KALIMAHSAWA.ID, Tulungagung – Di tengah derasnya arus globalisasi dan perubahan ekonomi, membangun usaha tidak lagi sekadar berbicara tentang keuntungan. Bagi sebagian anak muda, bisnis telah menjadi ruang pengabdian, sarana dakwah, sekaligus ikhtiar menghadirkan manfaat bagi masyarakat. Semangat inilah yang tercermin dalam perjalanan Syofatun Nadifah, kader Muhammadiyah sekaligus mahasiswi STAI Muhammadiyah Tulungagung, yang memilih mengembangkan Eco Crafting ID, sebuah usaha berbasis batu alam Campurdarat sebagai wujud implementasi Islam Berkemajuan dalam bidang ekonomi.
Berangkat dari kecintaannya terhadap potensi daerah, Syofatun melihat bahwa marmer Campurdarat bukan sekadar material bangunan yang selama ini dikenal luas. Di balik setiap bongkahan batu alam tersimpan nilai seni, kreativitas, dan peluang ekonomi yang mampu menggerakkan kesejahteraan masyarakat apabila dikelola dengan inovasi dan visi jangka panjang.
“Sejak awal saya melihat bahwa marmer bukan hanya material bangunan, tetapi memiliki nilai seni dan potensi ekonomi yang sangat besar. Potensi ini seharusnya tidak berhenti sebagai bahan baku, melainkan mampu diolah menjadi produk yang memiliki nilai tambah sehingga manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat,” ungkap Syofatun.
Berangkat dari gagasan tersebut, lahirlah Eco Crafting ID, sebuah usaha yang mengembangkan berbagai produk berbahan batu alam dengan mengedepankan kualitas, estetika, serta inovasi desain. Melalui usaha ini, Syofatun berupaya menghadirkan wajah baru industri batu alam Campurdarat agar lebih adaptif terhadap perkembangan pasar sekaligus mampu bersaing di era ekonomi kreatif.
Namun, perjalanan Eco Crafting ID tidak hanya dimaknai sebagai aktivitas bisnis. Sebagai kader Muhammadiyah, Syofatun memandang bahwa usaha yang dibangunnya merupakan bagian dari dakwah bil hal, yaitu dakwah melalui tindakan nyata yang memberikan manfaat bagi sesama.
Baginya, nilai-nilai Islam Berkemajuan tidak cukup dipahami sebagai konsep pemikiran, tetapi harus diwujudkan dalam praktik kehidupan, termasuk dalam dunia usaha. Profesionalisme, kejujuran, amanah, inovasi, dan keberpihakan terhadap kemaslahatan menjadi prinsip yang terus dipegang dalam menjalankan Eco Crafting ID.
“Dakwah tidak selalu dilakukan melalui mimbar. Ketika usaha mampu membuka peluang kerja, mengangkat potensi daerah, dan memberi manfaat kepada masyarakat, di situlah dakwah menemukan bentuk nyatanya,” tuturnya.
Semangat tersebut menjadikan Eco Crafting ID hadir bukan semata sebagai merek dagang, melainkan sebagai ruang pemberdayaan ekonomi masyarakat. Melalui pengembangan produk batu alam, Syofatun ingin menunjukkan bahwa kekayaan lokal dapat menjadi fondasi kemandirian ekonomi apabila dikelola dengan ilmu, kreativitas, dan kolaborasi.
Di tengah persaingan industri yang semakin kompetitif, ia memilih jalan yang berbeda. Menurutnya, keberhasilan usaha tidak harus dibangun melalui perang harga, tetapi melalui kualitas produk, pelayanan terbaik, dan pengalaman yang mampu membangun kepercayaan pelanggan.
Karena itu, Eco Crafting ID terus mengembangkan desain yang mengikuti kebutuhan pasar, menjaga kualitas di setiap proses produksi, serta membangun kemitraan dengan berbagai pihak, mulai dari kontraktor, arsitek, desainer interior, hingga pelaku UMKM lainnya.
“Kolaborasi menjadi bagian penting dalam perjalanan kami. Melalui kerja sama, kami tidak hanya memperluas jaringan, tetapi juga terus belajar agar usaha ini mampu berkembang secara berkelanjutan,” jelasnya.
