Rabu, Oktober 7, 2026
Kalimahsawa.ID
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
Kalimahsawa.ID
No Result
View All Result

Hermeneutika Al-Qur’an Muhammad Arkoun

Dian Aprilianty by Dian Aprilianty
Juni 29, 2021
in Esai
0
Hermeneutika Arkoun
293
SHARES
1.7k
VIEWS

Hermeneutika adalah sebuah metode penafsiran dan telah menjadi ilmu pengetahuan yang banyak sekali dibahas oleh sarjana muslim. Bahkan saking luasnya cakupan hermeneutika, kita tidak bisa berbicara mengenai hermeneutika dengan hanya satu jenis saja. Secara garis besar, hermeneutika adalah alat baca untuk membaca fenomena budaya, terutama membaca sebuah teks keagamaan.

Banyak sekali sarjana muslim yang terpesona dengan hermeneutika sehingga mereka kerap menggunakannya untuk membaca dan menafsirkan teks al-quran. Diantaranya adalah Fazlur Rahman, Abdul Masaid, atau yang paling dikenal liberal adalah Nasr Hamid Abu Zaid dan Muhammad Arkoun. Nasr Hamid Abu Zaid adalah orang Mesir sedangkan Muhammad Arkoun adalah orang Aljazair.

TulisanTerkait

Refleksi Tahanan Politik Aksi 2025: Menulis untuk Rekan Juang yang Terpenjara

Ketika Prestasi Menjadi Ukuran: Membangun Organisasi Berbasis Meritokrasi

Wacana Digitalisasi Ikatan: Mengapa Satu Data IMM penting?

Latar Belakang Pemikiran Muhammad Arkoun

Muhammad Arkoun merupakan salah satu sarjana muslim yang banyak mempengaruhi diskursus wacana Islam kontemporer. Beliau lahir di Aljazair tetapi kemudian tinggal dan mengajar di Sorbone hingga beliau meninggal. Muhammad Arkoun sebagaimana banyak dikenal oleh kalangan muslim merupakan tokoh sekaligus pemikir yang kontroversial di Timur Tengah dan di dunia Islam.

Beliau memiliki kehebatan yang luar biasa, hal ini dibuktikan dengan pemikirannya yang terbilang cukup rumit untuk dipahami. Kemampuannya diberbagai jenis perkembangan ilmu, seperti Dekonstruksi, Psikologi, Linguistik, Antropologi, Semiologi dan lain-lain, diperolehnya ketika masih belajar di Perancis. Dalam hal ini, beliau banyak menggunakan konsep kaum post-strukturalisme untuk mengembangkan pemikirannya terkait kajian keislaman.

Pemikiran Hermeneutika Muhammad Arkoun

Arkoun kerap dipandang sebagai pemikir yang cukup liberal dalam menafsirkan al-Qur’an secara kritis dengan menggunakan metodologi barat. Diantara metode penafsirannya adalah historis-antropologis, semiotika-linguistik dan teologis-religius.

Pada metode historis-antropologis, Arkoun menyatakan bahwa al-Qur’an adalah kata-kata Tuhan terhadap manusia yang dikonstruksikan ke dalam bahasa manusia melalui peralihan secara lisan dan dibakukan secara tertulis. Oleh karenanya, al-Qur’an menurut Arkoun merupakan produk sejarah sehingga perlu untuk ditafsirkan ulang. Artinya, apapun yang dibahas dalam teks al-Qur’an harus selalu sesuai dengan perkembangan zaman.

Pada metode semiotika-linguistik, ada dua kata kunci yang memiliki peran sentral dalam upaya merekonstruksi Islam sebagai agama, tatanan budaya maupun sebagai wacana. Ialah sejarah dan bahasa yang kemudian ia gunakan untuk membaca ulang sejarah dan muatan al-Qur’an (historisitas dan konten al-Qur’an). Maka disini dapat dimengerti bahwa Arkoun menggunakan hermenutikanya untuk melihat kesejarahan al-Qur’an dan isi kandungan al-Qur’an.

Selanjutnya pada metode teologis-religius, Arkoun menyatakan bahwa jika manusia masih terus memandang al-Qur’an sebagai suatu teks yang berasal dari Tuhan secara adikodrati, maka mereka akan terus menjumpai masalah-masalah yang lebih bersifat dogmatis. Untuk itu, menurutnya diperlukan sebuah keyakinan terhadap apa yang rasional yang berdasarkan pada pertempuran antara episteme dititik tertentu dengan problematika teks keagamaan, yakni antara aset peninggalan dan kesejarahan.

Salah satu hukum sejarah yang paling penting adalah hukum perubahan. Setiap sejarah itu pasti mengalami perubahan. Seperti halnya manusia juga mengalami perubahan pada aspek pola pikir, gaya hidup, bahkan mungkin keyakinannya. Setiap masa memiliki sejarahnya sendiri. oleh karenanya, al-Qur’an yang diturunkan pada abad ke-6 Hijriyah adalah produk sejarah pada masa itu. Sehingga untuk masa sekarang, harus dibaca dengan hukum sejarah pada masa kini.

Al Qur’an Harus di Tafsirkan Ulang

Menurut hermeneutika Arkoun, dalam al-Qur’an terdapat hal-hal yang sebelumnya tidak terpikirkan. Hal ini dikarenakan al-Qur’an diturunkan pada masa lampau sehingga tidak mampu memikirkan apa yang akan terjadi di masa sekarang. Yang demikian ini merupakan tugas para sarjana untuk menafsirkan al-Qur’an agar mampu ditarik ke wilayah yang mestinya dipikirkan dan juga agar al-Qur’an dapat berbicara pada manusia zaman sekarang yang memiliki latar belakang sosio-historis yang beda dengan manusia zaman dahulu.

Hermeneutika Arkoun berangkat dari kajian Linguistik yang digagas oleh Ferdinand De Saussure yang kemudian olehnya dikembangkan sendiri dan disebutnya dengan term logosentrisme. Hermeneutikanya terletak pada perbincangan mengenai lingkaran hermeneutis antara pengarang, teks dan pembaca. Baginya, suatu teks al-Qur’an memiliki banyak makna sehingga bersifat terbuka pada segala penafsiran.

Pandangannya tentang teks al-Qur’an sebagai suatu yang bebas untuk ditafsirkan, menghasilkan sebuah teori bahwa sesungguhnya suatu teks itu akan tetap dan terus terbuka. Suatu tafsiran itu dapat memperluas makna teks, oleh karenanya teks tidak akan mengalami kelumpuhan pada masa lalu namun juga bisa terus berkembang terhadap masa depan. Demikianlah tugas interpretasi terhadap suatu teks akan terus berlanjut.

Editor : Irawan

Terkait

Tags: arkounHermeneutikaTafsir
Previous Post

Keutamaan dan Manfaat Puasa di Tengah Pandemi

Next Post

Belajar Etika Tasawuf ala Imam Al-Ghazali

Dian Aprilianty

Dian Aprilianty

Mahasiswa Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya

Next Post
Imam Al-Ghazali

Belajar Etika Tasawuf ala Imam Al-Ghazali

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Tentang Kalimahsawa.id
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan
Contact Person: 085850332866

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.

No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.