Oleh Mu’arif
Dalam ajaran agama-agama Smitik (Yahudi, Nasrani, dan Islam), sosok Adam diyakini sebagai manusia pertama di muka bumi ini. Seperti halnya dalam ajaran Islam, Adam sebagai manusia pertama diyakini sebagai “seorang Nabi.”
Pertanyaannya, apakah manusia pertama di muka bumi ini yang berstatus sebagai seorang Nabi telah membawa ajaran agama? Jika memang iya, maka bagaimanakah sistem ajaran atau doktrin keagamaan pertama pada zaman Nabi Adam?
Di sinilah perdebatan teologis dalam ajaran agama-agama Smitik terus berlanjut hingga kini.
Nabi Adam: Manusia Pertama
Pengetahuan manusia memang belum mampu menjelaskan bagaimana kehidupan Nabi Adam ‘alaihis-salampada masa kehidupan pertama di muka bumi ini. Informasi tentang manusia pertama ini kebanyakan berasal dari sumber-sumber biblikal dan Al-Quran yang pada umumnya disampaikan dalam bentuk “kisah” (qishshah).
Metode kisah, bukan sejarah, adalah model sumber-sumber biblikal dan Al-Quran ketika menjelaskan peristiwa di masa lampau yang belum atau tidak terjangkau oleh pengetahuan manusia.
Dalam Al-Quran, kata qishshah (jamak: qashash) sering disebut-sebut sehingga memungkinkan banyak penafsiran dari para ahli tafsir. Muhammad Ahmad Khalafullah dalam bukunya, Al-Quran bukan “Kitab Sejarah”: Seni, Sastra, dan Moralitas dalam Kisah-kisah al-Quran memetakan dua kategori penafsiran: pertama, penafsiran dengan pendekatan etimologis.
Kedua, penafsiran dengan pendekatan religious. Penafsiran dengan pendekatan etimologis seperti yang dikemukakan al-Azhari bahwa “qashash” adalah bentuk mashdardari kata kerja (fi’il) “qashasha” yang berarti “kisah” atau “cerita.” Dengan demikian, menurut pendapat al-Azhari, “qashash” adalah “cerita dari suatu kejadian yang sudah diketahui sebelumnya.”
Adapun penafsiran dengan pendekatan religius seperti yang dikemukakan al-Razi bahwa arti kata “qashash” adalah “mengikuti” sebagaimana makna kharfiahnya. Al-Razi kemudian mendefinisikan “qashash” sebagai “hikayat atau cerita yang disebutkan sedikit demi sedikit dan diikuti” (Muhammad A. Khalafullah, 2002: 100).
***
Dengan merujuk pada definisi yang dirumuskan al-Razi, maka “qashash” dalam al-Quran dapat dipahami sebagai kisah atau cerita (hikayat) tentang kejadian di masa lampau yang disampaikan secara bertahap (sedikit demi sedikit) untuk dapat diikuti (diambil pelajaran/’ibrah) oleh umat atau generasi sesudahnya.
Kisah Nabi Adam sebagaimana yang disebutkan dalam Al-Quran lebih banyak memberikan informasi edukatif (‘ibrah) ketimbang data-data empiris-historis. Tujuannya agar umat Islam dapat memetik pelajaran (‘ibrah) dari kisah Nabi Adam.
Seperti dikisahkan dalam Surat Al-Baqarah ayat 30-37, bahwa sejak awal penciptaan manusia telah terjadi polemik antara Tuhan dengan para malaikat. Tetapi Tuhan meyakinkan bahwa tujuan penciptaan manusia tidak seperti persepsi malaikat—suka berperang, membuat kekacauan, dan lain-lain.
Manusia yang diciptakan Tuhan memiliki keistimewaan menguasai pengetahuan tentang nama-nama benda (al-asma’) mengalahkan pengetahuan para malaikat. Maka para malaikat pun bersujud (hormat) kepada manusia pertama. Di antara para malaikat terdapat satu (Iblis) yang enggan bersujud karena merasa bahan penciptaannya lebih baik ketimbang manusia (tanah liat). Maka terkutuklah Iblis.
Ia berusaha memusuhi manusia yang telah menjadikannya sebagai makhluk terkutuk. Adam yang hidup bersama Hawa di surga mendapat bisikan supaya melanggar perintah Tuhan sehingga mereka berdua dapat mengikuti jalan hidup Iblis.
Demikianlah kosmologi umat Islam dalam kisah kehidupan Adam dan Hawa di surga yang berakhir tragedi pelanggaran atas perintah Tuhan sehingga keduanya jatuh ke bumi.
Seluruh kisah tentang Adam dalam al-Quran bernuansa edukatif, sedangkan sumber-sumber biblikal menyebutkan beberapa data empiris—sekalipun dengan kualitas spekulatif—tentang kehidupan Adam.
