Rabu, Oktober 7, 2026
Kalimahsawa.ID
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
Kalimahsawa.ID
No Result
View All Result

Kosmopolitan Islam Berkemajuan: Konsep dan Penerapannya dalam Gerakan Muhammadiyah

Salsabila Oktaviana Falih by Salsabila Oktaviana Falih
Mei 12, 2026
in Esai, Narasi
0
Kosmopolitan Islam Berkemajuan: Konsep dan Penerapannya dalam Gerakan Muhammadiyah
22
SHARES
129
VIEWS

Oleh: Salsabila Oktaviana Falih

Islam dikenal sebagai agama yang rahmatan lil ‘alamin, yaitu membawa kasih sayang, kedamaian, dan kesejahteraan bagi seluruh alam semesta, tanpa batasan ruang, waktu, maupun golongan. Ajaran Islam tidak hanya berisi pedoman hubungan manusia dengan Tuhan, tetapi juga aturan hubungan antarmanusia dan manusia dengan alam. Oleh karena itu, ajaran ini bersifat kekal, relevan, dan mampu menjawab berbagai tantangan yang muncul di setiap zaman, mulai dari masa Nabi Muhammad SAW, masa perkembangan peradaban, hingga di era teknologi dan globalisasi seperti saat ini.

TulisanTerkait

Refleksi Tahanan Politik Aksi 2025: Menulis untuk Rekan Juang yang Terpenjara

Ketika Prestasi Menjadi Ukuran: Membangun Organisasi Berbasis Meritokrasi

Wacana Digitalisasi Ikatan: Mengapa Satu Data IMM penting?

Muhammadiyah sebagai gerakan dakwah Islam berkemajuan memegang teguh pemahaman tersebut. Muhammadiyah meyakini bahwa Islam bukanlah agama yang kaku, tertutup, atau terbelakang. Sebaliknya, Islam adalah agama yang maju, terbuka, dan mendorong umatnya untuk terus berkembang, berilmu, dan berbuat kebaikan seluas-luasnya. Dari keyakinan inilah lahir sebuah konsep besar yang disebut Kosmopolitan Islam Berkemajuan. Konsep ini bukan sekadar teori atau pemikiran semata, melainkan pandangan hidup, cara berpikir, dan langkah nyata yang dijalankan oleh seluruh warga Muhammadiyah. Tujuannya adalah agar umat Islam tidak hanya kuat dalam iman, tetapi juga cerdas dalam ilmu pengetahuan, terampil dalam bertindak, dan mampu memberikan manfaat yang besar bagi masyarakat, bangsa, dan negara.

 Dasar Pemikiran Kosmopolitan Islam Berkemajuan

Secara sederhana, Kosmopolitan Islam Berkemajuan adalah pandangan hidup dan gerakan yang menggabungkan dua hal besar: sifat Islam yang luas, terbuka, dan mencakup seluruh alam (kosmopolitan), serta semangat untuk terus maju, berkembang, dan berinovasi sesuai tuntutan zaman (berkemajuan).

Kata kosmopolitan berasal dari gabungan kata kosmos yang berarti alam semesta atau dunia, dan politis yang berarti warga. Jadi, kosmopolitan berarti warga dunia atau seseorang yang memiliki pandangan luas, tidak terkurung oleh batas sempit, dan merasa menjadi bagian dari seluruh umat manusia. Sifat ini sangat sesuai dengan ajaran Islam yang mengajarkan bahwa seluruh manusia berasal dari satu ayah dan ibu, yaitu Nabi Adam dan Hawa, sehingga kita semua adalah saudara. Islam mengajarkan kasih sayang kepada semua makhluk, tanpa membeda-bedakan suku, ras, warna kulit, agama, atau kedudukan sosial.

