Islam moderat merujuk pada spektrum yang luas dari kepercayaan dan praktik dalam agama Islam yang menekankan moderasi, toleransi, dan hidup berdampingan secara damai dengan pemeluk agama lain. Penting untuk dicatat bahwa Islam, seperti agama-agama besar lainnya, mencakup berbagai macam interpretasi dan perspektif. Istilah “Islam moderat” sering digunakan untuk membedakannya dengan interpretasi ekstremis atau fundamentalis terhadap agama ini.
Muslim moderat umumnya menganut prinsip-prinsip inti Islam, seperti kepercayaan pada satu Tuhan (Allah) dan ajaran Nabi Muhammad. Tetapi mereka menafsirkan prinsip-prinsip ini dengan cara yang mempromosikan koeksistensi damai, menghormati hak asasi manusia, dan keterlibatan dengan masyarakat yang lebih luas. Mereka menolak ekstremisme, kekerasan, dan intoleransi, dan sebaliknya mengadvokasi pemahaman, dialog, dan keharmonisan sosial.
Muslim moderat sering kali menekankan ajaran-ajaran etis Islam. Termasuk kasih sayang, keadilan, dan belas kasihan, dan mereka berusaha untuk menerapkan prinsip-prinsip ini dalam kehidupan pribadi mereka dan dalam interaksi mereka dengan orang lain. Mereka percaya akan kesesuaian Islam dengan nilai-nilai modern. Dan berusaha untuk mempromosikan pemahaman yang seimbang tentang iman yang mempertimbangkan konteks sosial dan budaya di mana mereka tinggal.
Penting untuk diketahui bahwa istilah “Islam moderat” bukanlah sebutan resmi yang diterima secara universal. Islam adalah agama yang beragam dengan berbagai interpretasi dan perspektif. Setiap individu dan komunitas memiliki pandangan yang berbeda tentang apa yang dimaksud dengan moderasi dalam agama Islam.
Moderasi dalam konteks agama Islam merujuk pada upaya untuk membawa pembaruan dan adaptasi. Dalam hal ajaran dan praktik agama sesuai dengan zaman dan perkembangan sosial. Tujuan utama dari moderisasi adalah menjaga relevansi agama dalam kehidupan modern dan mempromosikan toleransi, inklusi, dan pemahaman yang lebih baik antara umat beragama. Berikut ini adalah beberapa aspek moderasi dalam beragama:
- Interpretasi yang kontekstual: Moderisasi melibatkan penafsiran ulang ajaran agama dengan mempertimbangkan konteks zaman dan realitas sosial saat ini. Ini berarti memahami ajaran agama dalam kerangka waktu dan tempat yang berbeda untuk memenuhi kebutuhan umat dan menangani masalah kontemporer.
- Kesetaraan gender: Moderisasi agama sering kali melibatkan perjuangan untuk mencapai kesetaraan gender dalam ajaran dan praktik agama. Hal ini melibatkan penafsiran ulang terhadap peran dan tanggung jawab gender dalam komunitas agama, serta mengatasi ketidakadilan dan diskriminasi yang mungkin terjadi.
- Dialog antaragama: Moderisasi berupaya untuk mempromosikan dialog antara pemeluk agama yang berbeda untuk membangun pemahaman dan toleransi yang lebih baik. Ini melibatkan kolaborasi dalam mencari solusi untuk masalah sosial bersama, meningkatkan pemahaman terhadap keyakinan dan praktik agama lain, serta menghormati perbedaan dan pluralitas agama.
- Relevansi dalam konteks sosial: Moderisasi berusaha agar ajaran agama tetap relevan dan berarti dalam konteks sosial saat ini. Hal ini melibatkan adaptasi dan penyesuaian ajaran agama dengan perubahan sosial, termasuk isu-isu seperti teknologi, bioetika, hak asasi manusia, dan tantangan sosial lainnya.
- Pendidikan agama yang inklusif: Moderisasi berupaya memperkenalkan pendidikan agama yang inklusif dan berimbang, di mana nilai-nilai universal seperti cinta kasih, keadilan, dan perdamaian ditekankan, sementara menghormati perbedaan keyakinan dan membangun pemahaman yang lebih baik tentang agama-agama lain.
Meskipun moderisasi dalam beragama penting untuk menjaga relevansi agama dalam masyarakat modern. Hal ini juga dapat menimbulkan perbedaan pendapat dan kontroversi di kalangan pemeluk agama. Oleh karena itu, penting untuk melibatkan dialog dan membangun kesepahaman dalam proses moderisasi. Agar dapat mencapai tujuan yang lebih inklusif dan harmonis.
Keterkaiatan Islam moderat menurut buya Syafi’i Ma’arif merupakan sikap toleransi dan saling pengertian antara umat Muslim dan non-Muslim. Ia menekankan pentingnya hidup berdampingan dengan damai dalam masyarakat yang multikultural. Di karenakan beliau di kenal dengan pandangan yang moderat. Dan selalu memainkan peran penting dalam mempromosikan pemahaman yang inklusif dan moderat dalam Islam.
Pada salah satu penekanan beliau ialah “Islam Wasatiyyah” suatu pendekatan atau yang dapat di artikan dengan pendekatan tengah atau moderat dalam beragama. Ia berpendapat bahwa Islam harus menjaga keseimbangan antara agama dan kehidupan dunia, serta antara tekstualitas dan kontekstualitas. Dalam wilayah ini beliau mendukung dialog antaragama sebagai cara untuk memperdalam pemahaman dan mengatasi perbedaan. Ia memperjuangkan kerja sama dan saling menghormati antara pemeluk agama yang berbeda.
Buya Syafi’i Ma’arif meyakini bahwa pendidikan dan pengembangan ilmu pengetahuan adalah kunci untuk melawan kebodohan dan mendorong pemahaman yang lebih baik tentang agama. Ia mengadvokasi pendidikan yang inklusif dan ilmiah yang memungkinkan umat Islam untuk beradaptasi dengan perubahan zaman. Secara tegas beliau menolak ekstremisme, baik dalam bentuk kekerasan fisik maupun intoleransi ideologi. Ia berupaya membangun kesadaran umat Islam untuk menghindari radikalisme dan terorisme.
Penulis : Ava Fahmi Yusif Elfiqri (Mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya)