Sepeda dapat berjalan karena memiliki roda yang bundar. Bila tidak ditemukan roda yang bundar, tidak akan ada pergerakan dalam bersepeda. Roda yang sederhana bagi saya adalah penemuan tergenius umat manusia. Karena Roda itulah maka terjadi revolusi teknologi dari menggunakan binatang tunggangan. Roda yang bundar adalah awal dari kehidupan teknologi, karena itu kita dapat belajar dari roda yang bundar.
Pada ban roda kita belajar mengenai isi yang memengaruhi keseimbangan, jalinan jari-jari yang menguatkan, dan pentil kecil yang menjaga keberadaan kita. Ban sepeda bergantung pada angin yang mengisinya. Ia bisa berjalan ketika angin mengisi ban itu. Namun isi ban itu dapat menghilangkan karena kempes/bocor oleh pemuaian panas, juga oleh lubang yang disebabkan oleh paku atau benda tajam lainnya.
Angin pada ban adalah modal kehidupan yang bisa saja aus karena terus- menerus dipakai atau oleh “kecelakaan” di tengah perjalanan. Semuanya mesti dihadapi dan diselesaikan. Bisa saja kita mengutuk ban yang tiba- tiba kempes, namun kutukan itu tidak menyelesaikan masalah. Yang harus dilakukan adalah memompanya dan atau menambalnya.
Belajar dari Pentil Ban
Pentil ban yang kecil mungkin dianggap remeh. Ia tak beharga dan sangat kecil. Namun tanpa pentil, kebergunaan angin para ban akan musnah. Tanpa pentil, ban baru dan bagus pun akan kehilangan fungsinya. Pentil yang kecil, menentukan fungsi keseluruhan dari ban. Karena ban adalah unsur inti pergerakan sepeda, pentil yang kecil itu adalah penentu pergerakan semua unsur sepeda.
Dalam kehidupan kita , tentu saja ada banyak pentil kecil yang terlihat tak berharga, namun sebenarnya menentukan laju kebahagiaan. Maka perhatian terhadap “yang kecil yang menentukan” itu adalah persyarat kemajuan bersama. Kerap kali kita lupa pada mereka, padahal merekalah yang menentukan laju kemajuan bagi keseluruhan hidup.
Baca Juga: Doa Melancarkan Rezeki
Ban yang bundar tak akan kuat bila tidak ditunjang oleh jari-jari. Lihatlah jalinan antara jari-jari, begitu rumit dan indah. Jari-jari yang kecil itu menghubungkan satu bagian ban dengan bagian ban yang lain. Jari-jari juga menghubungkan lingkaran ban dengan poros gerak. Tanpa jari-jari, lingkaran ban tidak akan terhubung dengan pusat gerak, terlepas begitu saja dan mungkin tak akan beguna. Jari-jari penghubung itu sangat dibutuhkan dalam mengayuh negeri.
Rakyat yang berada di luar gerak zaman, harus terus dihubungkan dengan poros pergerakan sehingga semua pihak bergerak bersama. Melalui jari- jari, ban dapat berputar dan menghasilkan gerak bersama. Melalui jari- jari kehidupan, rakyat dapat digerakkan yang demikian seluruh program kehidupan akan berjalan dengan baik.
Belajar dari Berboncengan dan Beban Perjalanan
Bersepeda bisa saja sendirian, itu merupakan kenikmatan yang mengasyikkan. Namun, dalam hak mengayuh negeri, bersepeda adalah membawa beban yang begitu berat; seluruh permasalah negeri. Boncengan di belakang sana dipenuhi oleh sejumlah masalah, semuanya harus dibawa menuju masa depan secara bersama.
Ketika menaiki sepeda sendirian, Kayuhan sepeda sangat ringan dan nyaman. Namun, ketika ada beban berat, seperti para petani membawa hasil sawah di boncengannya, dibutuhkan tenaga yang kuat dan konsentrasi yang tak biasa. Tetapi itulah resiko membawa beban pergerakan sepeda.
Baca Juga: Pengalaman Moderasi Beragama Hindu-Muslim di Bali
Beban itu untungnya bukan seluruh masalah dalam proses manajemen negeri ini. Sebagain besar beban itu adalah apa yang tidak dapat berfungsi sebagai bagian dari pergerakan. Beban itu lebih berwujud dalam bentuk kemalasan kita dalam mengayuh ini terjadi terutama ketika kita semua, sebagai warga bangsa, mengggap diri sebagai bagian diri sepeda.
Belajar dari Standar
Saat berhenti, sepeda harus diletakkan secara tegak. Begitulah seharusnya Agar sepeda tak gampang rusak. Untuk itu, dibutuhkan standar, yaitu alat yang menentukan posisi berhenti secara baik. Standar inilah yang membuat sepeda dapat dianggap sepeda walaupun ia tidak sedang berjalan. Standar inilah yang membuat sepeda siap untuk dikendarai menuju laju kearah masa depan.
Dalam pergerakan ke arah masa depan, keberadaan standar sangat dibutuhkan. Melalui standar ini kita dapat mengukur kapan saatnya diam sambil tetap siap bergerak, kapan juga saatnya bergerak dengan kesiapan untuk berhenti di titik tertentu. Standar walaupun seperti tidak berguna, merupakan penunjang gerak negeri pada saat ia sedang berhenti sejenak. Tanpa standar, sepeda negeri akan gampang rusak.
Penulis adalah Sekretaris Bidang Asbo PR IPM Panawuan Garut
Editor: Dartim I.R.