Rabu, Oktober 7, 2026
Kalimahsawa.ID
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
Kalimahsawa.ID
No Result
View All Result

Hagia Sophia dan Benturan Antar Peradaban

Danang Maulana Arif Saputra by Danang Maulana Arif Saputra
Juli 18, 2020
in Esai
0
hagia sophia
34
SHARES
202
VIEWS

Keputusan pengadilan tinggi Turki membatalkan dekrit presiden tahun 1934 menimbulkan polemik, Hagia Sophia yang menjadi situs warisan budaya (peradaban) UNESCO diubah fungsinya dari musem menjadi masjid oleh pemerintahan Recep Tayib Erdogan. Sontak keputusan ini mendapat sambutan yang baik dari komunitas muslim dan kecaman dari komunitas barat.

Perubahan ini seperti menandai kemenangan islamis atas kaum sekuler yang telah lama mendominasi politik turki, pada era rezim Kemal Attaturk. Perubahan fungsi Hagia Sophia menjadi musem disebut sebagai simbol sekulerisasi dan babak baru Turki menjadi negara modern.

TulisanTerkait

Refleksi Tahanan Politik Aksi 2025: Menulis untuk Rekan Juang yang Terpenjara

Ketika Prestasi Menjadi Ukuran: Membangun Organisasi Berbasis Meritokrasi

Wacana Digitalisasi Ikatan: Mengapa Satu Data IMM penting?

Melalui partai nya (AKP) Erdogan, kerap kali mengeluarkan kebijakan yang disebut pro terhadap Islam. Oleh karena itu Erdogan disebut-sebut sebagai pemimpin bagi dunia Islam. Harus diakui, jika saat ini Erdogan menjadi role model baru bagi kepemimpinan di negara-negara dengan komunitas muslim terbesar, termasuk Indonesia.

Isu Kebangkitan Islam di Turki

Tidak heran jika didalam isu-isu “kebangkitan Islam” nama Erdogan dan Turki tidak pernah absen disebutkan, sebagai pewaris sejarah dari Kekhilafahan Utsmaniyah. Turki selalu menjadi komoditi yang menarik, terutama ketika berbicara isu “kebangkitan Islam” dengan mengingat romantisme sejarah khilafah Ustmani yang pernah berjaya menguasi 3 benua dan 5 lautan. Selain itu dalam diskusi tersbut tidak jarang menyalahkan rezim Kemal Attaturk yang mengubah menjadi negara sekuler.

Baca Juga: Sejarah Awal Perpustakaan Islam dan Kemajuan Peradaban

Sejarah Hagia Sophia tidak lepas dari pengaruh dua kebudayaan besar yaitu Barat dan Timur. Didirikan oleh Kaisar Constantie dari Kekaisaran Byzantium pada tahun 537 dengan fungsi awal sebagai Katerdal Ortodoks. Lalu kemudian berubah menjadi Masjid Agung ketika Kesultanan Ottoman di bawah Sultan Mehmed II berhasil menaklukan Konstantinopel pada tahun 1453.

Konversi fungsi Hagia Sophia dari masa ke masa tidak bisa lepas dari pengaruh benturan peradaban yang terjadi antara Kristen dan Islam.

Hal ini mengingatkan kita dengan teori “konflik peradaban” yang diperkenalkan oleh Samuel Huntington dalam bukunya “The Clash of Civilization and the Remaking of World Order” (1996).

Benturan Antar Peradaban

Menurut Huntington, dengan berakhirnya Perang Dingin yang ditandai dengan runtuhnya ideologi komunisme. Wilayah konflik meluas melewati fase Barat, dan yang mewarnainya adalah hubungan antara peradaban Barat dan non-Barat serta antarperadaban non-Barat itu sendiri. Benturan paling keras menurut Hutington akan terjadi antara kebudayaan Kristen Barat dengan kebudayaan  Islam.

Tesis tersebut secara tidak langsung memperkuat asumsi sebagian besar ilmuan barat yang melihat Islam sebagai agresi dan ancaman. Pendek kata, Barat mencoba menciptakan stereotipe simplistis yang menunjukan wajah the rage of Islam.

Tesis Huntington bukan tanpa kritik, Edward Said (2001) memberikan kritikan tajam, ia menilai Huntington tidak mengerti dinamika internal dan pluralitas setiap peradaban. Bagi Huntington, barat harus berani megambil keputusan dengan tetap menjaga dan mengontrol peradaban lain terutama Islam.

****

Bagi Said, Huntington adalah seorang ideolog yang sengaja membentuk “peradaban” sebagai entitas yang terbungkus dan tak terpengaruh interaksi sejarah. Huntington tidak melihat jika peradaban mampu melakukan pertukaran budaya, bahkan bersama-sama membendung perang agama.

Baca Juga: Sejarah Pancasila adalah Sejarah Muhammadiyah, Mengapa Begitu?

Penciptaan “imajinasi” Islam tunggal, menyebabkan terjadinya reduksionisme keagamaan. Yang memandang konflik politik negara menjadi konflik agama. Seperti konflik politik AS-Irak dianggap sebagai konflik Islam vs Kristen. Hal ini tentu tidak sepenuhnya benar meskipun yang bertentangan adalah komunitas Muslim dan Kristiani.

Termasuk dengan menjadikan tokoh negara muslim seperti Saddam Hussein, Recep Tayyib Erdogan sebagai perwakilan wajah Islam adalah suatu hal yang keliru. Islam adalah agama yang plural dan kompleks, harus disadari bahwa tidak ada figur sentral pasca wafatnya Nabi Muhammad SAW yang bisa mewakili Islam secara keseluruhan.

Penulis adalah Presiden Mahasiswa Badan Eksekutif Mahasiswa UM Surakarta 2019/2020

Ilustrasi: Kompas.com

Terkait

Tags: Hagia SophiaIslam-KristenKerukunanPeradaban
Previous Post

Memaafkan atau Balas Dendam?

Next Post

Dari Masjid Toledo Menuju Katedral Hagia Sophia

Danang Maulana Arif Saputra

Danang Maulana Arif Saputra

Next Post
Dari Masjid Toledo Menuju Katedral Hagia Sophia

Dari Masjid Toledo Menuju Katedral Hagia Sophia

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Tentang Kalimahsawa.id
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan
Contact Person: 085850332866

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.

No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.