Oleh: Azhar Ardiansyah Al Aziz (PC IMM Sukoharjo)
Di era digital, banyak sumber informasi yang menyebar (big data). Ini menjadi sebuah tantangan baru kepada kita yang mengharuskan kita memiliki kompetensi agar bisa cermat dalam mendapat informasi tertentu, karena tidak semua informasi yang menyebar luas di media sosial valid, faktual, dan informatif. Tentu kita tidak dapat menghindari kemajuan teknologi yang ada di era sekarang, 5.0, mau tidak mau kita harus beradaptasi dengan kondisi yang ada. Terlebih, kita sebagai Generasi Z memiliki kecenderungan penuh dalam bersosial media dibanding generasi sebelumnya. Kira-kira, kompetensi apa yang harus kita miliki di era digitalisasi sekarang?
Era digital memiliki kelebihan dan juga kekurangan, dan hal itu tidak bisa kita pungkiri. Kelebihannya adalah kemudahan akses informasi yang dibutuhkan masyarakat. Masyarakat mempelajari informasi yang diperlukan lebih cepat, sehingga memengaruhi perkembangan keterampilan mereka sendiri. Selain dari itu, di era digital membawa kemajuan teknologi kepada penggunaan elektronik, mesin, dan kemudahan dalam memproduksi barang tertentu.
Dan di balik berbagai kemajuan di era digital pun memiliki kekurangan yang perlu kita pahami bersama. Rendahnya ketersediaan lapangan pekerjaan sebagai sumber daya manusia (SDM) telah tergantikan oleh teknologi digital. Banyak dari masyarakat mengalami PHK secara massal dikarenakan pekerjaan mereka tergantikan oleh mesin-mesin canggih yang ada. Selain itu, munculnya informasi digital yang tidak sesuai dengan kenyataan atau kebenaran (penipuan) merupakan dampak negatif di era digital karena rendahnya tingkat literasi informasi digital di masyarakat. Berita palsu disebarkan oleh orang-orang tidak bertanggung jawab yang memutarbalikkan beberapa fakta dan menyebabkan kegemparan publik. Oleh karena itu, untuk menghindari penipuan, orang harus terbiasa memisahkan informasi ini secara akurat dan andal dari berbagai sumber digital.
Perkaderan di IMM
Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) adalah organisasi otonom yang bernaung di bawah Persyarikatan Muhammadiyah yang bergerak di ranah mahasiswa, terutama di ranah intelektualitas, religiusitas, dan humanitas. 14 Maret 1964 menjadi tanggal lahir IMM yang diprakarsai oleh Moh. Djazman Al Kindi yang memiliki tujuan mengusahakan terbentuknya akademisi Islam yang berakhlak mulia dalam rangka mencapai tujuan Muhammadiyah. IMM memiliki kegiatan perkaderan yang di mana itu adalah suatu bentuk penanaman ideologi IMM. IMM telah berdiri, namun tetap eksis di mata para mahasiswa. Kenapa? Karena IMM memiliki keistimewaan tersendiri dalam perkaderannya. IMM menitikberatkan kepada para kader yang siap untuk melanjutkan tombak kepemimpinan di masa depan. Maka dari itu, dibutuhkan instruktur yang kompeten dalam memproyeksikan kader IMM yang militan.
Instruktur begitu penting dalam menunjang prosesi perkaderan atau prosesi penanaman ideologi dan tujuan IMM kepada kader. Tanpanya, IMM mungkin tidak akan berkembang, karena dengan instruktur tersebut perkaderan dan pengkaderan bisa berjalan. Di era digital ini, instruktur memiliki tantangan yang begitu kompleks. Para instruktur harus beradaptasi dengan apa yang ada di depan mata. Di balik semua itu, para instruktur harus berperan secara aktif dalam prosesi perkaderan. Bukan hanya sekadar menyampaikan ilmu secara formal, namun bagaimana para instruktur juga mampu menyalurkan nilai-nilai luhur kepada kader. Kira-kira di era digital seperti sekarang, apa yang menjadikan para instruktur ini memiliki kompetensi yang berbeda dari sebelumnya?
Perkaderan tradisional sepertinya akan mulai beralih ke perkaderan modern, yang di mana perkaderan yang masih menggunakan spidol, plano, dan alat tulis lainnya berganti menjadi membuat PPT di Canva yang akhirnya menambah skill baru dalam dunia editing. Semakin berkembangnya era digital, maka semakin berkembang pula kompetensi para instruktur IMM. Maka dengan hal itu, perkaderan di IMM pun akan terus berkembang menyesuaikan dengan kebutuhan kader dan kesesuaian zaman.
Instruktur Era Digital
Sebagai instruktur, kira-kira apa yang perlu disiapkan di era modern ini? Apa saja skill yang harus dikuasai para instruktur? Di era digital, yang perlu disiapkan oleh para instruktur yaitu mampu menggunakan berbagai platform digital seperti Canva, Adobe Illustrator (AI), dan lain sebagainya. Beberapa skill editing, writing, public speaking, storytelling, dan bonding menjadi standar utama yang harus dimiliki oleh seorang instruktur IMM di era digital. Pelatihan instruktur pun harus mengacu pada basis digitalisasi.
Seperti yang pernah dikatakan oleh seorang Khalifah Umar bin Khattab, yaitu “Didiklah anakmu sesuai dengan zamannya.” Dari kalimat tersebut dapat diambil sebuah pelajaran bahwasannya kita harus beradaptasi dengan era digitalisasi ini karena kader kita yang dominan berkecimpung di dunia digital, atau sering disebut juga Generasi Z. Hal itu membuat para instruktur harus pandai memutar otak dengan menyesuaikan perubahan yang ada. Konsep instruktur di era digital harus segera masuk dalam Sistem Perkaderan Ikatan (SPI) yang daripadanya seluruh instruktur di seluruh Indonesia punya acuan besar mengenai perkaderan di era ini.
Ini adalah sebuah kesempatan emas untuk para kader IMM dalam memajukan ikatan, baik dari sisi struktural maupun kultural IMM. Kesempatan ini hadir bukan hanya sekadar kata belaka, namun ini adalah fenomena yang terjadi saat ini dan daripadanya IMM dapat belajar banyak. Harapan untuk masa depan IMM adalah bisa menjadi pionir dalam segala lini kehidupan, bergerak dan berdampak dalam memajukan IMM dan juga Muhammadiyah tentunya. Semoga dengan tulisan yang apa adanya ini dapat memberikan semangat baru dan dapat menggugah para kader IMM di luar sana untuk senantiasa belajar bukan dari buku dan guru, namun bisa menginterupsi segala realitas yang ada.
TERBENTUR, TERBENTUR, TERBENTUK
Editor: Rafidah Azis