Oleh: Dian Hariyanti
Prof. Dr. Haedar Nashir, M.Si. lahir di Bandung pada 25 Februari 1958. Sejak muda, ia sudah akrab dengan dunia keagamaan dan organisasi. Latar belakang keluarganya yang religius membentuk kepribadiannya sebagai sosok yang disiplin dan sederhana. Ia menempuh pendidikan dasar hingga menengah di Bandung, kemudian melanjutkan studi ke Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) dan berhasil meraih gelar doktor di Universitas Gadjah Mada (UGM) dalam bidang sosiologi.
Perjalanan intelektual Haedar Nashir tidak lepas dari tradisi keilmuan Muhammadiyah yang menekankan pentingnya integrasi antara iman dan ilmu. Sejak muda, ia aktif di berbagai kegiatan organisasi mahasiswa, terutama di lingkungan Muhammadiyah. Aktivitasnya di dunia organisasi itulah yang menumbuhkan kesadaran kritis dan kepedulian sosial dalam dirinya.
Sebagai intelektual Muslim, Haedar banyak menghasilkan karya tulis yang membahas isu-isu keislaman, kemodernan, dan kebangsaan. Beberapa karyanya yang terkenal antara lain: Islam Syariat: Reproduksi Salafiyah Ideologis di Indonesia, dan Islam Berkemajuan untuk Peradaban Dunia. Selain dikenal di ranah akademik, Haedar juga memiliki reputasi sebagai pemimpin yang bijak dan moderat. Ia terpilih sebagai Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah sejak tahun 2015 dan kembali dipercaya memimpin pada periode 2022–2027. Dalam kepemimpinannya, ia membawa semangat Islam Berkemajuan yang menjadikan Muhammadiyah sebagai gerakan pencerahan yang menebarkan nilai-nilai kemajuan, kemanusiaan, dan kedamaian.
Latar Belakang Gagasan Pemikiran Prof. Haedar Nashir
Gagasan-gagasan intelektual Haedar Nashir tidak lahir dari ruang hampa. Pemikiran beliau tumbuh dari perjalanan panjang sejarah umat Islam Indonesia, terutama dalam gerakan pembaruan Islam Muhammadiyah. Sejak awal abad ke-20, Muhammadiyah yang didirikan oleh K.H. Ahmad Dahlan (1912) sudah menanamkan semangat modernisasi, menempatkan agama sebagai pendorong kemajuan, bukan penghambat perubahan. Semangat inilah yang kemudian diwarisi dan dikembangkan oleh Haedar Nashir yang lebih kontemporer.
Ketika Haedar mulai aktif di Muhammadiyah dan dunia pemikiran Islam, Indonesia sedang menghadapi dinamika besar. Di satu sisi, modernisasi dan globalisasi mendorong perubahan sosial, budaya, dan teknologi yang pesat. Namun di sisi lain, muncul gejala krisis moral, kemunduran berpikir, serta meningkatnya konservatisme dan ekstremisme agama. Situasi ini melahirkan kegelisahan intelektual bagi banyak cendekiawan Muslim, termasuk Haedar, untuk mencari bentuk keberagamaan yang relevan dengan zaman modern tetapi tetap berakar pada nilai-nilai Islam.
Sebagai akademisi dan sosiolog, Haedar melihat bahwa kemunduran umat Islam bukan terletak pada ajarannya, tetapi pada cara berpikir dan cara memahami agama yang stagnan. Banyak umat yang memahami Islam secara sempit, hanya sebatas ritual dan simbol. Sementara aspek rasional, sosial, dan kemanusiaannya diabaikan. Dari sinilah ia merasa perlu merumuskan kembali wajah Islam yang dinamis, rasional, dan berorientasi pada kemajuan. Inilah yang kemudian melahirkan konsep Islam Berkemajuan.
Selain sosial dan keagamaan, latar historis politik dan kebangsaan Indonesia juga turut memengaruhi lahirnya pemikiran Haedar. Setelah era reformasi, kebebasan berpendapat membuka ruang bagi berbagai kelompok keagamaan, tetapi juga melahirkan perpecahan dan polarisasi identitas. Haedar menilai bahwa umat Islam perlu hadir sebagai kekuatan penyeimbang yang menghadirkan wajah Islam yang toleran, cerdas, dan solutif bagi bangsa. Karena itu, ia menempatkan gagasan modernisasi beragama sebagai jawaban atas tantangan ekstremisme dan kemunduran umat di era modern.
Moderasi Beragama dan Beragama yang Mencerahkan
Salah satu gagasan utama Prof. Haedar Nashir sebagai tokoh Muhammadiyah modern adalah moderasi beragama. Bagi Haedar, modernisasi bukan sekadar menyesuaikan agama dengan zaman, tetapi memperbarui cara berpikir, bersikap, dan berperilaku umat Islam dalam memahami serta mengamalkan ajaran agama. Agama tidak diubah, melainkan cara beragama umat yang perlu dimodernisasi agar lebih rasional dan terbuka.
Ia menilai banyak umat masih terjebak dalam pola keberagamaan formalistik dan simbolik, menganggap agama hanya sebatas ritual tanpa makna sosial dan moral. Padahal, Islam sejatinya mendorong kemajuan dalam semua aspek kehidupan. Karena itu, moderasi beragama menjadi jalan untuk menumbuhkan kembali semangat rasional, etis, dan progresif dalam beragama.
Menurut Haedar, moderasi beragama menuntut integrasi antara iman, ilmu, dan amal. Agama harus menjadi sumber moral bagi kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi, dan kebudayaan. Dalam konteks ini, Muhammadiyah berperan penting sebagai pelopor modernisasi Islam melalui amal usaha di bidang pendidikan, kesehatan, dan pemberdayaan masyarakat. Ia menegaskan bahwa Islam tidak boleh berhenti di mimbar, tetapi harus hadir nyata dalam kehidupan sosial sebagai kekuatan pencerahan.
Haedar juga menekankan pentingnya keseimbangan antara modernisasi dan moderasi. Modern bukan berarti meninggalkan nilai Islam, tetapi menempatkan agama secara proporsional di tengah arus modernitas. Ia menolak ekstrem fundamentalisme maupun liberalisme, dan mengajak umat menghadirkan Islam yang berilmu, toleran, dan berkeadaban. Puncak dari gagasannya terwujud dalam konsep Islam Mencerahkan: Islam yang membawa ilmu, kebaikan, dan kemanusiaan universal sebagai energi moral bagi peradaban yang damai dan berkemajuan.
Prof. Haedar Nashir adalah tokoh intelektual Muhammadiyah yang berpikir modern, rasional, dan moderat. Latar belakang pemikirannya lahir dari keprihatinan terhadap umat Islam yang sering terjebak dalam pola keberagamaan sempit di tengah tantangan zaman. Melalui gagasan moderasi beragama, Haedar menegaskan bahwa Islam tidak perlu diubah, tetapi cara beragama umatlah yang harus diperbarui agar lebih rasional, terbuka, dan berkeadaban. Ia mengajak umat untuk memadukan iman, ilmu, dan amal sebagai wujud Islam Berkemajuan; Islam yang mencerahkan dan membawa kemajuan bagi kehidupan manusia.
Editor: Rafidah Azis