seperti ini yang sangat wajib dibaca, dan rugi kalau tidak membacanya.

Lebih lanjut beliau mengungkapkan, kalau kita menggunakan kacamata negative pesimis, orang Kristen khususnya Katolik akan panas hati ketika penulis membeberkan fakta/praktek-praktek negative gereja termasuk dalam perjumpaan dengan Islam, termasuk framework negative para orientalist. Namun karena penulis berparadigma positif-optimis, pembaca tidak marah dan panas hati karena mengharapkan ada “cahaya di cakarawala” yang akan dihadirkan penulis.

Demikian juga bagi pembaca Islam, dia tidak panas hati dan makin menjadi reaktif terhadap orang Barat dan Kristen, karena dengan cool dia memahami konteks yang terjadi saat itu. Tidak ada satupun agama yang tidak ofensif terhadap pendatang baru. Yahudi memberangus kekristenan, Katolik menghantam Islam, Katolik memberangus Lutheran/Protestant, Protestant memberangus aliran-aliran baru (Menonite, Evangelism dll). Ini semua merupakan ekpresi ketakutan akan digerogotinya degradasi power yang dimiliki Agama oleh pendatang baru.

Sejarawan positif tidak serta merta menyimpulkan bahwa Agama adalah “sumber masalah” tetapi mencari terobosan lain yang bebas power play yaitu Faith atau Iman. Dalam hubungan antar Iman, yang bermain adalah hati, sedang bahasa komunikasi bukan ajaran/dogma agama yang berusaha dicocok-cokan dan dicari batas-batas eksistensinya.

Tetapi melalui aksi nyata apa yang menjadi kepentingan bersama (Common Word). Isue kemanusiaan termasuk di dalamnya kesejahteraan, kelestarian dan perdamaian adalah A common world between Us and You yang perlu diperjuangkan bersama. Itulah cahaya di cakrawala dalam hubungan Dunia Barat dan Islam yang dihadirkan Penulis.

Selanjutnya tanggapan dari pembicara ketiga, yakni Dr. M.A. Fattah santoso, M.Ag. Beliau menyampaikan, tidak saja monumental, buku ini hasil dedikasi tinggi yang berbilang tahun bahkan dekade, disebutkan dalam salah satu postingan FB-nya, 5 dekade pengamatan, pembacaan dan penghayatan dan 5 tahun penulisan. Satu karya buku yang terbilang Luar biasa.

Sebuah pengalaman yang dapat menjadi teladan. Buku ini telah mengikuti Kuntowijoyo, menjadikan “eskatalogi (keyakinan terhadap Hari Akhir di mana perbuatan manusia dimintai pertanggung-jawabannya) sebagai sarana perubahan sejarah” (yaitu, masa depan lebih baik—selaras dengan kerangka teologis peresensi). Adanya sikap tanggung jawab adalah bukti keyakinan terhadap eskatologi, yang operasional di muka bumi.

Lebih lanjut Fattah Santoso mengatakan, buku yang sangat kritis ini juga telah mengikuti kerangka berfikir dari Hodgson, di mana menjadikan “Islam dalam kerangka sejarah dunia dan visi moralnya”. Buku ini juga selaras dengan kerangka teologis peresensi yang menjadikan perbedaan sebagai modal membangun sejarah melalui dialog dan menghilangkan dendam.  Apalagi jika ditarik ke dalam kerangka berfikir teks di dalam Al-Quran, buku ini sangat relevan dalam rangka membangun dialog dan menghilangkan dendam masa lalu.

Pada intinya, sebagai sebuah garis besar di dalam diskusi terhadap buku “Dunia Barat dan Islam” ini, bahwa umat beragama harus sanggup menjadikan diri mereka sebagai instrument bagi perdamaian global. Empat milestones utama sejarah antar umat beragama tersebut secara berturut-turut terdiri atas: Perang Salib (1095-1297), Konsili Vatikan II (162-1965), Surat Terbuka “A Common Word Between Us and You” atau Kalimatun Sawa dari 138 Ulama dan Cendekiawan Muslim sedunia kepada Paus Benediktus XVI dan seluruh Petinggi Gereja se-dunia pada tanggal 13 Oktober 2007, serta Agenda for Humanity yang merupakan keputusan World Humanitarian Summit di Istanbul (23-24 Mei 2016). Untuk menghasilkan hidup tercerahkan di masa kini dan masa-masa yang akan datang.

By: Redaksi Kalimah Sawa’

What's your reaction?
4So Happy0Happy
Show CommentsClose Comments

Leave a comment