Dalam Pengajian Daring yang diadakan oleh Pimpinan Ranting Muhammadiyah Pondok Labu pada Jumat, 1 Mei 2020, Prof. Bambang Cipto menyampaikan seputar isu-isu tentang corona. Ia menyampaikan bahwa pandemi ini adalah suatu peristiwa menandai melemahnya supremasi barat.
Bahwa informasi mengenai virus ini sudah ada sejak Desember di China. Kemudian, negara yang menanggapi pertama kali adalah Taiwan. Prof. Bambang Cipto sedih melihat WHO sebagai representasi Barat bereaksi sangat lambat. Baru pada 11 Maret 2020, WHO mengumumkan ini sebagai pandemi global.
Runtuhnya Supremasi Barat
Menurut Bambang Cipto, dari segi budaya politik antara Barat dan non Barat, Barat memang terlihat lebih unggul. Namun dapat kita lihat bahwa China mulai memberlakukan lockdown pada tanggal 23 Januari setelah melihat parahnya penyebaran virus. China sebagai salah satu representasi budaya politik yang non demokrasi liberal dan non Barat bertindak dengan sangat cepat.
baca juga: Cadar bukan Ukuran Syar’i
Bambang Cipto juga menyampaikan bahwa Taiwan di akhir Desember sudah menghentikan seluruh penerbangan dan kapal pesiar dari China ke Taiwan. Padahal baru akhir Desember. Taiwan sangat tegas. Mereka kemudian memberlakukan karantina bagi mereka yang suhunya tinggi, dan benar-benar menghukum mereka yang keluar rumah sebelum selesai masa karantina 14 hari, dan segera memproduksi masker sebanyak mungkin.
“Disini kita melihat cara pengambilan keputusan di Asia jauh lebih cepat daripada budaya demokrasi liberal Barat. Justru Amerika dan Eropa menganggap potensi virus ini tidak berbahaya. Yang repot adalah pemimpin seperti Trump yang sangat anti sains. Dia bilang pada Januari bahwa ini adalah semacam flu biasa. Bahkan Perdana Menteri Inggris datang ke rumah sakit dan menyalami semua orang, seolah-olah semua sedang baik-baik saja. Betul-betul luar biasa kacau”, tegasnya dengan nada penuh keheranan.
Menurutnya, Barat seperti missing in action. Hal ini menandakan bahwa supremasi Barat sudah begitu luntur, sekaligus menunjukkan pergeseran pusat ekonomi dan politik dari Barat ke Asia. Ia menceritakan bahwa China, Turki, Taiwan, dan Korea Selatan justru yang aktif membantu Italia, Spanyol, dan lain-lain. Turki mengirim setengah juta masker pesanan Amerika. Dalam situasi seperti ini, negara asia memainkan peran penting. Ini seperti the rising Asia. Asia lebih siap menghadapi covid-19 dibandingkan dengan Barat.
Mantan Rektor Universitas Muhammadiyah Yogyakarta ini menyampaikan bahwa kita akan hidup pada situasi ketika supremasi Barat sudah mulai berkurang. Kalau kita lihat pada tahun 2019, kontribusi China terhadap ekonomi global sebesar 28%, India 15%, dan Amerika hanya 10%. Jadi kontribusi Amerika tahun lalu hanya sepertiga China. Sedangkan Indonesia 4%, Jerman 2%, Inggris & Prancis masing-masing 1%. Artinya sebenarnya Indonesia pun sebagai bagian dari Asia memiliki peluang. Namun, di sisi lain kita melihat bahwa umat Islam sangat tidak siap menghadapi perubahan global.
Menyoal Eksistensi PTM
“Sekarang pertanyaannya adalah bisakah Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM) itu menggerakkan program-program studi Artificial Intelligence (AI), robotik, biologi, teknologi quantum, dan lain-lain. China sudah punya Quantum Science Satellite yang dirancang untuk membuat sistem komunikasi. Kalau proyek satelit ini selesai, tidak ada negara yang dapat menembus rahasia informasi China”, tanya Bambang Cipto.
Ia menceritakan bahwa sekarang China sudah mengembangkan teknologi hypersonic. Pesawat dari Beijing ke New York yang biasanya ditempuh dalam 12 jam, akan dipercepat menjadi hanya 2 jam. Kalau itu ditempelkan pada peluru kendali, hanya waktu 2 jam dengan laptop, peluru kendali mampu menghancurkan seluruh isi kota New York. Ini adalah teknologi yang sangat tinggi. Sedangkan PTM-PTM menurut Bambang Cipto lebih banyak mengembangkan prodi-prodi klasik. Padahal yang dibutuhkan adalah prodi yang berorientasi kedepan.
baca juga: Muhammad: Teladan Keseimbangan Hidup
“Kita sekarang perlu mempelajari pengambilan keputusan politik budaya China, Taiwan, Korea Selatan, dan Turki. Mengapa mereka hebat. Kalau kita tidak kesana, kita hanya leda lede (bermalas-malasan) seperti ini ya nggak bisa. Padahal peluang kita besar”, tegasnya.
reporter: Yusuf R Yanuri