Oleh: Hikari Aufa Rofiqi (Mahasiswa UMS)
Realita umat di era modern saat ini seakan-akan kembali ke masa jahiliyah, kejahilan kaum-kaum terdahulu sudah lengkap terjadi di era sekarang, mulai dari LGBT-Q yang menjadi penyelewengan kaum Nabi Luth, sistem pemerintahan yang zalim sebagaimana para raja-raja zalim terdahulu, dan bentuk penyelewengan lainnya.
Kita sebagai insan yang hidup di akhir zaman sudah selayaknya merenungi dan tak tinggal diam melihat realita yang terjadi saat ini, Islam datang dalam keadaan asing dan akan kembali dalam keadaan asing, Islam datang di masa jahiliyah yang mana pada masa tersebut kejahilan orang-orang Arab yang tidak memiliki sisi kemanusiaan, menerapkan hukum siapa yang kuat dia yang menang, otot lebih bernilai dibanding otak, adapun jika otaknya memiliki taraf berpikir yang tinggi, mereka lebih memilih menggunakannya untuk membodohi orang lain.
Islam datang membawa perubahan terhadap problematika tersebut, mulai dari mengubah pandangan mengenai kejahilan mereka tentang sesembahan, mengubah pandangan mengenai nilai-nilai kemanusiaan yang saat itu benar-benar keterlaluan terhadap kaum yang lemah (mustadz’afin). Islam datang membawa transformasi yang amat berpengaruh pada sejarah peradaban Arab, kalau diambil dari historis, peradaban Arab dihitung semenjak Islam datang membawa perubahan terhadap budaya jahiliyah bangsa Arab, bahkan Islam lebih autentik dengan Arab, jika ada yang bilang Arab, pasti tujuannya adalah Islam.
Islam hadir dan berperan sebagai gerakan emansipasi, kalau ditinjau dari cerita-cerita yang dituliskan di platform sejarah dan paling dekatnya di buku Sirah Nabawiyah, kita bisa membaca bagaimana bangsa Arab jahiliyah memberlakukan wanita, memberlakukan orang yang lemah, bahkan perbudakan yang pada saat itu sangat kejam. Islam hadir membawa perubahan mengenai hal tersebut, kalau dikerucutkan lagi Islam membawa dua misi ketika kehadirannya di Arab Jahiliyah, pertama membawa misi transformasi, dan kedua membawa misi emansipasi. Misi transformasi mengubah dari era jahiliyah, era kebodohan membawa di era pencerdasan dan penuh kasih sayang, misi emansipasi membawa kaum yang lemah memiliki perlindungan, mengubah cara pandang terhadap wanita yang dianggap sebagai makhluk rendah dan menjadi objek eksploitasi.
Islam juga membawa pengaruh terhadap sektor kehidupan yang lain, mulai dari sosial, ekonomi, bahkan politik. Ranah ajaran Islam meliputi tiga sisi, yaitu hablu minallah (hubungan dengan Allah), hablu bi nafsi (hubungan dengan diri sendiri), dan hablu minannas (hubungan dengan sesama manusia dan makhluk lainnya). Sehingga dari sektor apa pun di kehidupan kita, Islam memiliki jawaban atas problematika yang terjadi, karena kembali pada sifatnya, Islam adalah agama yang universal, tidak hanya mengikuti arus zaman, namun menjawab tantangan zaman.
Dilema Umat Islam Era Modern
Islam yang sudah kehilangan ibu kandung semenjak 1924, dengan runtuhnya Daulah Turki Utsmani, membawa umat untuk menghadapi era barat dengan sistem sekulerisme yang notabene dikuasai oleh barat, sehingga kiblat peradaban yang semula berada di peradaban Islam, kini harus bergeser ke barat yang menjadi standar kemajuan. Di sini umat Islam mulai tergerus dengan sistem yang ada, mereka mulai mengikuti gaya khas barat dengan segala ketertarikannya. Menjadikan kaum muslimin terdampak krisis identitas.
Islam pada era modern ini hanya dikenali sebagai agama yang berwujud ritual semata, orang yang mengerjakan salat lima waktu menjadi standar yang tinggi untuk acuan kesalehan seorang muslim, padahal hal tersebut merupakan kewajiban dan standar bagi kaum muslimin. Pengaruh dari kepercayaan gaib yang menjamur di kalangan masyarakat muslim Indonesia juga menjadi dilema yang besar, karena kurangnya pengetahuan Islam secara holistik menjadikan umat Islam taklid buta terhadap satu tokoh.
Selain itu, pengaruh daripada sistem ekonomi yang diadopsi di negara ini juga menjadi salah satu faktor krisis identitas bagi kaum muslimin, menjadikan alam sebagai objek eksploitasi yang didalil-dalilkan ke maslahatannya oleh tokoh agama, sehingga menuai pro dan kontra terhadap persatuan kaum muslimin itu sendiri. Belum lagi permasalahan yang dijangkau secara kecil di masyarakat akar rumput, kebodohan yang premium dan penanaman cara pandang yang salah terhadap generasi penyambung.