Sebagai generasi yang tumbuh di era digital, Syofatun juga menyadari pentingnya pemanfaatan teknologi dalam mendukung pengembangan usaha. Media sosial tidak hanya digunakan sebagai sarana promosi, tetapi juga sebagai ruang edukasi untuk memperkenalkan kualitas batu alam Campurdarat, proses produksi, hingga nilai yang terkandung dalam setiap produk yang dihasilkan.
Digitalisasi, menurutnya, menjadi jembatan untuk memperluas pasar sekaligus meningkatkan efektivitas pengelolaan usaha, mulai dari komunikasi dengan pelanggan, administrasi, hingga pemasaran.
Di balik berbagai pencapaian tersebut, perjalanan membangun Eco Crafting ID tentu tidak lepas dari tantangan. Salah satu tantangan terbesar adalah mengubah cara pandang masyarakat bahwa marmer tidak hanya berfungsi sebagai material bangunan, tetapi juga memiliki potensi besar sebagai produk dekoratif dan karya seni bernilai tinggi.
Selain itu, menjaga kualitas produk di tengah perubahan tren pasar juga menjadi pekerjaan yang terus dilakukan.
“Tantangan bukan sesuatu yang harus dihindari. Justru dari tantangan itulah kami belajar, melakukan evaluasi, berinovasi, dan memperbaiki kualitas agar usaha ini terus bertumbuh,” katanya.
Semangat belajar itulah yang terus mengiringi perjalanan Syofatun sebagai entrepreneur muda. Ia meyakini bahwa bisnis akan terus berkembang apabila pelakunya memiliki kemauan untuk belajar, terbuka terhadap perubahan, dan tidak pernah berhenti meningkatkan kapasitas diri.
Pandangan tersebut sejalan dengan perjalanan yang ia tempuh sebagai mahasiswa dan kader Muhammadiyah. Baginya, dunia akademik, organisasi, dan kewirausahaan bukanlah tiga hal yang saling bertentangan, melainkan saling menguatkan. Kampus membentuk cara berpikir kritis, organisasi menanamkan nilai kepemimpinan dan pengabdian, sedangkan dunia usaha menjadi ruang implementasi ilmu sekaligus media pemberdayaan masyarakat.
Kehadiran Eco Crafting ID juga menjadi bukti bahwa kemandirian finansial dapat dibangun tanpa meninggalkan idealisme sebagai kader persyarikatan. Justru melalui usaha inilah nilai-nilai Islam Berkemajuan diterjemahkan ke dalam tindakan yang memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
Bagi Syofatun, ukuran keberhasilan sebuah usaha bukan semata pada besarnya omzet yang diperoleh, tetapi pada seberapa luas manfaat yang mampu dihadirkan.
“Jangan takut memulai. Banyak anak muda menunggu waktu yang dianggap tepat, padahal kesempatan terbaik untuk belajar adalah ketika kita berani mengambil langkah pertama. Bangun usaha dengan integritas, terus belajar, dan pikirkan bagaimana usaha itu mampu memberi manfaat bagi lingkungan serta masyarakat,” pesannya.
Ia berharap semakin banyak generasi muda Muhammadiyah yang berani melihat potensi daerah sebagai peluang membangun masa depan. Indonesia memiliki sumber daya alam yang melimpah. Tantangannya bukan terletak pada ketersediaan potensi, melainkan pada keberanian untuk mengolahnya menjadi karya yang bernilai dan menghadirkan kemaslahatan.
Perjalanan Syofatun Nadifah melalui Eco Crafting ID menjadi gambaran bahwa kewirausahaan tidak hanya berbicara tentang pertumbuhan ekonomi, tetapi juga tentang membangun peradaban. Ketika usaha dijalankan dengan nilai-nilai keislaman, semangat inovasi, dan orientasi pemberdayaan, bisnis dapat menjadi jalan dakwah yang menguatkan ekonomi umat sekaligus menghadirkan kebermanfaatan bagi masyarakat luas.
Di tengah tantangan zaman, kisah ini menjadi pengingat bahwa Islam Berkemajuan bukan hanya hidup dalam wacana, melainkan menemukan maknanya melalui karya, kolaborasi, dan pengabdian. Dari batu alam Campurdarat, lahir sebuah ikhtiar yang membuktikan bahwa membangun usaha juga berarti membangun harapan, menggerakkan umat, dan menghadirkan kemajuan bagi bangsa.
Kontributor: Jihan Muthaharoh