Oleh: M. Islahuddin
Suatu pagi di gedung yang nampak unik, berbentuk damar kurung yaitu SMA Muhammadiyah 1 Gresik, seorang murid tampak asyik menunduk menatap layar laptop. Di sana, berderet video materi pendidikan sekolah yang bisa ia putar ulang kapan saja, lengkap dengan ringkasan materi dan soal latihan yang dapat dipecahkan dengan bantuan chatbot berbasis kecerdasan buatan (AI). Hampir semua bahan ajar kini tersedia dalam genggaman tangan. Namun, pertanyaan yang tak kalah penting justru muncul: apakah menuntut ilmu kini cukup dengan jaringan internet dan perangkat pintar? Ataukah ada sesuatu yang lebih mendasar yang justru mulai terkikis di era serbadigital ini?
Ulama klasik telah merumuskan enam bekal abadi dalam menuntut ilmu: kecerdasan, semangat, kesungguhan yang menyerupai jihad, modal, adab terhadap guru, dan waktu yang panjang. Enam bekal ini, jika direnungkan kembali, justru semakin relevan saat dunia pendidikan sedang dilanda badai transformasi digital.
Kecerdasan: Antara Data dan Hikmah
Kecerdasan, dalam arti konvensional, sering dimaknai sebagai kemampuan berpikir logis, menyerap pengetahuan, dan menyelesaikan persoalan. Namun, di era digital, definisi kecerdasan melebar. Seseorang mungkin mahir menggunakan teknologi, tetapi tanpa kemampuan kritis ia mudah terseret arus informasi yang simpang siur.
Kecerdasan hari ini bukan lagi sekadar menguasai data, melainkan memilah mana informasi yang valid, mana yang hoaks; mana ilmu yang mendidik, mana sekadar trivia yang memabukkan. Disinilah literasi digital menjadi wujud baru dari kecerdasan. Sayangnya, terlalu banyak mahasiswa maupun pelajar yang terjebak dalam ilusi “tahu banyak” hanya karena terbiasa mengakses Google atau ChatGPT. Padahal, pengetahuan instan tanpa pemahaman mendalam tidak otomatis menjelma menjadi kebijaksanaan.
Semangat: Melawan Distraksi
Bekal kedua adalah semangat. Jika dulu semangat diuji dengan jauhnya perjalanan mencari guru atau sulitnya mendapatkan kitab, kini semangat diuji oleh derasnya distraksi. Notifikasi media sosial, permainan daring, hingga konten hiburan yang tak ada habisnya membuat gairah belajar mudah luntur.
Di sinilah kita menemukan paradoks zaman: akses ke ilmu begitu terbuka, tetapi motivasi untuk benar-benar belajar justru melemah. Semangat menuntut ilmu kini memerlukan daya tahan psikologis untuk tidak larut dalam arus algoritma yang dirancang membuat manusia kecanduan. Mereka yang gagal menjaga semangat akan mudah terjerembab dalam sikap apatis, merasa cukup dengan pengetahuan seadanya, atau menganggap belajar bisa ditunda kapan saja.
Kesungguhan: Belajar sebagai Jihad
Menuntut ilmu, kata para ulama, membutuhkan kesungguhan yang menyerupai jihad. Jihad di sini bukan sekadar pertempuran fisik, melainkan perjuangan batin melawan rasa malas, kebosanan, dan keputusasaan.
Era digital menantang kesungguhan ini dalam bentuk yang lebih halus. Ketika jawaban instan tersedia, mengapa harus bersusah payah membaca buku tebal atau melakukan riset mendalam? Inilah yang membedakan seorang penuntut ilmu sejati dengan pemburu informasi semata.
Kesungguhan itu diuji saat mahasiswa harus menulis skripsi. AI bisa membantu merangkum, bahkan menyusun paragraf, tetapi apakah itu berarti proses berpikir mendalam bisa ditinggalkan? Tanpa kesungguhan, pendidikan terancam melahirkan generasi instan pandai mencari jawaban, tetapi miskin daya analisis.
Modal: Ketimpangan Baru
Tak bisa dimungkiri, menuntut ilmu selalu membutuhkan modal. Dulu, modal berarti uang untuk membeli kitab atau ongkos menuntut ilmu ke kota besar. Kini modal itu berbentuk akses internet, gawai yang memadai, hingga langganan platform belajar.
Digitalisasi memang membuka peluang baru, tetapi ia juga menyingkap ketimpangan baru. Tidak semua murid mampu membeli laptop, tidak semua daerah memiliki jaringan internet stabil. Maka benar adanya peringatan dalam Al-Qur’an surat An-Nisa’ ayat 9: “Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah…” Lemah di sini bukan hanya fisik, tetapi juga pengetahuan.
