Oleh: Muhammad Perdama
Di tengah banjir bandang Jakarta, kebakaran hutan Kalimantan, dan es kutub yang mencair, umat manusia dihadapkan pada krisis iklim yang tak terelakkan. Laporan IPCC 2023 memperingati: perempuan di negara berkembang, termasuk Indonesia, paling rentan korban pertama–dari kekeringan yang menyulitkan akses air hingga bencana yang memaksa migrasi. Namun, di balik data menyesakkan itu, Al-Qur’an menyimpan kearifan yang relevan: hubungan harmonis antara bumi sebagai ibu pertiwi dan perempuan sebagai simbol kehidupan. Melalui lensa ekofeminisme Qurani, tafsir kontemporer ini menggali ayat-ayat suci untuk menjawab krisis hari ini, mengajak umat islam kembali pada tauhid ekologis.
Ekofeminisme: Jembatan Feminisme dan Ekologi
Ekofeminisme, yang dipopulerkan Vandana Shiva dan Maria Mies, melihat penindasan perempuan dan ekploitasi alam sebagai dua sisi mata uang patriarki kapitalis. Perempuan, sering kali penjaga sumber daya alam di masyarakat agraris, menderita paling parah dari degradasi lingkungan. Di Indonesia, survei WALHI 2022 mencatat 70% korban banjir adalah perempuan dan anak-anak. Qur’an, sebagai kitab yang menekankan keseimbangan (mizan, QS. Ar-Rahman: 7-9), menawarkan fondasi teologis untuk ekofeminisme ini–bukan impor barat, tapi reinterpretasi kontekstual.
Tafsir Ayat Bumi: Dari Khalifah ke Korban Kolonialisme Modern
Al-Qur’an mempersonifikasikan bumi sebagai entitas hidup yang “menghasilkan buah-buahan” (QS. An-Nahl: 10-11) dan “mengeluarkan air” (QS. Az-Zumar: 21). Bumi bukan objek mati, melainkan umm (ibu) yang subur, mirip perempuan dalam narasi penciptaan (QS. An-Nisa: 1: “Wahai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan istrinya”).
Tafsir kontemporer ini menyoroti QS. Ar-Rum: 41: “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” Ayat ini bukan sekedar peringatan, tapi kritik tajam terhadap ekstraktisme modern–tambang nikel di Sulawesi yang meracuni sungai, sawit di Sumatra yang merampas hutan. Bumi, seperti perempuan yang di ekploitasi, “rusak” karena ulah manusia yang melupakan amanah khalifah (QS. Al-Baqarah: 30).
Dalam krisis iklim, tafsir ini mengajak kita melihat bumi sebagai muslimah yang taat: ia
“menundukkan punggungnya” untuk manusia (QS. Ar-Ra’d: 3), tapi kini “menggeliat” lewat
gempa dan banjir sebagai adab ilahi.
Perempuan sebagai Penjaga Bumi: Tafsir Gender-Ekologis
Qur’an tak memisahkan perempuan alam. QS. An-Nahl: 65-69 menggambarkan hujan sebagai rahmat yang “menghidupakan bumi setelah mati”, paralel dengan peran perempuan sebagai pemberi kehidupan. Tafsir klasik seperti Tafsir Ibnu Katsir melihatnya literal, tapi kontemporer seperti Amina Wadud (dalam Qur’an dan Woman) membaca ulang sebagai metafor kekuatan feminim yang regeneratif.
Di konteks Indonesia, perempuan petani di Jawa Barat yang kehilangan lahan akibat industrialisasi sawit adalah “Maryam kontemporer” (QS. Maryam: 23-26), yang bertahan di alam liar dengan ketabahan. QS. Al-A’raf: 189 (“Dia menjadikan daripada keduanya satu diri. lalu dari diri itu Dia pasangkan istrinya”) menegaskan kesetaraan ontologis manusia dengan alam–perempuan bukan subordinat, tapi mitra bumi dalam menjaga mizan.
Ekofeminisme Qur’ani menolak narasi patriarkal yang menyalahkan perempuan atas “dosa asal” (seperti Hawa), sebaliknya memuliakannya sebagai khalifah ekologi. Contoh nyata: komunitas perempuan di Lombok yang memimpin reboisasi pasca-erupsi Rinjani, mengaplikasikan QS. Hud: 61 (“Dan kepada kaum Tsamud (Kami utus) saudara mereka Shaleh. Dia berkata: ‘Wahai kaumku, sembahlah Allah, tidak ada bagimu selain Dia tuhan. Dia telah minciptakan kamu dari bumi…’”)
Menuju Aksi: Tauhid Ekologis Feminis
Tafsir ini bukan teori kosong. Di tengah COP29 yang gagal capai konsensus, umat Islam harus gerakkan ekofeminisme Qur’ani lewat fatwa Muhammadiyah\PNU tentang larangan deforistasi, atau program perempuan nahdliyin dalam pertanian organik. Indonesia, dengan 87% Muslim, bisa jadi laboratorium global: masjid sebagai pusat edukasi iklim, perempuan sebagai ujung tombak restorasi magrove.
Al-Qur’an menutup dengan QS. Ar-Rahman: 7-9: “Dan langitlah Dia tinggikan dan Dia ciptakan mizan (timbangan). Agar kamu tidak melanggar dalam mizan.” Krisis iklim adalah panggilan kembali: harmonikan perempuan, bumi, dan Tuhan. Bukan akhir, tapi awal tauhid hijau yang inklusif.
Editor: Astyra Gita