Dewasa ini, kajian seputar hijrah telah mencapai titik puncak yang luar biasa. Daya tarik pembicara, isi (semangat syahadat) dan isunya menyebar luas dirutinitas kehidupan, terkhusus para kawula muda Islam. Tidak dipungkiri, gerakan hijrah dengan segala slogan dan jargonnya telah berhasil menarik perhatian generasi muda Islam untuk semangat hijrah.
Membludaknya pengagum dan pecinta gerakkan hijrah secara masif memberikan konsekuensi dampak positif juga negatif terhadap individu. Salah satu kontribusi baik adanya kajian hijrah ialah terbukanya wawasan generasi muda atas perihal eskatologis (akhirat; surga, neraka, pahala, dosa, siksa, bahagia) juga perihal kebermanfaatan terhadap sesama dalam ruang publik kemanusiaan.
Adapun esensi dari topik hijrah lazimnya perihal anjuran untuk berpindah menuju kepada hal-hal yang dianggap baik oleh Islam. Perpindahan disini artinya merubah ucapan, sikap, dan perbuatan kepada yang lebih baik. Sehingga, menurut gerakan ini, jika hal tersebut sudah teraplikasi maka mereka sudah hijrah.
Hijrah, Luruhnya Kekritisan Berakal
Gerakan hijrah secara tidak langsung juga membawa kabar duka atas mundurnya kekritisan manusia beragama sebagai makhluk yang berakal. Hal tersebut disebabkan, oleh pelaziman yang dilakukan berwujud afektif; meletakan kebenaran pada pemantik. Hingga membawa persepsi ke ruang keberagamaan yang sempit sempit yakni berada di kelompoknya semata (sesuai perkataan pemantik hijrah yang dikagumi).
Fenomena ini menggambarkan kondisi nalar yang miris dan ironis. Hingga secara masif dan pesat, berhasil menumbuhkan generasi baru yang bertaklid penuh perihal keislaman kepada orang yang dipercayanya. Tidak hanya perihal fikih dan akhlak, melainkan juga perihal tauhid yang seharusnya menjadi beban bagi setiap individu (mukallaf) dalam menghamba (menalar Esa).
Banyak perkara yang hadir di dalam kehidupan seorang muslim sebagai individu dalam masyarakat disebabkan oleh kegagalpahaman dalam memahami sesuatu. Hal ini terjadi sebagai dampak dari kematian pikir generasi baru yang tidak difungsikan secara maksimal dan berpengaruh terhadap cara hidup dalam bermasyarakat, baik dari sikap, ucapan, dan perbuatan.
baca juga Hadis Dialog dengan Iblis dalam Manuskrip Nusantara
Oleh karena itu, perlu adanya kesadaran beragama dengan memaksimalkan peran akal untuk berfikir menyelaraskan dengan perihal keislaman dan keimanan yakni menerapkan karakter Islam dalam diri dengan ruang-ruang keimanan yang berdampak pada termanifestasikannya ke arah kebermanfaatan.
Menalar Dua Kalimat Syahadat
Pemaknaan hijrah yang memprioritaskan perihal amaliyyah tanpa memasukan pentingnya belajar tauhid sebagai landasan pokok berperilaku dan menjadikan sesuatu sebagai tujuan, memberikan dampak yang cukup kuat akan pemahaman generasi Islam sekarang. Diantaranya membentuk persepsi bahwa yang terpenting dalam Islam itu amaliyah, bukan tauhid.
Hijrah dengan konsekuensinya, membawa individu jauh kepada kesadaran berfikir mencari makna penghambaan layaknya seorang mukallaf. Dua kalimat syahadat yang menjadi pintu gerbang awal memahami Islam secara halus dan lembut terabaikan oleh perihal amaliyah kebermanfaatan. Sedangkan, tujuan kebermanfaatan adalah bentuk menghamba kepada pencipta.
Gambaran ini seperti seorang pemuda beribadah tapi tidak memiliki ilmu ibadah dan tidak paham siapa yang dituju pada ibadahnya, sehingga seakan-akan yang didapat hanyalah kelelahan dalam ibadah serasa berolahraga. Bukan itu saja, belajar tauhid pun akhirnya hanya melalui kebenaran gurunya. Sehingga, terbentuk murid yang cenderung kaku juga kolot dalam perkara, tidak menerima perbedaan.