Ketika akses digital tak merata, pendidikan justru bisa menjadi mesin pengganda ketidakadilan. Mereka yang berpunya melesat jauh, sementara yang tak mampu tertinggal lebih dalam. Modal, dengan demikian, tetap menjadi faktor penentu keberhasilan menuntut ilmu.
Adab kepada Guru: Sentuhan yang Tak Tergantikan
Inilah bekal yang paling rawan hilang di era digital. Bagaimana menjaga interaksi guru dan murid jika hampir semua proses pembelajaran berpindah ke layar? Kecerdasan buatan mungkin bisa menjelaskan rumus matematika atau menerangkan konsep filsafat, tetapi ia tak bisa menepuk pundak murid yang patah semangat.
Guru bukan hanya penyampai materi, melainkan teladan hidup. Dalam perjumpaan langsung, murid belajar tentang ketekunan, empati, dan cara menghadapi kegagalan. Inilah yang tak bisa digantikan oleh mesin. Sentuhan manusiawi, perhatian, dan dialog dua arah adalah inti pendidikan.
Ketika digitalisasi mengikis interaksi ini, ada risiko lahir generasi yang pintar secara kognitif, tetapi miskin secara emosional dan moral. Guru, dengan segala keterbatasannya, tetaplah pilar utama dalam membentuk kepribadian murid.
Waktu: Melawan Budaya Instan
Ilmu sejati tak pernah lahir secara instan. Ia tumbuh dari proses panjang: membaca berulang-ulang, menulis dan merevisi, berdiskusi, lalu merenung. Semua itu memakan waktu.
Budaya digital yang serba cepat sering bertentangan dengan prinsip ini. Generasi sekarang terbiasa dengan scrolling, dengan potongan informasi singkat, dengan video satu menit. Akibatnya, kesabaran untuk menekuni teks panjang dan kompleks makin menipis.
Padahal, hikmah lahir dari perendaman, bukan dari kilasan. Waktu panjang dalam belajar adalah investasi untuk membangun keteguhan berpikir. Tanpa itu, pendidikan akan melahirkan generasi serba tahu tapi dangkal, cepat tanggap tapi rapuh.
Pendidikan dan Ancaman Generasi Lemah
Refleksi enam bekal ini membawa kita pada pertanyaan lebih luas: untuk apa semua ini? Jawabannya jelas: agar kita tidak meninggalkan generasi lemah. Lemah bukan hanya berarti miskin secara ekonomi, tetapi juga miskin wawasan, miskin karakter, miskin daya juang.
Prof. Syamsul (Guru Besar UMM) pernah mengingatkan, pendidikan adalah faktor nomor wahid dalam mengentaskan kemiskinan, sebagaimana tercantum dalam agenda Sustainable Development Goals (SDGs). Pendidikan adalah kunci untuk memutus rantai kemiskinan struktural maupun kultural.
Namun, jika pendidikan kehilangan ruhnya karena terlalu tergesa mengejar digitalisasi, kita justru sedang mencetak generasi lemah dalam bentuk baru: generasi yang mahir mengoperasikan teknologi, tetapi miskin kesadaran sosial; generasi yang pandai mencari jawaban, tetapi lemah dalam menghadapi kenyataan.
Menjaga Eksistensi Manusia dalam Pendidikan
Gelombang transformasi digital memang tak terelakkan. Tetapi, ia tidak boleh mengikis wajah manusia dari dunia pendidikan. Pendidikan tetaplah sebuah perjumpaan—antara guru dan murid, antara teks dan pengalaman, antara ilmu dan kebijaksanaan.
Enam bekal yang diwariskan ulama klasik memberi kita pengingat: teknologi hanyalah alat, bukan tujuan. Kecerdasan, semangat, kesungguhan, modal, adab, dan waktu panjang adalah fondasi yang tak bisa digantikan oleh algoritma.
Maka, di tengah gempuran kecerdasan buatan, mari kita rawat kecerdasan manusiawi. Di tengah derasnya arus informasi, mari kita jaga semangat belajar. Di tengah godaan instan, mari kita perpanjang kesungguhan. Dan yang paling penting, di tengah dominasi mesin, mari kita pertahankan sentuhan guru sebagai sumber hikmah yang tak lekang oleh zaman.
Karena pada akhirnya, ilmu sejati bukan sekadar hasil download. Ia lahir dari perjalanan panjang yang berbekal enam hal itu, agar generasi yang tumbuh bukanlah generasi lemah, melainkan generasi yang berdaya, berilmu, dan berkarakter.
Editor: Zahfa Almedina