Sementara itu, kata berkemajuan berarti selalu bergerak ke arah yang lebih baik, tidak berhenti di satu titik, tidak puas dengan keadaan yang ada, dan terus berusaha meningkatkan kualitas diri, ilmu, serta amal. Muhammadiyah menempatkan sifat berkemajuan ini sebagai ciri khas gerakannya, karena meyakini bahwa Islam memerintahkan umatnya untuk berilmu, bekerja keras, dan memanfaatkan segala potensi yang ada di alam semesta demi kemaslahatan bersama.

Jika digabungkan, Kosmopolitan Islam Berkemajuan berarti pandangan hidup yang mengajarkan kita untuk memiliki hati yang luas, terbuka, penuh kasih sayang kepada siapa saja, namun juga memiliki semangat yang kuat untuk terus belajar, bekerja, dan memajukan kehidupan diri sendiri maupun orang lain, semuanya dilakukan atas dasar ajaran Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Dasar Pemikiran Utama

Konsep ini lahir dari pemahaman mendalam Muhammadiyah terhadap ajaran Islam. Ada tiga dasar utama yang menjadi pondasi konsep ini:

Pertama, Islam adalah agama rahmatan lil ‘alamin.

Hal ini tertulis jelas dalam Al-Qur’an Surah Al-Anbiya ayat 107: “Dan Kami tidak mengutus engkau, melainkan untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam.” Ayat ini menjadi landasan utama bahwa tugas seorang Muslim adalah membawa kebaikan, kenyamanan, dan kedamaian bagi semua makhluk, bukan hanya untuk diri sendiri atau sesama Muslim saja. Karena rahmat Allah itu luas, maka pandangan hidup umat Islam pun harus luas dan terbuka, tidak boleh sempit atau mengutamakan golongan sendiri saja.

Kedua, Ilmu pengetahuan adalah wahyu Allah yang tersebar di alam semesta.

Muhammadiyah meyakini bahwa wahyu Allah ada dua: wahyu yang tertulis yaitu Al-Qur’an, dan wahyu yang tersebar yaitu alam semesta beserta segala isinya. Oleh karena itu, mencari ilmu pengetahuan, teknologi, dan mempelajari hukum alam adalah kewajiban agama. Umat Islam tidak boleh menolak kemajuan ilmu pengetahuan, justru wajib menguasainya agar bisa memahami ciptaan Allah dan menggunakannya untuk kebaikan. Inilah inti dari sifat berkemajuan.

Ketiga, Tujuan hidup manusia adalah untuk menjadi hamba yang taat dan pemimpin di muka bumi.

Dalam ajaran Islam, manusia memiliki dua peran utama: sebagai hamba Allah yang wajib beribadah, dan sebagai khalifah atau pemimpin/pengelola bumi. Sebagai khalifah, manusia bertugas mengelola alam, menciptakan peradaban yang baik, menyelesaikan masalah, dan mensejahterakan sesama. Untuk menjalankan tugas ini, manusia harus maju, berilmu, dan memiliki kemampuan yang mumpuni.

Berdasarkan ketiga dasar inilah, Muhammadiyah meyakini bahwa Islam dan kemajuan itu tidak bertentangan. Justru, kemajuan yang sejati adalah kemajuan yang berlandaskan nilai-nilai Islam, dan Islam akan terlihat keindahannya ketika dijalankan oleh umat yang maju, cerdas, dan beradab.

Bidang Utama Gerakan Kosmopolitan Islam Berkemajuan

Dalam menjalankan misi mewujudkan masyarakat yang berkemajuan dan kosmopolitan, Muhammadiyah tidak hanya bergerak di bidang ibadah atau keagamaan saja. Gerakan ini menyentuh aspek-aspek penting kehidupan manusia yang menjadi penunjang kesejahteraan. Ada tiga bidang utama yang menjadi fokus utama amal usaha Muhammadiyah, yang sekaligus menjadi ciri khas dari penerapan konsep ini:

Bidang Kesehatan

Kesehatan adalah kebutuhan dasar manusia yang paling utama. Tanpa kesehatan yang baik, seseorang sulit beribadah, sulit belajar, dan sulit bekerja. Muhammadiyah memahami hal ini, sehingga sejak awal berdirinya, Muhammadiyah telah mendirikan rumah sakit, puskesmas, klinik, hingga pos pelayanan kesehatan di berbagai pelosok negeri.

