Oleh: Ngadiyo
Di buku Pegangan Guru, Sumidi Adisasmita (1951: 78-79) menjelaskan, perangsang itu jalah segala sesuatu yang berfa’al kepada alat-alat indera atau saraf-saraf. Caranya berfaal ada rupa-rupa misalnya dengan mengadakan tekanan, mengadakan getaran hawa, mengadakan getaran akasadatu (ether). Mengadakan panas atau dingin atau mengadakan proses kimia ialah ketika mencium bau-bauan.
Kebanyakan perangsang itu datang dari luar tubuh manusia. Ada beberapa perangsang yang asalnya dari dalam tubuh misalnya: perangsang yang menyebabkan adanya suara berdesing (suizen) didalam telinga; perangsang yang menyebabkan rasa lapar, rasa haus, dan rasa panas badan.
Keaksaran berupa huruf-huruf bertebaran di mana-mana menghampiri mata. Sebagai indra penglihatan, mata menyerap informasi dari sebaran aksara. Alam pikiran menjadi bertambah pengetahuan, memilih dan memilah serta memahamkan perkara-perkara.
Berupa cerita, berita, doa, pengharapan, permusuhan, kebencian, segala perasaan berkecamuk. Aksara-aksara itu berseliweran sangat dekat sekali. Terutama dalam genggaman tangan yaitu gawai di zaman now ini.
Perangsang Literasi
Gawai, telepon pintar menjadi sarana komunikasi yang sunyi. Selain itu, pembacaan sepintas dan tidak mendalam, serta banyak bertebaran berita bohong (hoax). Ragam informasi dengan sumber yang meragukan bahkan direkayasa karena disertai ilustrasi gambar rekaan (meme) sering memicu konflik kepentingan. Bahkan menyebabkan kekacauan sampai konflik serius. Itu adalah virus akal budi yang menumpulkan pikiran untuk logis dalam berbahasa.
Mungkin jika seseorang gagap teknologi, tidak bersentuhan dengan gawai, tidak mau terkontaminasi dengan berita bohong. Artikel yang ditulis untuk kepentingan tertentu, dia akan memilih bacaan berbentuk cetak. Permanensi huruf-huruf dalam bentuk cetak inilah sebagai ingatan pemanjangan informasi dan imajinasi manusia, baik dalam bentuk majalah, buku, dan koran.
Baca Juga: Menggugat Kartini: Bukan Hanya Soal Emansipasi
Rangsangan berliterasi menjadikan pemahaman yang lebih mendalam ketimbang sebaran yang berseliweran di gawai itu. Walaupun, generasi millenial dan perangkat teknologi informasi terkini yang semuanya terkoneksi dengan internet memudahkan layanan pelbagai pengetahuan dan kemajuan dalam pembudayaan manusia.
Topik-topik terkini, perbaruan status di media sosial, seperti Facebook, cerita langsung di Instagram (live story), cuitan di Twitter, lini masa yang menggoda mata untuk menyentuh dan merangsang indra penglihatan agar segera menikmati. Mencermati itu semua adalah rangsang keaksaran paling mutakhir. Aksara-aksara itu menghampiri kita, meramaikan jiwa dan menyuburkan imajinasi.
Perangsang Literasi adalah Buku
Terlebih, jika pengetahuan ingin terus dipupuk sampai pada taraf pencapaiaan keahlian bidang tertentu yang menjadi peminatan dirinya. Maka, tak ada jalan lain yaitu berliterasi, laku berhuruf, menekuri buku-buku. Pemanfaatan teknologi cetak moderen menjadikan pendidikan formal dan informal itu tetap ada.
Dan dilaksanakan dengan tiada lain menggunakan buku sebagai sumber ilmu pengetahuan yang digunakan pengajar dan pembelajar atau pelajar dalam berilmu, bersekolah atau kuliah. Tentu, buku-buku sebagai sarana utama menuntut ilmu harus buku yang bermutu sehingga bisa merangsang dan melestarikan kerja intelektual pembacanya. Sastri Sunarti (2013) menguatkan bahwa ilmu dilestarikan dalam satuan yang lebih besar daripada lazimnya dalam keberaksaraan cetak modern.
Pembudayan literasi sebagai laku membaca dan menulis merangsang otak kita bekerja lebih keras untuk berpikir bagaimana menuangkan gagasan. Mengembangkan imajinasi dan memiliki kepekaan terhadap realitas. Para pembaca aksara pada akhirnya berperan besar memerintahkan dirinya untuk mendorong menjadi seorang penulis (Dianne M. Barone dan Shelly Hong Xu, 2008).
