Apakah Tuhan hanya milik segolongan tertentu. Kemudian berhak ditafsir, menduga, dan membuat prototype yang diingini sesuai kehendak. Itu mungkin Tuhanmu, Tuhan mereka, bukan Tuhan kita, apalagi Tuhanku. Bukan Tuhan Yang Maha Luas.
***
Maka jangan heran meski sama-sama menyebut Allah, Mu’tazilah, Jahamiyah, Wahabi dan Ahlu Sunnah pengikut kalam Asy’ary berbeda menafsiri Uluhiyah, Rubbubiyah, dan Ubudiyah. Bahkan kerap ‘tukaran’ saling mengkafirkan. Sesama iman saja berbeda, lantas bagaimana yang lain bisa mengenal Tuhan yang mudah disebut, mudah dimengerti, dan hadir.
Adapun Saya mengenal Tuhan lewat doktrin surat Al-Ikhlas. Yaitu Tuhan yang Ahad. Tuhan yang tidak bergantung pada makhluk. Tidak beranak apalagi diperanakkan. Tuhan yang tidak berserupa dengan apapun.
Terhadap saintis yang picik, dengan geram Albert Einstein berkata: ‘Siapa yang mengenal hakikat penelitian ilmiah hanya dari buah- buah praktisnya, ia akan mudah jatuh ke dalam pemahaman yang keliru atas akal budi manusia, yang jejaknya terserak diberbagai negeri di bumi ini selama berabad-abad”.
baca juga: Memuji China yang Dibenci
Einstein mengenal Tuhan bukan lewat doktrin surat Al-Ikhlas atau ritual ‘agama Ibrahimi’ yang dikenal kaku dan rigid. Bukankah Nabi Ibrahim as juga pernah melakukan eksplorasi atas alam, matahari, bulan, dan bintang untuk mencari Tuhannya. Sesuatu yang dianggap lebih besar dari dirinya. Atau Musa as yang ingin melihat Tuhan dalam wujud material sebagaimana kebiasaan orang Yahudi.
Einstein pun berdialog dengan semesta dan mendapatkan Tuhan ada di sana. Bukan Tuhan yang biasa ditemui pada saat sujud atau butiran-butiran tasbih seperti lazimnya.
Galileo menafsir Tuhan dengan matematika. Einstein menyimaknya dengan ketakjuban. Agamaku adalah rasa kagum yang daif kepada kekuatan intelektual yang tak terhingga. “Einer unbegrenzten geistigen Macht”, yang menampakkan dirinya dalam hal paling kecil, yang kita tangkap dengan pikiran kita yang lemah dan tak utuh.Eisntein pun percaya Tuhan, tapi bukan Tuhan dalam doa Yahudi, Kristen, dan Islam. Tuhan Einstein bukan “person” yang minta disembah, memberkahi, dan mengutuk. Tuhan bagi Einstein adalalah “kehadiran satu kecerdasan intelektual, (einer geistigen Intelligenz), yang terungkap dalam alam semesta yang tak dapat dipahami”.
Sayangnya banyak yang saling menghakimi karena sikap heretik dianggap menyimpang dan menyeleweng. Maka Tuhan Yang Maha Luas direduksi dalam pikiran sempit. Tuhan Yang Maha Kuat direduksi dalam pikiran yang dhaif. Tuhan Yang Maha Alim direduksi dalam pikiran yang jahil. Tuhan Yang Maha Pemaaf direduksi dalam pikiran pendendam.
Tuhan Yang Maha Luas
Jadi kapan ibadat bisa menyibak rahasia Tuhan jika pikiran-pikiran pada kuantitas duniawi masih dominan. Mungkin saja telah gugur kewajiban sebagai hamba untuk menyembah, tapi bisakah setiap hamba mengenal Tuhan dalam wujud yang original dan menyatu, seperti yang ditemukan Hallaj, Ibrahim bin Adham, Yazid Bustami, atau Tuhan yang rigid dan disiplin seperti yang ditemukan Muhammad bin Abdul Wahab, Utsaimin, atau al Albani dalam perspektif Uluhiyah, Rubbubiyah dan Ubudiyah? Atau Tuhannya Kang Sedjo yang polos rindukan bulan dalam kesederhanaan dan kesejatian tanpa konsep dan perspektif. Wallahu Taala a’lam
Editor: Yusuf R Y