Rabu, Oktober 7, 2026
Kalimahsawa.ID
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
Kalimahsawa.ID
No Result
View All Result

Kacamata Barat dalam Memandang Kodrat Perempuan Jawa

RedaksiKS by RedaksiKS
Juli 16, 2023
in Filsafat
0
pixabay
19
SHARES
113
VIEWS

Perempuan adalah makhluk yang secara fisik dianggap lemah. Dibandingkan dengan laki-laki yang digambarkan dengan simbol kekuatan serta keberanian, perempuan cenderung digambarkan dengan kelemahan dan tidak dapat melindungi dirinya sendiri serta membutuhkan perlindungan dari orang lain.

Identik dengan kelemahan, perempuan juga dianggap memiliki kodrat yang harus ia lakukan. Di Indonesia sendiri, terdapat suku-suku yang masih mengusung kebiasaan mereka terutama hal-hal yang berkaitan dengan perempuan.

TulisanTerkait

Rausyanfikr di Era Digital: Membaca Peran Intelektual Muda melalui Pemikiran Ali Syariati

Membaca Gaya Hidup Generasi Digital melalui Perspektif Jean Baudrillard

Amor Fati: Ketika Mencintai Takdir Menjadi Bentuk Tertinggi dari Kebebasan Jiwa

Salah satunya adalah suku Jawa. Suku Jawa merupakan suku di Indonesia yang terkenal dengan tutur kata yang lembut dan menjunjung tinggi tata krama. Merupakan suku yang sangat kuat dalam melestarikan adat dan tradisi nenek moyang. Seperti halnya perempuan Jawa, dalam melakukan sesuatu, mereka terikat dengan nilai-nilai budaya dan tradisi yang ada.

Mereka tidak bisa bebas dalam melakukan eksistensi diri baik dalam lingkup keluarga maupun masyarakat. Terikat dengan nilai-nilai budaya tradisional seperti anggapan bahwa kodrat perempuan itu sebatas pada tiga hal, macak (merias diri), masak (memasak/urusan dapur), dan manak (melahirkan) sehingga gerak perempuan Jawa menjadi terbatas.

Apalagi bila perempuan Jawa sudah menikah, maka kedudukannya berada di bawah suaminya. Selain itu, pembagian tugas di kehidupan berkeluarga juga condong kepada persepsi tradisional seperti pembedaan secara kodrati antara perempuan dan laki-laki.

Ruang lingkup perempuan dibatasi hanya pada aspek tersebut, dengan begitu membuat image perempuan menjadi lemah dan terkekang dalam mengaktualisasikan dirinya.

Terkenal dengan keramahan dan kelemah-lembutannya, para perempuan di Jawa sangat kental dalam mengusung tradisi mereka. Tata krama yang sangat dijunjung tinggi juga telah diajarkan sejak kecil. Tak heran bila tindak-tanduk atau perilaku mereka juga terbatasi dengan tradisi mereka.

Kerap kali perempuan dipandang kedudukannya melalui perbedaan seks hingga muncul ungkapan kanca wingking. Kultur di Jawa memang sangat luhur dalam memandang seluruh aspek kehidupan, termasuk juga mengenai perempuan.

Bahkan pada zaman dulu, hanya laki-laki saja yang dapat menimba ilmu, berperan dalam kerajaan/negara dan bahkan hanya laki-laki yang diperbolehkan bekerja. Sedangkan perempuan dihadapkan dengan urusan rumah saja. Otomatis pengetahuan dan keahlian mereka sangat minim dan menjadikan mereka bergantung kepada laki-laki.

Dahulu banyak orang Jawa yang menikahkan anak perempuannya yang masih dibawah umur. Karena di anggap menjadi aib bilamana tidak segera mendapatkan pasangan. Seakan-akan perempuan Jawa di anggap sudah dewasa bukan terletak pada umur, tetapi pada keahlian mereka dalam mengurus rumah.

Kebiasaan tersebut sudah sangat lazim di Jawa, bahkan hingga saat ini kebiasaan tersebut masih terjadi di pelosok desa. Di zaman milenial sekarang, segala aspek yang di butuhkan dalam kehidupan sudah sangat maju. Di barengi dengan lahirnya ide menyetarakan gender.