Menjadi Pembaca dan Pegiat Literasi
Menjadi pembaca (Muhidin M. Dahlan, 2009) adalah menjadi seorang penjelajah di samudera pengetahuan tanpa batas, perenang dan pejalan tanpa batas. Pembaca adalah pencari. Pencari kebenaran yang terbuka dengan apa saja informasi. Menimba kebenaran dari mana saja kebenaran itu berasal, terutama dari masa silam.
Sebab pada dasarnya spirit buku pada dasarnya adalah spirit kontinuitas. Hamburan peristiwa dari masa ke masa. Seorang pembaca penjelajah berusaha sekuat-kuatnya untuk menangkap apapun sari dari putaran dan lompatan momen itu.
Pembaca adalah penulis sejati. Pembaca juga adalah seorang penulis yang tangguh. Bahkan, asumsi yang ekstrem, seorang pembaca secara fungsional bisa menggantikan kedudukan dan otonomi penulis.
***
Kepentingan berbuku sebagai sumber literasi yang berdampak besar terhadap pengembangan ilmu pengetahuan secara akademik ditentukan melalui belanja buku. Baik pengadaan buku berkala, maupun etos para pengajar yang mengajarkan cara benar belanja buku. Pendekatan sumber informasi berupa buku atau media cetak lainnya tentu harus menarik daya rangsang mata.
Kalau buku tidak menarik, seperti dalam hal jenis kertas, huruf, cara penyajian, bahasa, dan ilustrasinya, maka orang tidak akan tertarik untuk membeli atau membacanya. Buku yang tidak bermutu tidak memberikan nutrisi yang baik (Murti Bunanta, 2008). Kita perlu mengetahui cara memilih bacaan dalam berliterasi, baik ketika mengunjungi perpustakaan, apalagi ketika akan membeli buku.
Mengembangkan Intelektualitas dengan Buku
Fauzi Sukri dalam pengantarnya di buku Atas Nama Buku: Memoar Teladan Para Pembelanja buku (2017) menegaskan bahwa kita juga sering gagal membeli buku sastra yang benar-benar bermutu. Tanpa terpengaruh oleh tren yang sengaja dibentuk oleh media massa atau lingkaran pertemanan.
Hal-hal seperti ini sungguh jarang sekali kita dapatkan atau diajarkan dengan penuh kesadaran sejak dari rumah, sekolah dasar, sampai perguruan tertinggi. Ilmu belanja buku kita memang masih payah dan rendah dan tak perlu heran jika banyak buku berkualitas yang malah tidak laku di pasaran.
Maka, yang sering terjadi adalah ekspresi membeli buku yang tidak berdasarkan pertimbangan pembentukan keilmuan atau kebudayaan. Kita membeli buku karena senang aja dengan penulisnya. Sedang banyak dibicarakan orang, kayaknya “aku banget” buku ini, cocok untuk pengembangan pribadiku, lumayan untuk menambah ilmu apalagi murah, dan sebagainya.
Inilah salah satu bentuk kegagalan lembaga pendidikan yang tidak mengajarkan ilmu belanja buku berdasarkan hasrat pengembangan keilmuan. Tentu saja, yang sungguh sangat fatal dari kegagalan lembaga pendidikan ini bahkan hasrat keilmuan masyarakat.
Merawat Intelektualitas Berfikir
Secara umum adalah ketidaksadaran bahwa dengan membeli buku kita sebenarnya sedang melakukan pengembangan keilmuan kita. Malah yang kita imani bersama adalah bahwa yang tidak bersekolah atau tidak kuliah tidak usahlah membeli buku sebagai hasrat berilmu.
Baca Juga: Shihab & Shihab: Bagaimana Alquran Memandang Teknologi?
Pantaslah seorang kritikus sastra terkemuka, John Ruskin, mengatakan bahwa orang tidak segan membeli buku yang berharga untuk dibaca. Juga, memilih bacaan secara digital dan visualpun tidak takut untuk menikmati keaksaraan dari sumber yang terpercaya.
Yang selalu bergerak dan menghampiri mata kita agar mentalitas berpikir kita selalu terjaga kelogisan dan mampu mengembangkan intelektualitas dan imajinasi.
Penulis adalah CEO Penerbit Diomedia