Oleh: Aufa Ubadah An Nu’man
Di hadapan sang raja yang mulai memuja
Di balik ketenaran yang mulai memuncak
Di balik kata-kata yang mulai terdengar indah
Terpampang sebuah dosa yang membayang dalam qalbu
Terekam gelora materi yang tak ku rindu
Inikah gelombang realitas?
Ataukah bagian daripada narasi modernitas?
Wahai akal yang berpikir
Wahai indra yang menangkap
Wahai hati yang merasa
Kala pikirmu tak lagi sama dengan hati
Atau bahkan laku tak merefleksikan isi diri
Hingga budi tak lagi tampak dalam refleksi
Terkadang masa tak menampilkan mutiara
Mereka lebih memilih emas
Kenapa? Karena tak tahu, apakah isinya batu atau memang itu
Di sinilah narasi menjadi papan catur
Di sinilah gerakan menjadi bagian dari pasar
Di sinilah logika tak lagi berbaju, tinggal serigala berbulu akal yang menipu
Apalah keinginan,
Apalah cita-cita
ITU HANYA UTOPIA!!!
Kata seseorang yang membayangkan dunia idealnya
Yang saling menampakkan mutiara, dan bergerak dalam harmoni kemurniannya
Yah…
Layak kata pepatah
Yang tak mengikuti dunia berputar, ia tak makan
Bukan mengenai keapatisan pribadi
Bukan mengenai tunduk pada narasi
Atau bahkan menunjukkan nir emosi
Tak bolehkah ku berefleksi
Tak bolehkah ku melenturkan diri
Tak bolehkah ku sebentar mengikuti pada perputaran narasi
Bukan untuk hanyut, namun untuk menenangkan diri
Kala dominasi memang tak salah
Kala dominasi memang dibutuhkan
Kala dominasi berarti kebebasan,
Menjaga kebebasan
Kebebasan telah menjadi abu
Ia bebas, namun hanyalah residu
Bagaimana kebebasan yang menggelora?
Ia panas dan menunjukkan realitasnya
Api itu tak tetap
Kadang pula menghangatkan
Namun bila panas, ia menghanguskan
Homo homini lupus, itulah putusan dari orang berpikir
Mereka bebas, mereka bergerak, tapi bukan untuk suatu hakikat, namun kebengisan hewani yang tertanam dalam diri
Hei, hewan bijaksana
Hei, hewan yang berakal
Ataukah ku panggil hewan saja?
Kalau tak terima, bagaimana dengan yang lebih rendah dari hewan? Setan? Ataukah iblis?
Sudahlah dengan segala yang kodrati
Ia hitam atau putih
Lagi-lagi yang menentukan “diri”
Ataukah bahkan “narasi”?
Diri yang sadar tentu menjadi tuan
Bagi yang tidak, silakan saja tinggal
Keberanian diri, itulah kunci
Menegakkan sesuatu bukanlah harga diri
Ku hanya ingin mengalir
Dalam aliran kreasi
Tak peduli batas maupun hakikat
Tuk maksimal dalam menikmati
Namun, ingat insani
Ia adalah yang berkoloni
Yang saling mengasihi
Dan melepaskan dari dominasi
Hei, suatu yang sadar!
Hei, suatu yang mengetahui!
Lihatlah ke dalam diri
Siapakah “diri” sekarang ini?
Tak jumpa ya?
Hahahaha!!!
Itulah akibat kemajuan
Itulah akibat kelakuan dominasi
Itulah efek peraduan hegemoni narasi
Telah hilang dalam diri
Orisinalitas pribadi
Maka izinkan diri berpamit
Bukan tuk menyerah
Atau sekadar berpasrah
Kembali kepada dominasi ilahi
Tuk menjemput ridha diri
Serta refleksi ketenangan pribadi
Tuk menengok ego, “diri” maupun “narasi”