Rabu, Oktober 7, 2026
Kalimahsawa.ID
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
Kalimahsawa.ID
No Result
View All Result

Dari Pengajian Rutin untuk Semesta

Fahrul Rozi by Fahrul Rozi
November 19, 2023
in Esai
0
Tali Pengikat Hidup Manusia

Ilustrasi Foto Ahmad Dahlan dari google

28
SHARES
162
VIEWS

Muhammadiyah di akar rumput tidak bicara muluk-muluk, ruh pengajian untuk menghidupkan peradaban Spritual yang berbasis intelektual dan membumi menjamah kehidupan sosial.

Mengutip juga perkataan Pak AR Fachruddin bahwa ruhnya Muhammadiyah adalah pengajian. Hal ini karena Muhammadiyah berdiri dan besar karena berangkat dari kajian ke kajian. Tidak bisa dipungkiri kajian ini menghasilkan gerakan ide dan gerakan jama’ah yang pada gilirannya menjadi jam’iyah Muhammadiyah.

TulisanTerkait

Refleksi Tahanan Politik Aksi 2025: Menulis untuk Rekan Juang yang Terpenjara

Ketika Prestasi Menjadi Ukuran: Membangun Organisasi Berbasis Meritokrasi

Wacana Digitalisasi Ikatan: Mengapa Satu Data IMM penting?

Berbeda dengan di Pimpinan Daerah dan Wilayah Muhammadiyah sudah berfokus pada pemberdayaan koordinasi warga persyarikatan di tingkat bawah, pengelolaan AUM dan keterhubungan pusat dan akar harus terkoneksi dengan baik. Sebab, hal ini nantinya yang akan menjadi cikal bakal jalan utama pengembangan bagi setiap Ranting dan Cabang di pelosok Nusantara dapat terhubung dan terkoneksi dengan arahan Pimpinan pusat Muhammadiyah

Muhammadiyah pada tingkat Pusat tentunya bertanggung jawab penuh atas jalannya peta persyarikatan selama periode berlangsung.

Namun, perlu kita ketahui bersama bahwa elite Muhammadiyah tentunya juga tidak hanya sekedar mengelola Muhammadiyah dari tingkat  Ranting sampai Wilayah. Melainkan juga menjadi rahim lahirnya gagasan berkemajuan di setiap bidang sebagai ilham untuk menjawab persoalan kehidupan beragama dan berkemanusiaan.

Kehidupan masyarakat indonesia sangat komprehensif berbanding lurus dengan segala jenis permasalahan di dalamnya. Mulai dari Sosial-politik yang selalu hadir dengan keunikannya, beberapa kali juga hadir secara menjijikan seperti akhir-akhir ini.

Pun juga permasalahan pendidikan yang masih carut-marut, terombang ambing kadang tak tentu arah. Akibat perubahan yang terus terjadi serta terkesan terpaksa. Hal ini juga tidak berbanding lurus dengan keadaan serta kesiapan penyelenggara pendidikan pada tingkat bawah di pelosok nusantara. Lebih kompleks lagi permasalahan kesehatan bangsa ini.

Tentu kita tidak kaget dengan jiwa besar Muhammadiyah atas hal-hal ini. Pun penulis juga tidak sedang memuji Muhammadiyah secara berlebihan. Sederhananya, penulis menyampaikan keadaan memang berdasarkan konsistensi Muhammadiyah sebagai ibu bangsa yang mengayomi dengan sepenuh hati.

Ada satu pesan menarik saat pengajian yang ingin penulis sampaikan berdasarkan pengalaman dan pelajaran yang penulis dapatkan dari tokoh-tokoh hebat Muhammadiyah. Pesannya begini “Ciri utama orang Muhammadiyah itu adalah ikhlas, kalau seorang tersebut belum ikhlas, masih ria pamer dan masih menghitung-hitung usahanya untuk persyarikatan ini, Inysa Allah orang tersebut belum memahami Muhammadiyah”.

Penulis kira hal ini begitu konsisten adanya mulai dari tingkat ranting sampai tingkat pusat yang dilakukan oleh Muhammadiyah bahkan sampai keluar negeri. Inilah yang menjadi nafas dan ruh utama ciri khas Muhammadiyah tidak hanya menuntun pada nilai keagamaan tapi juga realistis melakukan solusi aksi transformasi sosial menuju masyarakat madani.

Milad Muhammadiyah ke-111

Selamat Milad Persyarikatanku, Tema “Ikhtiar Menyelamatkan Semesta” merupakan satu kalimat yang mewakili refleksi narasi panjang yang penulis tuliskan diatas berdasarkan rasa dan pengalaman bermuhammadiyah. Menyoroti tema milad kali ini menandakan Muhammadiyah akan fokus terhadap isu-isu lingkungan yang beberapa tahun terakhir sudah terasa perubahan iklim.

Isu ini patut menjadi perhatian kita bersama, mengingat bumi yang kita pijak wajib hukumnya kita rawat dan jaga. Sebab jika bumi rusak, maka manusia akan sengsara dan berujung kematian massal.

Terakhir penulis ingin mengutip perkataan pendiri Muhammadiyah bahwa Muhammadiyah pada masa sekarang ini berbeda dengan Muhammadiyah pada masa mendatang. Karena itu hendaklah warga muda-mudi Muhammadiyah hendaklah terus menjalani dan menempuh pendidikan serta menuntut ilmu pengetahuan (dan teknologi) di mana dan ke mana saja. (KH Ahmad Dahlan)

Terkait

Tags: IslamMuhammadiyahPeradaban
Previous Post

Peran Ayah dalam Keluarga Menurut Al-Qur’an

Next Post

Hate Speech Dalam Perspektif Sila Kedua Pancasila

Fahrul Rozi

Fahrul Rozi

Pengasuh Pondok Pesantren Baiturrohmah Muhammadiyah Banyuresmi Garut

Next Post
beretika media sosial

Hate Speech Dalam Perspektif Sila Kedua Pancasila

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Tentang Kalimahsawa.id
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan
Contact Person: 085850332866

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.

No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.