Oleh: M. Fadlan Ansori (Mahasiswa FAI UMS)
Transformasi digital telah mengubah wajah pendidikan secara menyeluruh. Proses belajar-mengajar kini tidak lagi terbatas pada ruang kelas dan papan tulis, melainkan telah berpindah ke ruang virtual yang cepat, instan, dan penuh distraksi. Di tengah perkembangan ini, pendidikan agama, khususnya Pendidikan Agama Islam (PAI), mengalami tantangan yang tidak ringan. Nilai-nilai luhur seperti kejujuran, empati, dan spiritualitas kini harus disampaikan melalui medium yang kerap kali lebih menarik perhatian pada visual dibandingkan makna.
Hal ini menimbulkan pertanyaan besar: bagaimana pendidikan agama dapat bertahan di era digital tanpa kehilangan ruhnya? Apakah cukup dengan memindahkan materi ke layar dan berharap nilai-nilai tetap tersampaikan? Atau justru dibutuhkan transformasi mendalam dalam cara guru mengajar dan menyampaikan nilai? Inilah perenungan yang harus dijawab oleh para pendidik, khususnya guru PAI di masa kini.
Digitalisasi menghadirkan kemudahan akses terhadap berbagai materi keagamaan. Buku-buku Islam, video kajian, podcast dakwah, hingga aplikasi ibadah tersedia luas di dunia maya. Namun, kemudahan ini tidak otomatis berbanding lurus dengan pendalaman nilai. Peserta didik bisa saja terbiasa mengonsumsi konten agama secara cepat tanpa pemahaman yang kritis dan reflektif terhadap substansi ajarannya. Di sinilah peran guru PAI menjadi sangat penting: membimbing siswa menyaring, memahami, dan menginternalisasi nilai dari setiap informasi yang mereka temui.
Sayangnya, tidak sedikit guru yang hanya memindahkan metode pengajaran lama ke platform digital. Ceramah satu arah tetap dominan, hanya medianya saja yang berubah dari ruang kelas menjadi layar laptop atau ponsel. Padahal, pembelajaran di era digital menuntut pendekatan yang lebih partisipatif dan bermakna. Guru harus mampu menciptakan pengalaman belajar yang dialogis, interaktif, serta menyentuh dimensi afektif dan spiritual siswa.
Tantangan lainnya adalah munculnya figur-figur keagamaan populer di media sosial. Tak jarang siswa lebih antusias terhadap ceramah singkat di TikTok daripada penjelasan guru di sekolah. Ini menandakan adanya perubahan pola otoritas keagamaan yang perlu direspons secara cerdas. Guru PAI tidak bisa hanya mengandalkan status formalnya, tetapi perlu membangun kedekatan makna dan relevansi pesan dengan kehidupan siswa saat ini.
Oleh karena itu, guru perlu mengembangkan strategi pengajaran yang tidak hanya menyampaikan materi, tetapi juga mampu menggugah kesadaran. Bukan sekadar hafalan dalil, melainkan penghayatan terhadap nilai-nilai yang bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, bahkan di tengah ekosistem digital yang penuh tantangan moral dan budaya populer.
Sebagai calon guru PAI, saya melihat bahwa pendidikan agama tidak cukup hanya “ikut digital.” Guru perlu membangun hubungan emosional dan spiritual dengan peserta didik, bahkan di ruang daring. Teknologi seharusnya menjadi alat, bukan pengganti nilai.
Saya percaya, nilai keislaman tetap bisa ditanamkan dengan kuat jika guru mampu menjadi teladan dan fasilitator yang bijak. Tantangan ini berat, tetapi juga membuka peluang untuk menjadikan pendidikan agama lebih bermakna dan kontekstual.
Digitalisasi bukan musuh pendidikan agama, tetapi ujian. Ia menantang guru untuk bertransformasi, bukan sekadar beradaptasi. Jika mampu menjawab tantangan ini, pendidikan agama bisa tetap relevan, bahkan lebih hidup, dalam membentuk karakter generasi digital.
Editor: Rafidah Azis