Thailand, pada tanggal 15-19 Februari 2020, Aku bersama teman-teman kelasku di SENS mengadakan filed trip. Selain belajar di kelas, kami juga belajar di lapangan, bertemu dengan para tokoh dan interview kepada orang-orang yang punya sejarah di Thailand. Kadang kami juga belajar dengan berkunjung, menginap dan mengikuti segala aktivitas organisasi, komunitas, temple (candi), rumah, atau kantor yang kami kunjungi.
Bertemu dengan Ajahn Sulak Sivaraksa adalah destinasi utama kami. Tepat pada tanggal 15 Februari 2020 kami bertemu di rumah Ajahn Sulak Sivaraksa yang sunyi, rindang, banyak buku dan tentu penuh inspirasi. Ini adalah pertemuan pertamaku dengan Ajahn Sulak Sivaraksa, sebelumnya Aku hanya pernah mendengar namanya dengan membayangkan betapa indah senyumannya di foto dan nyatanya senyumnya memang indah dan teduh.
Ajahn Sulak Sivaraksa adalah orang yang berpengaruh dan juga terkenal di Thailand. Sebelum Aku berangkat ke Thailand, Aku sedikit belajar dan membaca buku tentang Islam dan perdamaian, salah satu buku yang pernah Ku baca adalah buku karya seorang tokoh Muslim di Thailand yang diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia. Buku tersebut karya Chaiwat Satha Anand yang mana pemikiran Chaiwat itu banyak dipengaruhi oleh Ajahn Sulak Sivaraksa. Sungguh sangat bangga dan Bahagia bisa bertemu dengan Ajahn Sulak.
Kami memulai percakapan tidak dengan prolog, Ajahn Sulak Sivaraksa meminta kami langsung untuk bertanya tentang apapun. Ya, tentang apapun. Aku sedikit shock ketika Ajahn Sulak Sivaraksa berkata: Saya tidak punya prolog, langsung saja bertanya apa yang mau ditanyakan. Wow, ini sungguh berbeda dengan tokoh-tokoh lain yang biasanya membuka perbincangan dengan bercerita tentang kiprah dan capainnya.
Pertemuan pertama membuatku salut. Aku berfikir bahwa Ini artinya kita menggunakan pola komunikasi kultural dan informal tanpa ada gap dan lebih nyaman untuk dilakukan. Tubuhku yang sebelumnya kaku dan banyak keluar keringat berubah menjadi santai dan lentur. Ya, kadangkala Aku takut, bukan takut tapi lebih karena grogi bertemu dengan orang baru terlebih orang hebat dengan alasan karena keterbatasanku dalam berkomunikasi menggunakan Bahasa Inggris yang baik dan benar. walaupun tidak bisa disembunyikan aslinya perasaanku adalah senang bertemu dengan beliau. Apalagi beliau adalah tokoh yang berpengaruh di Dunia, Ia pernah mendapatkan Noble Peace Prize 1995.
Kami mulai memperkenalkan diri dengan meyebutkan nama dan asal Negara. Aku memperkenalkan diri, “Nama saya Hindun Niyatus Sa’adah, biasanya orang memanggil saya Hindun. Saya perwakilan dari Indonesia saya diutus oleh Muhammadiyah.” Entah mengapa Aku selalu bangga dan reflek memperkenalkan diri ke teman-temanku berbeda Negara dengan menyebut Indonesia dan Muhammadiyah. Walaupun begitu, Aku juga sering menyebutkan Nahdlatul ‘Ulama sebagai partner dari Muhammadiyah. Kebetulan, Ajahn Sulak Sivarksa Juga bersahabat dengan Gus Dur.
Ajahn Sulak adalah panggilan Masyarakat Thailand kepada Beliau. Ajahn adalah julukan dalam Budhism, artinya Master atau Guru (tapi berbeda dengan peran Guru di Indonesia, Aku tidak punya kata yang pas dalam menjelaskan makna Ajahn dalam Bahasa Indonesia). Beliau dengan cepat menanggapi perkenalanku, “Dari Indonesia bagian mana?” Aku menjawab dengan cepat juga, “Jawa Tengah”. “Sungguh? Kamu bukan seperti orang Jawa dilihat dari wajahmu,” kata Ajahn Sulak sambil bercanda dan kami semua tertawa.
