Baru sekali saya mendatangi panggung Didi Kempot. Saat itu bertepatan dengan perayaan hari jadi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), pada 23 Juli 2019. Para sobat ambyar memenuhi halaman markas partai berbendera hijau tersebut. Penggemar Didi Kempot begitu militant dan sangat menikmati penampilan idola mereka. Hingga ada yang sampai menangis.
Ada pemandangan menarik yang menjadi fokus saya kala itu. Mereka yang hadir seperti larut dengan lirik lagu yang dibawakan pria bernama lahir Dionisius Prasetyo. Gurat-gurat bahagia yang ditunjukkan lewat sorot mata para penonton begitu membekas bagi saya. Di situ saya tahu, Didi Kempot mengajarkan kepada kita: pengalaman patah hati tak harus melulu diratapi dengan kesedihan tanpa ujung.
Baca Juga: Dasar Kemanusiaan dan Teologi Al Ma’un Pemuda Muhammadiyah
Lagu-lagu Didi Kempot menawarkan cara bagi kita untuk meredam kekecewaan akibat ditinggal kekasih, diputus cinta, atau peristiwa menyayat lainnya menyangkut asmara. Caranya tampak sederhana tapi begitu ajaib dampaknya: dengan cara berjoget sembari bernostalgia dengan pengalaman-pengalaman tersebut.
Cara Mengobati Patah Hati
Di panggung tersebut saya melihat pemandangan, bagaimana para penonton laki-laki tidak ragu-ragu untuk meluapkan tangis mereka. Menampakkan betapa hancur perasaan mereka ketika hubungan yang telah terbina dengan pasangan harus retak. Kandas di tengah jalan, tidak seperti yang diimpikan. Semua emosi terenyuh, nyesek, ngenes, nelangsa, dan menyesal seperti tumpah ruah menjadi satu, tiap kali lagu Didi Kempot berkumandang.
Melalui lagu Didi Kempot, kita diberikan ruang merayakan kesedihan. Siapapun memiliki kebebasan untuk menangisi setiap sejarah patah hatinya.
Meruntuhkan anggapan bahwa laki-laki pantang berurai mata. Karena pada dasarnya, laki-laki juga manusia yang memiliki emosi dan sensitivitas.
Didi Kempot seperti mempersilakan setiap dari kita untuk menghidupi riak-riak luka dari perjalanan asmara. Bahwa sakitnya patah hati juga membekas begitu kuat bagi laki-laki. Penyanyi yang merupakan saudara Mamiek Prakosa ini menghadirkan prinsip: laki-laki tidak selalu dicitrakan sebagai sosok yang tangguh dan tegar dalam segala kondisi dan badai yang menghantam kehidupan.
Mereka berhak juga mengenang lara lewat tangis. Bisa pula lewat muka yang mendadak tertunduk tatkala mendengarkan lagu Didi Kempot yang liriknya terasa dekat secara emosional.
Laki-Laki Menangis Bukan Hal Tabu
Ada binar-binar kelegaan yang terpancar dari penonton pria seusai Didi Kempot bernyanyi. Mereka menyeka air mata. Menutupi mata menggunakan telapak tangan, mungkin sembari mengingat memori pahit yang sempat ditelan. Tapi tak lama, mereka usap semua tangis lalu menyunggingkan senyum.
Sudah banyak video dokumentasi yang merekam dahsyatnya lagu Didi Kempot dalam membuat tangis para laki-laki. Di konser Didi Kempot, para lelaki kini berani menumpahkan getirnya pilu yang membelit. Menangis di ruang terbuka untuk para lelaki bukanlah hal tabu lagi.
Seperti ada kesadaran yang dibangun oleh Didi Kempot bahwa semua kepedihan yang melanda pasti akan berlalu. Didi Kempot mengantarkan kita kepada cara-cara sederhana untuk menikmati dan “nerimo” dengan keadaan.
Baca Juga: Hikmat Hidup: Harmoni Artistik Nicolaus Cusanus
Dari situ saya menyimpulkan, lagu-lagu Didi Kempot menyuguhkan pengharapan. Hadir sebagai penguat untuk yang kalah dan terkoyak oleh nasib buruk. Terima kasih telah menemani setiap fase-fase percintaan kami. Surga akan senang mendapatkan penghuni baru sepertimu, Pakde. Sugeng tindak!
Sumber Ilustrasi: viva.co.id