KALIMAHSAWA.ID, Surakarta – Pada Minggu, 5 Oktober 2025, Bidang Seni, Budaya, dan Olahraga (SBO) Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Misbach sukses menyelenggarakan kegiatan membatik bersama di area Car Free Day (CFD) Surakarta. Kegiatan ini merupakan bagian dari program kerja unggulan bertajuk “Berkain”, sebuah gerakan yang digagas untuk menumbuhkan kembali kecintaan terhadap budaya lokal, khususnya tradisi batik sebagai identitas bangsa.
Melalui kegiatan ini, IMM Misbach ingin menghadirkan ruang bagi masyarakat untuk tidak sekadar mengenal batik dari sisi estetika, tetapi juga memahami proses dan nilai filosofis yang terkandung di dalamnya. Di tengah hiruk pikuk CFD, stan membatik yang dibuka oleh tim SBO menjadi salah satu titik yang paling ramai dikunjungi.
Pengunjung diajak mencoba langsung membuat motif batik sederhana menggunakan canting dan malam. Bagi sebagian orang, pengalaman memegang canting untuk pertama kali terasa menantang, namun juga menyenangkan. Antusiasme masyarakat terlihat jelas — mulai dari penggiat batik, orang tua, remaja, hingga anak-anak turut serta meramaikan kegiatan ini.
Beberapa peserta bahkan tampak serius memperhatikan setiap tahapan, dari menggambar pola hingga menorehkan malam cair di atas kain mori. IMM Misbach juga memberikan hadiah menarik bagi empat peserta pertama yang berani mencoba membatik, sebagai bentuk apresiasi atas semangat mereka dalam melestarikan warisan budaya.
Meski sederhana, kegiatan ini berhasil menciptakan suasana kebersamaan yang hangat antara mahasiswa dan masyarakat. Lebih dari sekadar aktivitas seni, Berkain menjadi medium edukatif yang mengingatkan bahwa melestarikan budaya tidak harus dengan cara besar, tetapi bisa dimulai dari langkah kecil dan menyenangkan.
Dengan semangat Berkain, IMM Misbach berharap kegiatan seperti ini mampu menumbuhkan rasa bangga terhadap identitas bangsa, sekaligus memperkenalkan batik sebagai simbol kreativitas dan ketekunan. Budaya tidak seharusnya hanya disimpan sebagai kenangan, melainkan terus dihidupkan dalam keseharian.
Dari kegiatan membatik di CFD inilah, semangat cinta budaya dan karya lokal kembali bergema — mengajak generasi muda untuk tak sekadar
mengenakan batik, tetapi juga memahami makna dan perjuangan di balik setiap goresannya.
Kontributor: Rahma Alia Nurhidayah