Oleh: Nuraeni Zakiyyatunnisa
Pernah iri enggak sih sama orang yang punya kebiasaan-kebiasaan baik tiap harinya? Bisa bangun tanpa drama, baca buku tanpa dipaksa, olahraga rutin, dan melakukan habit lainnya tanpa merasa terbebani atau tersiksa. Kadang kita mikir mungkin itu emang udah bakat dia buat jadi manusia produktif, sedangkan kita buat bangun pagi aja malah keduluan sama ayam.
Tapi ternyata, kebiasaan baik itu bukan bakat bawaan. Semua itu dibentuk oleh kemampuan luar biasa otak yang namanya neuroplasticity.
Buat yang belum tahu apa itu neuroplasticity, aku jelasin dengan sederhana. Neuroplasticity adalah kemampuan otak untuk berubah, beradaptasi, dan membentuk koneksi baru sepanjang hidup kita. Kata neuro berarti sel saraf, dan plasticity berarti fleksibel dan dapat dibentuk.
Sekarang bayangkan sel-sel di otak kita seperti pedang. Pedang yang sering diasah akan semakin tajam, kuat, dan efektif. Sebaliknya, pedang yang jarang diasah akan menjadi tumpul dan bahkan tidak bisa digunakan lagi.
Sama halnya dengan otak kita. Dalam otak, “mengasah” itu adalah mengulangi aktivitas yang sama—seperti membaca buku, scrolling media sosial, atau aktivitas lainnya. Semakin sering melakukan sebuah aktivitas, semakin kuat koneksi antara neuron. Dan inilah yang membentuk kebiasaan seseorang.
Misalnya, kita terbiasa scrolling Instagram atau TikTok setiap hari dalam waktu yang cukup lama. Sel-sel saraf di otak akan memperkuat koneksinya dan terbentuklah kebiasaan scrolling itu.
Mekanisme yang sama juga berlaku untuk kebiasaan baik. Kalau kita membiasakan diri membaca buku mulai dari 5 menit setiap hari, olahraga ringan sebentar, atau sekadar menulis beberapa kalimat, dan dilakukan secara konsisten, otak akan membangun koneksi yang kuat. Lama-lama aktivitas itu jadi otomatis—sama seperti kita scrolling tanpa sadar.
Awalnya memang terasa berat. Bikin kebiasaan baru itu ibarat perang saudara di dalam otak. Soalnya, sel-sel saraf lama koneksinya kuat dan ngeyel. Mereka punya energi yang lebih dominan karena sudah terbentuk dari kebiasaan bertahun-tahun. Jadi ya jelas mereka lebih kuat.
Itulah kenapa bangun habit baru terasa susah. Sementara itu, sel-sel saraf baru yang mau kita bentuk masih anak bawang—cupu, lemah, dan gampang kalah sama sel-sel saraf yang lama. Butuh latihan rutin dan konsisten supaya mereka bisa tumbuh kuat dan akhirnya mendominasi.
Saat sel-sel saraf baru mulai kuat dan koneksinya kokoh, sel-sel lama akan melemah atau bahkan hilang karena jarang dipakai. Itu tandanya kebiasaan baru kita berhasil menggantikan kebiasaan lama. Sampai akhirnya, kebiasaan baru itu enggak lagi terasa baru. Dia udah resmi jadi tuan rumah di otak kita.
Dan di sinilah banyak orang menyerah. Bukan karena mereka lemah, tapi karena otaknya belum punya “jalan tol” buat kebiasaan baru itu. Ibaratnya, kita maksa lewat jalan kecil yang sempit dan jelek. Ya capek, wajar. Sementara kebiasaan lama sudah punya jalan yang lebar, mulus, banyak jalur, dan tanpa batasan. Siapa yang enggak tergoda lewat jalan kayak gitu?
Makanya, wajar kalau di awal-awal kita sering kalah sama rasa malas. Itu bukan berarti kita enggak bisa berubah. Itu cuma tanda kalau sel-sel saraf baru kita masih bayi dan belum kuat buat ngalahin sel-sel saraf sepuh.
Menariknya, otak sebenarnya enggak pernah minta kita berubah besar-besaran. Yang otak mau cuma satu: pengulangan. Kecil, tapi konsisten. Sedikit demi sedikit—membaca buku 5 menit, olahraga ringan sebentar, atau menulis satu paragraf. Yang dibutuhkan untuk membangun kebiasaan itu bukan skalanya yang besar, tapi kualitas dan konsistensinya. Otak enggak suka drama; yang dia suka adalah repetisi.
Repetisi kecil inilah yang bikin sel-sel saraf baru tumbuh otot. Yang awalnya cuma remahan listrik, lama-lama jadi kuat dan percaya diri. Sampai akhirnya, kebiasaan lama melemah dan tersingkir karena jarang dipakai. Saat itulah kebiasaan baru terasa seperti rumah. Enggak malu-malu lagi, enggak berat, dan enggak terasa dipaksa. Dia hadir kayak refleks—seakan-akan udah ada dari dulu. Padahal, itu hasil dari latihan kecil-kecilan yang rutin dilakukan setiap hari.
Dengan kata lain, otak beradaptasi dengan kebiasaan pemiliknya. Kalau pemiliknya sering membaca, koneksi saraf yang terkait fokus, literasi, dan pemahaman makin kuat. Kalau pemiliknya sering scrolling medsos tanpa henti, koneksi saraf terkait impuls, kecepatan, dan reward instan juga bakal diperkuat. Otak itu enggak pilih-pilih mana kebiasaan baik atau buruk. Dia cuma memperkuat hal yang sering kita ulangi.
Dan menariknya lagi, ilmuwan menemukan bahwa otak tetap plastis seumur hidup. Artinya, bukan cuma anak kecil yang bisa mengubah otaknya—orang umur 20, 30, bahkan 60 tahun pun bisa membentuk koneksi baru. Kabar baik kan? Jadi enggak ada alasan buat enggak berubah kebiasaan.
Pada akhirnya, membangun kebiasaan baru itu bukan soal nunggu motivasi datang kayak rumput kering nunggu hujan. Bukan juga soal berubah jadi manusia produktif dalam semalam. Membangun kebiasaan itu ya ibarat nyicil, ngulang, dan konsisten. Sekecil apa pun usahanya, otak bakal ngikut.
Jadi, kalau besok-besok kamu masih kalah sama rasa malas, keep calm. Kita itu manusia, bukan robot. Yang penting kamu enggak berhenti buat terus mencoba. Toh, hidup ini bukan lomba siapa yang paling rajin.
Intinya, jangan nyerah. Kalau gagal, ya coba lagi. Yang penting tetap jalan—pelan enggak apa-apa, asal enggak berhenti.
Editor: Zahfa Almedina