Pertanyaan satu persatu mulai kami ajukan, sekali lagi kami boleh bertanya tentang apapun, boleh bertanya seputar kehidupan pribadi dan atau seputar dunia yang carut marut ini. Pertanyaan pertama dimulai oleh seorang teman saya dari India, Ajahn sulak menjawab semua pertanyaan dengan santai dan dengan Bahasa yang mudah dimengerti oleh kami. Tak sedikit dari kami bertanya dengan pertanyaan iseng namun banyak juga yang bertanya topik-topik yang serius termasuk topik politik.
Hingga tiba waktunya Aku bertanya. Aku bertanya dengan sedikit nada iseng, “Bagaimana seharusnya saya menyikapi jika seseorang menggap saya liberal, karena saya mulai belajar tentang perdamaian?” Ajahn Sulak menjawab dengan santai memulai dengan menceritakan sejarah Soekarno saat dituduh komunis, meminta kami untuk meniru sifat-sifat baik orang-orang terdahulu, tidak masalah dituduh liberal, tidak masalah dituduh komunis, tetap lakukan yang terbaik dan tetap respect dan saling membantu antar sesama manusia. Pelan-pelan, jangan terburu-buru, lakukan mulai dari hal kecil dan terus menerus, jangan pernah berhenti untuk melakukan kebaikan. tak peduli mereka telah berbuat apa kepada kita. Pertanyaan saya sungguh singkat dan tidak sulit, tapi sangat sulit untuk diterapkan.
Karena keterbatasan waktu, kami tidak bisa ngobrol panjang kali lebar. Aku meminta pesan dari Ajahn Sulak, “Apa pesan yang ingin Ajahn Sulak sampaikan kepada kami generasi muda?”. Tidak banyak bicara Ajahn Sulak hanya berkata:
“Saling respect satu sama lain, jangan melihat orang lain hanya karena agamanya, negaranya, budayanya, sukunya, perspektifnya, dan darimana asalnya, saling respect satu sama lain. Itu salah satu tugas manusia”.
Ajahn Sulak juga menjelaskan bahwa kita harus saling bertoleransi dan melakukan kebijaksanaan kepada semua manusia, tidak egois untuk fokus pada kepentingan golongan kita saja. Kehadiran satu orang yang penuh perhatian pada sesama dapat memiliki pengaruh besar pada sosial masyarakat dan hal itu sangatlah penting, tindakan mereka dipenuhi dengan cinta, kebijaksanaan, dan kedamaian. Dan kehadiran orang-orang yang berbudi luhur adalah dasar bagi perdamaian Dunia. Setiap kali seseorang yang “cerah” ini muncul, air di sungai berubah menjadi lebih jernih dan tanaman tumbuh lebih hijau dari biasanya.
baca juga: Ambiguitas: Antara Kesalahan atau Jurus Berkelit
Ajahn Sulak juga menjelaskan bahwa master sejati mungkin adalah Teolog, Filsuf, Ilmuwan, Seniman, atau Penulis. Tetapi apabila pikiran mereka dipenuhi dengan egosentrisme, sesungguhnya mereka bukanlah siapa-siapa. Sains dan seni mereka harus dipenuhi dengan karakteristik cinta, kebijaksanaan, dan humanism. Mereka harus menolak jalan perang dan konflik ideologis. Mereka juga harus membayangkan dan bekerja untuk masyarakat dan untuk dapat menyatukan umat manusia.
Walaupun hanya pesan singkat, tapi selalu terngiang di kepalaku. Aku terus berfikir, apakah selama ini Aku sudah menjalankan tugas tersebut sebagai manusia? Rasanya kok belum, betapa selama ini Aku gampang panas, gampang emosi jika melihat orang lain tidak sesuai dengan ekspektasiku. hmmm
Anggukan kagumku semakin menjadi pada Ajahn Sulak. Ketika Ajahn Sulak tidak ingin kami beri ucapan appreciate, kami terbiasa memberi ucapan appreciate pada diri sendiri dan orang lain setiap sesi akhir kalas. Dengan tegas Ajahn Sulak berkata dengan senyum tulus dan wajah teduhnya, “Saya tidak ingin dan tidak perlu appreciate dari siapapun saya senang bisa berdiskusi bersama kalian”.
editor: RedaksiKS