Oleh: Afif Amrullah
Selain kebutuhan untuk makan dan minum, manusia juga membutuhkan belajar. Layaknya makan dan minum, manusia senantiasa belajar agar ia tetap bertahan hidup. Proses belajar pada mulanya berjalan secara perlahan, sederhana, dan otodidak, seiring adanya sistem pembelajaran sekolah, proses belajarpun menjadi lebih cepat, sistematis, dan terlembagakan.
Dalam perannya sebagai sarana transfer pengetahuan, sejauh ini, sekolah memang telah berhasil menyumbang kontribusi yang cukup signifikan. Sekolah telah banyak menghasilkan peserta didik dengan setumpuk pengetahuan di kepala mereka.
Namun, bila kita bandingkan banyaknya sekolah dengan jumlah lulusan yang dihasilkannya, dampak positif yang ditimbulkan oleh sekolah belumlah dikatakanmemakau. Bahkan, peserta didik yang dinyatakan cerdas lagi berprestasi sewaktu di sekolah pun ketika telah lulus dari sana dan berada di tengah masyarakat justru tidak mampu memberikan suatu kontribusi apapun.
Ilmu pengetahuan yang mereka peroleh sewaktu di sekolah tampak tidak operatif dalam kehidupan nyata. Seolah prestasi yang didapat semasa di sekolah adalah prestasi semu belaka.
Baca Juga: Dua Syarat Pendidikan Holistik: Berorientasi Nilai dan Beyond Classroom
Problematika sekolah seperti di atas, secara lebih lanjut dapat kita jumpai pembahasannya dalam buku: “Memulihkan Sekolah Memulihkan Manusia: Meluruskan Kembali Falsafah Pendidikan Kita”. Dari judul yang dipilih, kita sudah bisa menangkap asumsi bahwa ada yang sedang sakit, cedera, atau bahkan konflik pada sistem sekolah atau pendidikan kita hingga perlu untuk disembuhkan, diluruskan kembali.
****
Menurut Haidar Bagir—penulis buku tersebut—sekolah belakangan ini telah beralih fungsi menjadi arena indoktrinasi, sehingga proses pembelajaran di dalamnya cenderung berjalan satu arah, vertikal: lebih menonjolkan sosok guru sebagai subjek dan murid sebagai objek (h. 19).
Tentu saja tuduhan semacam ini tidaklah asing lagi di telinga kita, pendapat serupa juga pernah dikemukakan oleh beberapa tokoh lain, sebut saja seperti: Ivan Illich dengan De-Schooling Society-nya, Everett Reimer dengan School is Dead-nya, Paulo Freire dengan Pedagogy of the Opressed-nya, dan belakangan Susan Bauer dengan Rethinking School-nya.
Dari aspek yang paling fundamental dalam pendidikan: paradigmaa, pendidikan kita saat ini cenderung pragmatis-materialistis, menjadi sebatas pelatihan angkatan kerja yang kompetitif. Fokusnya pun tertuju hanya pada pengembangan penguasaan skill atau kecakapan vokasional. Meski tidak ada salahnya, namun pada taraf tertentu proses semacam ini malah akan menjauhkan manusia dari sisi kemanusiaannya.
Pendidikan yang seyogianya berfungsi untuk “mengaktualkan potensi manusia sehingga benar-benar menjadi manusia sejati” (h. 35), justru memainkan peran antagonisnya: menjadi praktik dehumanisasi. Sekolah tak ubahnya industri yang memproduksi manusia satu dimensi.
Dalam bukunya tersebut, Haidar juga mencatat adanya indikasi—yang dalam istilah Freire disebut—banking concept of education pada sistem pendidikan kita (h. 127). Implementsi dari model pendidikan ini—menurut banyak pakar—dapat menciptakan situasi penindasan, membelenggu kebebasan berpikir serta berekspresi para peserta didik. Selain itu, dominasi aspek kognitif yang terlalu berlebihan justru bisa kontraproduktif (h. 111).
****
Misalnya pada beberapa mata pelajaran seperti Fiqh dan Kalam, apabila muatan materi keduanya didominasi oleh orientasi lahiriah atau aspek eksoteris belaka, hasilnya akan membentuk manusia dengan kesadaran beragama yang bersifat formal-legalistis, dan berpaham yang cenderung radikal, sempit, dan intoleran.
Baca Juga: Pengukuhan Profesor, Abdul Mu’ti Sampaikan Empat Arah Pembaruan PAI Pluralistis
Dengan demikian, melalui buku yang sedang kita bicarakan ini Haidar menyarankan agar sistem pendidikan kita sesegera mungkin melakukan pembenahan. Upaya itu dapat diawali dengan melakukan pergeseran paradigma paradigma shift: dari paradigma pendidikan penyeragaman kependidikan—dalam istilah Howard Gardner—paradigma Multiple Intelligences, dari pendidikan dehumanistis menuju pendidikan yang berperikemanusiaan, dari pendidikan yang menyeramkan kependidikan yang menggembirakan.
Harus diakui meskipun belum menyajikan sebuah gagasan utuh layaknya sebuah monograf atau teks akademik—memang buku tersebut hadir tidak untuk tujuan itu—karya Haidar ini menyajikan saran-saran yang cukup relevan dengan persoalan pendidikan yang ada saat ini. Analisisnya ringan, refleksinya singkat, serta pembahasan yang cukup ringkas merupakan nilai lebih yang menjadikannya mudah untuk dipahami.
Penulis adalah Praktisi Pendidikan dan Mengajar Pelajaran Bahasa Arab di SMA Muhammadiyah Kotabumi Lampung Utara
Ilustrasi: antaranews.com