KALIMAHSAWA.ID, Surakarta —Pendidikan seksual masih sering dianggap tabu di masyarakat Indonesia. Padahal, Islam sejak awal menekankan pentingnya menjaga diri, memahami tubuh, dan melindungi kehormatan. Nilai hifdz al-nafs (menjaga jiwa) dan hifdz al-nasl (menjaga keturunan) menunjukkan bahwa pendidikan seksual bukanlah hal yang terlarang, melainkan bagian dari ikhtiar menjaga martabat manusia.
Di sisi lain, kelompok remaja penyandang tunagrahita menghadapi tantangan lebih berat. Tunagrahita adalah kondisi keterbatasan intelektual yang membuat seseorang mengalami kesulitan dalam belajar, berkomunikasi, maupun memahami informasi. Mereka tetap memiliki hak yang sama untuk tumbuh, belajar, dan melindungi diri, namun akses pendidikan—termasuk pendidikan seksual—sering kali tidak mereka dapatkan secara memadai.
Berangkat dari kepedulian ini, sekelompok mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) merancang program pendidikan seksual inklusif bagi remaja tunagrahita. Tim yang diketuai Nur Ramadhan Azizun Hakim, bersama Muhammad Latif Fazlullah Liansah, Salmalia Hera Dewinta, Aisyah Aditya Wulandari, dan Nasya Najwa Anabella Firdausy, dengan bimbingan Dwi Linna Suswardany, S.KM., M.PH., mengembangkan media pembelajaran Interactive Visual Cards.
Dengan kartu bergambar dan aktivitas interaktif, materi tentang tubuh, batasan diri, serta perlindungan pribadi disampaikan dengan cara yang sederhana dan mudah dipahami. Inovasi ini bukan hanya memudahkan pembelajaran, tetapi juga memberi ruang bagi remaja tunagrahita untuk memahami hak mereka atas tubuh dan keselamatan diri.
Program tersebut berhasil lolos pendanaan nasional PKM-PM 2025 Belmawa Dikti, setelah melalui seleksi ketat dari puluhan ribu proposal mahasiswa di seluruh Indonesia. Namun lebih dari prestasi, program ini menjadi pesan penting: pendidikan seksual tidak boleh lagi dianggap tabu.
Dengan semangat Islam berkemajuan, mahasiswa UMS mengajak masyarakat untuk memahami bahwa setiap remaja—termasuk mereka yang memiliki keterbatasan intelektual—berhak memperoleh pengetahuan untuk menjaga diri. Dari Surakarta, pesan itu ditegaskan: kepedulian adalah bagian dari ibadah, dan pendidikan adalah jalan dakwah yang menebarkan rahmat.