Dengan kesetaraan gender, perempuan juga berhak mendapatkan pendidikan, pekerjaan dan bahkan masuk dalam ranah politik. Kesetaraan gender ini di usung oleh Barat. Lantas, bagaimana pandangan negara lain khususnya orang Barat dalam memandang terkait fenomena perempuan Jawa ?

Di belahan dunia Barat, kehidupan mereka sangat maju dalam hal apapun. Mulai dari teknologi, pendidikan dan sumber daya manusia yang sangat modern. Jika di bandingkan dengan kultur dan budaya di Indonesia yang masih sangat kental, maka keduanya sangat berbanding terbalik.

Pandangan mereka akan perempuan Jawa adalah budaya patriarki yang masih di pelihara hingga sekarang. Di Barat sendiri juga telah ada pergerakan yang memiliki tujuan yakni mengangkat perempuan dan menyetarakan antara laki-laki dan perempuan. Gerakan tersebut di sebut dengan Feminisme.

Gerakan ini berusaha memperjuangkan hak-hak perempuan agar di samaratakan. Maka Barat memandang perempuan Jawa kurang akan gerakan pembelaan terhadap mereka. Hal tersebut yang membuat perempuan Jawa lemah.

Barat yang juga sangat sensitif akan budaya dan agama memandang bahwa keduanya merupakan aspek yang juga menghambat perkembangan perempuan Jawa. Karena terdapat batasan-batasan yang hanya sepenuhnya di miliki oleh laki-laki dan tidak boleh di lakukan oleh perempuan.

Selain itu, minimnya gerakan-gerakan atau perkumpulan perempuan yang bertujuan mengangkat derajat perempuan. Di Indonesia, sebenarnya telah ada tokoh pahlawan yang berusaha memperjuangkan hak perempuan. Tokoh tersebut bernama Raden Ajeng Kartini yang juga berasal dari Jawa.

Beliau berusaha memperjuangkan hak perempuan seperti hak pendidikan. Di balik Barat yang memandang perempuan Jawa kurang tegas dalam memperjuangkan hak-haknya, namun tidak semua perempuan Jawa lemah dan tertindas. Terdapat beberapa contoh seperti pada zaman kerajaan masih berjaya di Indonesia, banyak kerajaan yang juga di pimpin oleh Ratu.

Seperti Ratu Shima (Kerajaan Kalingga), Ratu pramodawardhani (Kerajaan Mataram Kuno), dan Ratu Tribhuwana Tunggadewi (Kerajaan Majapahit). Mereka memimpin kerajaan dengan adil, sehingga salah satu dari mereka pernah membawa kerajaannya kepada masa kejayaan dan pernah menakhlukkan pemberontakan yang di anggap sangat membahayakan bagi seorang perempuan.

Selain itu, terdapat penjelasan mengenai pelurusan kodrat perempuan. Kodrat adalah berasal dari Sang Pencipta, bukan merupakan buatan atau klaim dari manusia. Kodrat perempuan bukan pada ketiga aspek tersebut (macak, masak, manak), namun kodrat perempuan yang sesungguhnya adalah menstruasi, hamil, melahirkan dan menyusui.

Karena mereka tidak akan dapat menyangkal hal tersebut di karenakan merupakan sebuah anugerah dari Tuhan yang di titipkan pada mereka. Jadi, kodrat yang di maksudkan membuat lemah perempuan tersebut merupakan hasil dari kekeliruan terhadap pemahaman gender yang sebenarnya.

Penulis : Eka Ananda Sari (Mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya)

Terkait

Previous Post

Memeluk Quarter Life Crisis dengan Bersyukur

Next Post

Pentingkah Fear of Missing Out ?

RedaksiKS

RedaksiKS

Kalimahsawa.id hadir atas kesadaran bahwa pluralitas merupakan sesuatu yang tak terelakkan dan bahwa keragaman tak harus menjadi keseragaman. Dalam konteks keindonesiaan, Negara Pancasila merupakan titik temu pemikiran antara keislaman, kemoderenan dan keindonesiaan secara harmonis.

Next Post
sumber : detik.com

Pentingkah Fear of Missing Out ?

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Tentang Kalimahsawa.id
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan
Contact Person: 085850332866

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.

No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.