Dua kalimat syahadat merupakan identitas tauhid yang wajib dipelajari seorang mukallaf. Makna penyaksian di dalamnya tidak sekadar terjemahan semata, melainkan penuh logika berfikir. Perihal ini, sebagai bukti bahwa Islam merupakan agama yang ilmiah, bisa dibuktikan melalui dialog. Didukung objek kajiannya perihal tauhid yakni perihal keimanan.
Tauhid merupakan pondasi atau dasar dalam bangunan Islam, sehingga eksistensi dan esensinya tidak dapat dihindari ketika seorang manusia menghamba, terkhusus perihal hijrah. Pemaknaan hijrah dalam ruang kemanusiaan dan eskatologis yang cenderung membentuk generasi taklid perlu dibongkar untuk memulai jalan kritis dengan nalar ketuhanan.
Subtansi nalar ketuhanan dalam dua kalimat syahadat yang dipahami secara jelas oleh individu, akan berkontribusi pada kejalasan logika dalam bertindak, kejelasan tujuan dalam beribadah, kejelasan hak dan kewajiban hamba kepada Tuhannya dan kejelasan kewajiban hamba kepada sesamanya yang ditemukan melalui proses penalaran terbimbing.
Memaknai Hijrah Melalui Dua Kalimat Syahadat
Dalam Islam, perihal keimanan sangatlah diprioritaskan. Islam mendudukan tauhid sebagai suatu kewajiban pokok untuk dipelajari seorang muslim. Sehingga, ketika pemaknaan hijrah dalam kajian-kajian keislaman lebih memprioritaskan pada objek kebermanfaatan seorang muslim tanpa memasukan pembelajaran ketauhidan di dalamnya, maka berdampak pada ketidakpahaman akan tujuan kebaikan dalam aktualisasinya menghamba.
Dua kalimat syahadat merupakan gerbang keislaman; di dalamnya sarat nilai-nilai ketauhidan dan kenabian beserta normativitas dan historisitasnya. Bukan itu saja, eksistensinya dijadikan sebagai alat untuk memasuki Islam bagi siapapun yang ingin memeluknya.
Hal tersebut menjadi bukti perlunya memahami makna dua kalimat syahadat dalam berkehidupan dan perlunya melakukan penekanan diri akan pentingnya pemaknaan dua kalimat syahadat di dalam kajian keislaman manapun.
Pemaknaan terhadap dua kalimat syahadat akan berdampak baik pada pemahaman seorang muslim untuk berkontribusi menjadi agen yang memberikan gambaran Islam sebagai agama yang membawa ajaran kedamaian, keselamatan, dan kasih sayang. Hal tersebut tidak terlepas dari esensinya yang tercakup dalam rukun Islam. Lebih mendalam lagi perihal keimanan yang terdapat dalam rukun Iman.
Eksistensi rukun Islam dan rukun Iman merupakan sarana bagi umat Islam untuk memahami karakter Islam dan menyebarkan apa yang dituju oleh Islam dengan ajarannya. Sehingga berkontribusi terhadap pembentukan generasi muslim yang memahami Islam secara mendalam yakni generasi yang memiliki argumen atau prinsip dalam beragama.
Hijrah melalui nalar kritis dua kalimat syahadat tidak hanya seputar eskatologis ataupun perpindahan menuju baik dalam ruang kemanusiaan yang lahiriah. Melainkan, terbentuknya insan yang mengetahui haknya atas kehambannya kepada Tuhan melalui jalan kritis dua kalimat syahadat.
Jika fenomena hijrah yang sedang naik daun sekarang ini tidak memberikan tekanan terhadap pemahaman atas ketauhidan, maka akan berdampak pada terbentuknya hamba yang tidak mengenali Tuhannya dan hamba yang tidak menjadikan Tuhan sebagai tujuan ataupun dasar dalam melakukan sesuatu. Sehingga, berefek pada terciptanya generasi yang tidak memahami posisi tauhid dalam Islam; sekaligus cara berfikir logis Islam mengenai nalar tauhid menuju kemanusiaan.
Dari sini, dapat diambil hikmah, bahwa memaknai hijrah dengan dua kalimat syahadat melalui jalan kritis sebagai makhluk berakal adalah wajib (tauhid: ilmu ushul), terkhusus dalam penghambaan kepada Pencipta. Sehingga, fitrah akal terfungsikan untuk mensistematiskan perbuatan dengan tujuan yang jelas dan argumen yang sesuai.