Seperti dalam karya Maurice Bucaille, Bible, Qur’an, dan Sains Modern (1979), sosok Nabi Adam diyakini hidup mencapai usia sekitar 930 tahun. Dialah sang nenek moyang seluruh umat manusia yang sebelumnya hidup kekal di surga tetapi karena suatu kejadian ia diganjar jatuh ke bumi.
Kisah Adam jatuh dari surga ke bumi, berdasarkan sumber-sumber biblikal maupun Al-Quran, menjadi awal mula perdebatan teologis lintas iman yang hingga kini hampir tidak pernah terselesaikan.
Hubuth
Makna kejatuhan Adam dari surga ke bumi dikisahkan dengan baik dalam sumber-sumber suci tiga agama Smitik sebagai awal mula kehidupan umat manusia. Kisah kejatuhan Adam ke bumi dikenal dengan doctrine of falldalam agama Yahudi dan Nasrani.
Dalam ajaran Nasrani, doctrine of falltelah menjadi landasan untuk perumusan konsep “dosa warisan” (original sin). Menurut keyakinan kaum Nasrani, setiap manusia yang dilahirkan ke dunia mendapat “dosa warisan” karena bapak umat manusia telah melakukan dosa sebelum dijatuhkan ke bumi (Mirza Tahir Ahmad, 2000).
Menurut sumber-sumber biblikal, penyebab Adam tergelincir dalam dosa disebabkan karena dia telah memakan buah dari sebuah tanaman ”ilmu pengetahuan” (Wilson H. Guertin dan Mohammad Jawad Chirri, 1981). Menurut sumber Al-Qur’an, dikisahkan bahwa Adam mendekati sebuah tanaman tersebut dan memakan buahnya.
Dalam surat Thaha ayat 120 disebutkan bahwa pohon yang didekati oleh Adam bernama “Khuld.” Namun, berbagai macam tafsir dari para ulama tidak menyebutkan jenis pohon apakah ini.
Menurut keyakinan kaum Nasrani, berawal dari kesalahan Adam yang telah memakan buah dari sebuah “pohon terlarang,” dia mendapat murka dari Tuhan. Namun, terdapat kisah yang agak ganjil menurut keyakinan kaum Muslimin, bahwa sosok Adam, dalam keyakinan kaum Nasrani dianggap telah melakukan kesalahan atau dosa karena bujuk rayu pasangan hidupnya, Hawa. Atas dasar inilah, dalam konstruksi teologi kaum Nasrani, kehadiran Hawa dianggap sebagai penyebab Adam tergelincir ke dalam dosa.
***
Dalam ajaran agama Islam, kisah kejatuhan Adam dari surga ke bumi dikenal dengan peristiwa hubuth. Akan tetapi, menurut keyakinan umat Islam, peristiwa ini tidak menjadi dasar bagi sebuah doktrin teologis sebagaimana umat Nasrani menjadikan peristiwa ini sebagai landasan doktrin “dosa warisan.”
Hubuth berasal dari kata “habitha”—seperti dalam surat Al-Baqarah ayat 36-37—secara kharfiah memang berarti “jatuh” atau “turun.” Meskipun tidak berdampak pada pembentukan rumusan doktrin dalam ajaran Islam, tetapi peristiwa ini justru menjadi causayang memunculkan aktivitas ritus pertama oleh Nabi Adam di bumi, yaitu pernyataan penyesalan dan memohon ampun (doa).
Peristiwa yang dapat menjadi landasan bagi ajaran pokok Islam adalah ketika Nabi Adam menyesali perbuatannya dan memohon ampun kepada Tuhannya. Adam mendapat tuntunan “kalimat dari Tuhannya” ketika memohon ampun sehingga Tuhan menerima tobatnya.
Sebagian ulama berpendapat, “kalimat dari Tuhan” dimaknai sebagai “kata-kata” atau ungkapan “doa” yang diwahyukan kepada Nabi Adam untuk mengungkapkan penyesalan atas kesalahan yang telah dilakukannya. Memang, beberapa kalangan cendekiawan Muslim sempat memaknai “kalimat dari Tuhan” dalam peristiwa ini sebagai awal mula doktrin monoteisme samawi.
“Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, maka Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang”(Al-Baqarah: 37). Para ulama dan cendekiawan Muslim menempatkan kisah ini sebagai awal mula terbentuknya ajaran (doktrin) dalam Islam.
Imam Mohammad Jawad Chirri (1981), ulama berkebangsaan Libanon lulusan Institute Agama Najaf, Iraq, berpendapat bahwa “kalimat dari Tuhan” yang dimaksudkan dalam ayat ini merupakan doa Nabi Adam yang kemudian diterima Tuhan sehingga terhapuslah dosanya.
Sementara beberapa kalangan cendekiawan Muslim memaknai lain. Menurut Nurcholish Madjid (1992: xv). Maka tuntunan doa untuk bertobat menjadi ajaran pertama dalam sejarah agama-agama Semitik, terutama agama Islam. []