Rabu, Oktober 7, 2026
Kalimahsawa.ID
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
Kalimahsawa.ID
No Result
View All Result

Digitalisasi Era Society 5.0 Tantangan IMM dalam Bidang Kesehatan: Tadabur Pemikiran Kuntowijoyo

Naufal Febrian by Naufal Febrian
Oktober 13, 2025
in Esai, IMM, Narasi
0
Digitalisasi Era Society 5.0 Tantangan IMM dalam Bidang Kesehatan: Tadabur Pemikiran Kuntowijoyo
23
SHARES
138
VIEWS

Oleh: Naufal Febrian

Dunia telah mengalami empat gelombang revolusi industri. Revolusi industri 1.0 berawal dari tahun 1784 M, ditandai dengan penggunaan mesin uap untuk kegiatan industri. Pada tahun 1870, setelah Nikola Tesla dan Thomas menemukan jawaban atas permasalahan listrik atau tenaga listrik, maka terjadilah kegiatan produksi massal bertenaga listrik dan inilah penanda munculnya revolusi industri 2.0. Pada tahun 1970 muncul revolusi industri 3.0 yang ditandai dengan penggunaan teknologi informasi dan mesin berbasis komputer. Revolusi industri yang mutakhir yakni revolusi industri 4.0.

TulisanTerkait

Refleksi Tahanan Politik Aksi 2025: Menulis untuk Rekan Juang yang Terpenjara

Ketika Prestasi Menjadi Ukuran: Membangun Organisasi Berbasis Meritokrasi

Wacana Digitalisasi Ikatan: Mengapa Satu Data IMM penting?

Kondisi Indonesia yang masih berkutat dengan revolusi industri 4.0 tersebut mengidentifikasi Indonesia belum siap untuk menyambut era Society 5.0. Padahal, era Society 5.0 diperkenalkan Jepang tahun 2019 lalu. Hal ini menjadi problem di Indonesia yang selalu menyambut sebuah era dengan keterlambatan. Oleh karena itu, tulisan ini bertujuan sebagai bentuk kritik sekaligus solusi untuk IMM sebagai agent of change berlandaskan pemikiran Kuntowijoyo dalam melahirkan konsep kesehatan di era Society 5.0.

Tahun 2019, seorang mantan Perdana Menteri Jepang bernama Shinzo Abe mencetuskan istilah Society 5.0 yang dianggap menjadi pengganti terhadap era revolusi industri 4.0 yang menerbitkan penggunaan robot cerdas , era Society 5.0 justru menjadikan manusia sebagai tokoh utama dalam perkembangan maupun penggunaan teknologi. Perubahan yang diakibatkan dari adanya era Society 5.0 memaksa masyarakat dunia untuk kembali beradaptasi dan saling berlomba-lomba untuk menciptakan inovasi terbaru sebagai bentuk penyesuaian dari perkembangan yang terjadi. Lantas, bagaimana respons IMM terhadap perkembangan era Society di Indonesia? Apakah sudah mendapatkan jawaban dari hal tersebut?

Tidak jauh berbeda dengan negara-negara lainnya, Indonesia juga terus mengeluarkan berbagai macam inovasi untuk menghadapi berbagai perubahan yang terjadi di era Society 5.0 ini. Hampir seluruh sektor di Indonesia dengan serius menerapkan perubahan teknologi dari revolusi industri 4.0 menjadi Society 5.0 sejak awal tahun 2020 selaras dengan terjadinya pandemi Covid-19 di negara ini, tak terkecuali pada sektor kesehatan

Telemedicine adalah salah satu bentuk dari penerapan Society 5.0 dalam bidang kesehatan. Aplikasi telemedicine diartikan sebagai layanan kesehatan jarak jauh yang memungkinkan masyarakat melakukan konsultasi online bersama para dokter dan ahli kesehatan lainnya tanpa harus datang langsung ke tempat layanan kesehatan. Cukup dengan mengakses aplikasi melalui handphone yang dilengkapi dengan jaringan internet, masyarakat dapat langsung berkomunikasi dengan penyedia layanan kesehatan yang dibutuhkan. Tidak hanya mencakup penyedia layanan kesehatan dalam negeri saja, telemedicine memungkinkan masyarakat dapat berkomunikasi dengan penyedia layanan kesehatan di luar Indonesia.

Tren penggunaan telemedicine semakin meningkat seiring dengan dikeluarkannya kebijakan pemerintah yakni pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) sebagai salah satu dampak dari adanya pandemi Covid-19. Kemudahan yang ditawarkan oleh telemedicine menjadikan aplikasi ini dengan mudah hidup berdampingan dalam kehidupan masyarakat Indonesia, mulai dari remaja hingga lansia. Kemunculan aplikasi telemedicine memaksa para profesional kesehatan untuk beradaptasi dengan perkembangan teknologi yang ada. Tidak hanya mempersiapkan pengetahuan diagnosis dan pengobatan pasien, tetapi juga pengetahuan teknologi baru untuk menciptakan penemuan dan metode baru sebagai upaya meningkatkan kualitas pelayanannya pada pasien.