Penerapan nilai kosmopolitan dalam bidang kesehatan terlihat dari semboyan dan praktik pelayanannya: melayani siapa saja tanpa membedakan latar belakang. Pasien yang datang ke rumah sakit Muhammadiyah bisa berasal dari suku apa saja, agama apa saja, kaya atau miskin. Muhammadiyah tidak memandang itu semua, karena menurut pandangan Islam, membantu orang yang sakit adalah kewajiban kemanusiaan dan bagian dari ibadah.

Bidang Pendidikan

Pendidikan adalah kunci utama kemajuan. Muhammadiyah meyakini bahwa kemunduran umat sering kali disebabkan oleh kebodohan dan ketidaktahuan. Oleh karena itu, Muhammadiyah menjadikan pendidikan sebagai amal usaha yang paling besar dan luas jangkauannya. Mulai dari Taman Kanak-Kanak, Sekolah Dasar, Sekolah Menengah, hingga Perguruan Tinggi, Muhammadiyah memiliki ribuan lembaga pendidikan yang tersebar di seluruh Indonesia bahkan hingga ke luar negeri.

Pendidikan menurut konsep Kosmopolitan Islam Berkemajuan bukan sekadar mengajarkan materi pelajaran agar siswa pintar saja. Lebih dari itu, pendidikan di Muhammadiyah bertujuan mencetak manusia yang utuh. Manusia yang utuh adalah manusia yang berilmu tinggi, berakhlak mulia, memiliki iman yang kokoh, serta memiliki semangat kreatif dan inovatif.

Dalam proses belajar mengajar, diterapkan nilai kosmopolitan dengan cara mengajarkan siswa untuk menghargai perbedaan, mencintai perdamaian, dan memahami bahwa ilmu pengetahuan itu milik seluruh manusia dan dikembangkan oleh berbagai bangsa. Sementara itu, nilai berkemajuan diterapkan dengan cara selalu memperbarui kurikulum, menggunakan metode pengajaran yang modern, mengajarkan teknologi, serta melatih siswa untuk berpikir kritis dan berani menciptakan hal baru.

Lulusan pendidikan Muhammadiyah diharapkan menjadi orang yang bisa membawa perubahan, mampu bersaing di dunia internasional, namun tetap kokoh berpegang pada nilai agama dan budaya bangsa.

Seluruh Amal Usaha Berlandaskan Al-Qur’an dan As-Sunnah

Hal yang membedakan amal usaha Muhammadiyah dengan organisasi sosial atau pendidikan lain adalah dasar pelaksanaannya. Segala langkah, kebijakan, dan usaha yang dilakukan Muhammadiyah, baik di bidang kesehatan, pendidikan, ekonomi, maupun sosial, semuanya didasari dan dijiwai oleh ajaran Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Artinya, membangun sekolah atau rumah sakit bukan sekadar kegiatan sosial biasa, melainkan dianggap sebagai bentuk ibadah kepada Allah SWT. Mengajar siswa, merawat pasien, atau membantu orang miskin dianggap sama nilainya dengan shalat atau puasa jika dilakukan dengan niat yang benar dan cara yang sesuai syariat.

Tiga Sikap Dasar dalam Kosmopolitan Islam Berkemajuan

Konsep Kosmopolitan Islam Berkemajuan tidak hanya terlihat dari amal usaha besar seperti rumah sakit atau sekolah saja, tetapi yang paling penting adalah tercermin dari sikap dan perilaku setiap individu warga Muhammadiyah maupun umat Islam pada umumnya. Ada tiga sikap dasar yang harus dimiliki dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, yaitu sikap sentris, sikap kritis, dan sikap dinamis. Berikut penjelasan lengkapnya:

Sikap Sentris (Berpusat pada Nilai Islam)

Sikap sentris berarti segala pemikiran, tindakan, dan perilaku kita harus selalu berpusat atau berlandaskan pada nilai-nilai murni ajaran Islam. Nilai-nilai ini bersumber langsung dari Al-Qur’an dan As-Sunnah, seperti kejujuran, keadilan, tanggung jawab, kasih sayang, keberanian, dan kebenaran.