Kemajuan teknologi yang perkembangannya sangat masif, ibarat dua mata pisau yang memiliki dua sisi yang dikotomik namun berdampingan, ada kalanya kemajuan teknologi membawa kebermanfaatan dan ada kalanya membawa dampak buruk. Sebagaimana sistem yang menjalar saat ini, kondisi yang sulit akan membentuk manusia yang tangguh, manusia yang tangguh mengubah dari kondisi sulit menjadi mudah, kondisi yang mudah membentuk manusia yang lemah, manusia yang lemah menjadikan kondisi menjadi sulit dan konsep seperti itu akan terus berputar sampai kapan pun.
Era modern ini juga banyak kita temui orang-orang yang krisis keilmuan bagi kebanyakan orang, kita lihat di negeri ini terutama, berapa banyak orang-orang yang kehilangan jati diri mereka karena termakan tren di jagat dunia maya, mereka yang terstandarisasi baik secara sadar maupun tidak, seakan-akan motor kehidupan era sekarang terletak pada narsistik di dunia maya. Banyak konten kreator yang mengunggah konten edukasi bersumber referensi dengan literatur dan jurnal cenderung sepi penonton meskipun sudah dikemas dengan semenarik mungkin, akan kalah dengan konten receh yang tidak ada muatan keilmuannya.
Bagaimana Menyikapi Problematika Era Modern
Iqro’! Bacalah. Membaca pada konteks modern tidak melulu membaca buku atau referensi semata, bacalah kondisi, bacalah situasi, dan bacalah realita yang ada. Era saat ini yang cenderung menekan supaya kita mengikuti arus modern yang tanpa arah, sebagaimana kebanyakan orang yang saya menyebutnya terjebak pembodohan massal, supaya kita tidak terbawa arus kebodohan yang super mengerikan ini.
Arus pada saat ini yang mengalir bak banjir yang menerpa suatu wilayah, orang yang bisa selamat dari bencana tersebut adalah orang-orang yang memiliki prediksi yang baik sehingga sebelum bencana datang orang itu bisa memprediksi untuk segera mengungsi, adapun ketika bencana sudah terjadi, orang tersebut memiliki ilmu survival yang baik, lebih baik lagi orang yang memilih untuk tidak tinggal di daerah yang rawan bencana.
Analogi di atas mengibaratkan bahwa yang menjadikan orang selamat dari bencana itu adalah ilmu. Orang yang tidak memiliki ilmu mitigasi bencana akan terkena dampak dari bencana tersebut. Jika kita memilih untuk abai mengenai ilmu pengetahuan, maka akan tergilas dengan bencana arus modern saat ini.
Kenapa harus memiliki khazanah ilmu yang luas? Apa yang terjadi pada diri kita, apa pun yang nantinya akan kita lakukan, merupakan hasil dari asupan kita selama ini. Orang terkena obesitas karena mengonsumsi makanan yang over kalori dan memiliki pola makan yang buruk, orang yang sukanya kekerasan karena konsumsi tiap harinya adalah asumsi kekerasan baik berupa ujaran kebencian maupun unsur-unsur kekerasan lainnya yang menjadikan orang tersebut cenderung temperamen dan keras kepala. Orang yang jomok itu pun juga karena mengonsumsi suatu yang mengandung unsur tersebut, sehingga menjadikannya seperti itu.
Sebagaimana tubuh yang memerlukan makanan sehat, akal dan hati kita juga membutuhkan konsumsi juga, maka berilah akal kita konsumsi referensi yang baik, sebagai bekal nantinya untuk menjalani kehidupan. Kebanyakan dari manusia modern terutama di negara kita ini yang cenderung mendapat referensi dari konten receh yang hanya ditulis dengan kata-kata singkat namun katanya “relate” dengan kehidupannya, dan menjadikan konten tersebut untuk pelarian dari permasalahan yang dia hadapi.
Menjadi dilema besar saat ini, bahkan tak sedikit mahasiswa yang justru terjerumus dengan jurang media sosial itu, padahal peran mereka sebagai agen intelektual di tengah masyarakat sangatlah besar. Namun apa jadinya jika mereka justru terbawa arus dan terlepas dari ranah intelektual itu sendiri? Lantas siapakah yang nantinya akan mengemban misi pencerdasan di tengah pembodohan massal saat ini?
Hidup adalah pilihan, kita mau terbawa arus modern atau melawan arus. Melawan arus bukan berarti tekstual atau konservatif, namun melawan dari jeratan kebodohan di era modern, menjadi insan yang siap menjawab tantangan zaman. Dalam pepatah Jawa dikatakan, “Angeli tapi ora keli”, mengikuti tapi tidak hanyut, yang mana beriringan dengan arus.
Kemajuan era modern memang harus kita ikuti perkembangannya, jangan sampai kita tidak mengikuti arus kemajuan sehingga ketinggalan zaman dan kolot terhadap kemajuan itu sendiri. Peran terbaik yang bisa kita lakukan adalah menjadi agen dari kemajuan zaman itu sendiri, sebagai inisiator kemajuan, bukan sekadar menjadi penikmat kemajuan.
Editor: Rafidah Azis