Peran Mahasiswa Sebagai Agent of Change

Mahasiswa sebagai generasi penerus bangsa sekaligus sebagai agent of change dalam masyarakat juga perlu mempersiapkan diri dalam menyambut perubahan dari revolusi industri 4.0 menuju era Society 5.0. Kemudahan akses informasi yang ditawarkan dapat dimanfaatkan oleh mahasiswa, termasuk mahasiswa kesehatan, untuk terus menggali berbagai informasi mengenai perkembangan teknologi sesuai konsentrasi bidang yang diambil agar mampu bersaing baik dalam kancah nasional maupun internasional. Sejalan dengan adanya peningkatan kualitas dari generasi muda Indonesia, diharapkan akan membawa dampak positif bagi perkembangan teknologi yang ada di Indonesia, khususnya dalam bidang kesehatan.

Digitalisasi kesehatan dengan dukungan Teknologi 5.0 menawarkan mahasiswa memiliki peluang besar untuk meningkatkan kualitas, efisiensi, dan akses layanan kesehatan. Namun, agar manfaat ini benar-benar dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat, tantangan-tantangan yang ada perlu diatasi secara sistematis. Diperlukan kerja sama antara pemerintah, sektor swasta, tenaga kesehatan, dan masyarakat luas untuk menciptakan ekosistem digital kesehatan yang aman, inklusif, dan berkelanjutan. Dengan langkah yang tepat, transformasi ini bukan hanya sekadar perubahan teknologi, tetapi juga lompatan besar menuju sistem kesehatan yang lebih manusiawi dan adaptif terhadap masa depan.

Menarik kesimpulan dari apa yang saya coba tuangkan dalam tulisan ini, ketiga konsep pilar utama yang digagas Kuntowijoyo seharusnya beririsan dengan awal munculnya peradaban hingga modernisasi zaman. Menuju solusi pembaharuan yang coba saya lihat peluangnya adalah sebercak harapan untuk umat, tentu dengan mesin penggerak yaitu Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah itu sendiri. Mulai dari pendalaman permasalahan masyarakat hingga pembelajaran digitalisasi yang coba ditawarkan. Mengutip perkataan Ketua Umum DPP IMM Bidang Riset dan Teknologi, “Gerakan sosial profetik adalah kompas pergerakan hari ini”. Inilah yang menjadi refleksi kita bersama sebagai dasar gerakan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah menindaklanjuti hal ini adalah dengan membuat:

Implementasi teknik instrumentasi juga penting dalam pengembangan teknologi kesehatan di era Society 5.0. Sensor medis yang sensitif dan akurat dapat digunakan untuk memantau kondisi kesehatan pasien secara real-time. Peralatan diagnostik canggih juga dapat digunakan untuk mendeteksi dini penyakit dan mengoptimalkan perawatan medis. Teknik instrumentasi juga berperan dalam mendukung perkembangan Industri 4.0 menuju Society 5.0. Sensor dan peralatan instrumen pintar dapat digunakan untuk mengumpulkan data produksi, mengontrol proses produksi, dan memantau kualitas produk. Hal ini akan meningkatkan efisiensi produksi, mengurangi kesalahan, dan meningkatkan keunggulan kompetitif industri.

Penelitian Kazi (2016) mengemukakan bahwa teknologi kesehatan seluler (mHealth) memiliki potensi untuk mengubah pemberian layanan kesehatan. Di mana-mana dan biaya marjinal rendah membuatnya sangat terukur dan berpotensi hemat biaya. Sebaliknya, teknologi mHealth yang dirancang dengan buruk dapat mengakibatkan pengguna yang tidak puas, retensi yang buruk, efektivitas berkurang, dan biaya kesalahan meningkat. Tentu saja, mHealth harus menarik minat masyarakat, untuk mendeteksi sejak dini riwayat penyakit seseorang dalam populasi (demografi) tertentu dan perlakuan seperti apa yang diperlukan dan informasi kesehatan apa yang perlu disosialisasikan sesuai dengan data lapangan. Ini sesuai dengan arahan WHO dalam pedoman rekomendasi tentang intervensi digital untuk penguatan sistem kesehatan yang diterbitkan tahun 2019.

Era disrupsi telah tiba. Produk lembaga kesehatan maupun program layanan kesehatan sudah saatnya meninggalkan cara-cara usang yang hanya berhenti dalam deklarasi-sosialisasi. Menumbuhkan perilaku disruptif menjadi bagian penting dalam mengelola germas, bukan sekadar slogan proyek dan bagi-bagi goody bag, namun mengubah mindset germas sebagai produk sosial yang sarat kemaslahatan. Di sinilah peran penting Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah sebagai basis gerakan memikirkan hal tersebut dalam skala nasional.

Editor: Rafidah Azis

Terkait

Tags: AgentOfChangeEra 5.0Muhammadiyah
Previous Post

Media Pembelajaran Al-Qur’an: Memanfaatkan Inovasi Digital untuk Meningkatkan Pemahaman

Next Post

Krisis Moral dan Akhlak, PONPES Muhammadiyah Qursains Gelar Launching Buku Bertemakan Falsafah Pendidikan Akhlak

Naufal Febrian

Naufal Febrian

Next Post
Krisis Moral dan Akhlak, PONPES Muhammadiyah Qursains Gelar Launching Buku Bertemakan Falsafah Pendidikan Akhlak

Krisis Moral dan Akhlak, PONPES Muhammadiyah Qursains Gelar Launching Buku Bertemakan Falsafah Pendidikan Akhlak

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Tentang Kalimahsawa.id
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan
Contact Person: 085850332866

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.

No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.