Di tengah dunia yang berubah sangat cepat, di mana berbagai budaya, pemikiran, dan gaya hidup asing masuk dengan bebas, manusia sering kali bingung dan kehilangan arah. Ada yang ikut-ikutan budaya baru yang buruk, ada yang menolak mentah-mentah segala hal baru, ada yang terlalu bebas hingga melanggar norma, dan ada yang terlalu kaku hingga menolak kemajuan. Sikap sentris menjadi penunjuk arah agar kita tidak tersesat.

Sikap Kritis

Sikap kedua yang sangat penting adalah sikap kritis. Kata kritis sering disalahartikan sebagai suka mencela, mengkritik, atau mencari kesalahan orang lain. Padahal, makna sesungguhnya dari sikap kritis adalah kemampuan berpikir secara mendalam, teliti, bijak, dan objektif dalam menilai segala sesuatu.

Dalam konsep Kosmopolitan Islam Berkemajuan, sikap kritis berarti kemampuan kita untuk menilai perkembangan ilmu pengetahuan, budaya, adat istiadat, teknologi, maupun fenomena sosial yang ada di sekitar kita. Kita tidak boleh menerima begitu saja sesuatu yang baru, tetapi juga tidak boleh menolak begitu saja. Sikap kritis mengajarkan kita untuk menyaring: mengambil segala sesuatu yang baik, benar, bermanfaat, dan sesuai ajaran Islam; serta meninggalkan atau menolak segala sesuatu yang buruk, merusak, atau bertentangan dengan nilai agama dan kemanusiaan.

Sikap Dinamis

Sikap ketiga adalah sikap dinamis. Dinamis artinya bergerak, hidup, tidak diam, dan terus berubah ke arah yang lebih baik. Sikap ini adalah jiwa dari semangat berkemajuan.

Sikap dinamis berarti kita memiliki sifat terbuka terhadap perubahan. Kita sadar bahwa dunia ini selalu berubah, tidak ada yang tetap, dan ilmu pengetahuan terus berkembang setiap detiknya. Umat Islam tidak boleh bersikap pasrah, diam saja, atau merasa cukup dengan ilmu dan kemampuan yang dimiliki sekarang. Sikap dinamis mengajarkan kita untuk selalu belajar seumur hidup, berani berinovasi, dan mau mencoba gagasan-gagasan baru yang positif demi kemajuan umat, bangsa, dan peradaban.

 Kesimpulan

Kosmopolitan Islam Berkemajuan adalah pandangan hidup dan gerakan Muhammadiyah yang memadukan sifat Islam yang luas, terbuka, dan penuh kasih sayang, dengan semangat terus maju, berilmu, dan berinovasi sesuai tuntutan zaman. Konsep ini berlandaskan keyakinan bahwa Islam adalah agama rahmatan lil ‘alamin yang relevan di setiap masa, dengan tujuan mewujudkan kesejahteraan bersama.

.

Terkait

Tags: IslamMuhammadiyahPeradaban
Previous Post

Dua Hari yang Berbisik: Antara Keringat Buruh dan Masa Depan Pendidikan

Next Post

Muhammadiyah Society Versi 5.0: Menjawab Tantangan Zaman dengan Nilai Islam Berkemajuan

Salsabila Oktaviana Falih

Salsabila Oktaviana Falih

Next Post
Muhammadiyah Society Versi 5.0: Menjawab Tantangan Zaman dengan Nilai Islam Berkemajuan

Muhammadiyah Society Versi 5.0: Menjawab Tantangan Zaman dengan Nilai Islam Berkemajuan

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Tentang Kalimahsawa.id
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan
Contact Person: 085850332866

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.

No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.