Rabu, Oktober 7, 2026
Kalimahsawa.ID
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
Kalimahsawa.ID
No Result
View All Result

Membangkitkan Budaya Literasi di Era Digital

RedaksiKS by RedaksiKS
Juni 4, 2022
in Esai
0
Literasi di Era Digital
74
SHARES
438
VIEWS

Sebagai generasi muda yang masih dalam masa produktif, sudah sepatutnya bagi kita bisa terus berkarya untuk ikut membangun peradaban bangsa. Literasi adalah salah satu cara untuk kita menghasilkan sebuah karya. Lalu, bagaimana nasib literasi di era serba modern ini? Bisakah kita memanfaatkan era digitalisasi ini dalam berliterasi? Atau justru menjadi korban dari digitalisasi, sehingga berakibat kurangnya literasi?

Hidup di era serba modern, dengan kecanggihan teknologi merupakan kenikmatan tersendiri bagi generasi muda. Di samping itu, kecanggihan teknologi menjadi tantangan tersendiri di zaman ini. Bagaimana tidak, dengan teknologi yang serba digital, manusia menjadi manja dengan berbagai kemudahan akses untuk mempermudah pekerjaannya. Namun, yang demikian itu akan memanjakan sehingga dapat menyebabkan timbulnya rasa malas.

TulisanTerkait

Refleksi Tahanan Politik Aksi 2025: Menulis untuk Rekan Juang yang Terpenjara

Ketika Prestasi Menjadi Ukuran: Membangun Organisasi Berbasis Meritokrasi

Wacana Digitalisasi Ikatan: Mengapa Satu Data IMM penting?

Rendahnya Tingkat Literasi di Indonesia

Penggunaan internet di Indonesia mengalami kenaikan setiap tahunnya, seiring dengan semakin canggihnya teknologi dan meningkatnya jumlah penduduk. Menurut data dari Badan Pusat Statistik mengemukakan bahwa, penduduk Indonesia yang menggunakan internet mengalami kenaikan. Pengguna internet pada tahun 2016 berjumlah sekitar 25,37 %, naik menjadi 53,73% pada tahun 2020. Pesatnya atau meningkatnya dengan sangat tinggi penggunaan teknologi digital, sayangnya tidak dibarengi dengan naiknya angka literasi itu sendiri. Berdasarkan data dari Kominfo, Indeks Literasi Digital tahun 2021 mengalami peningkatan yang sangat sedikit, yakni 3,42 pada tahun 2020, hanya naik menjadi 3,49 pada tahun 2021.

Selain data dari dalam negeri, rendahnya tingkat literasi Indonesia juga dapat dibuktikan dari hasil survey yang dilakukan oleh Program for International Student Assessment (PISA) yang dirilis oleh Organization for Economic Coopration and Development (OECD) pada tahun 2019. Ternyata tingkat literasi Indonesia menduduki peringkat 62 dari 70 negara yang disurvei. Itu artinya, tingkat literasi Indonesia berada pada peringkat 10 dari bawah (memiliki rendahnya tingkat literasi).

Berdasarkan data-data di atas, dapat dikatakan bahwa tingginya penggunaan teknologi digital tidak diberengi dengan naiknya tingkat literasi. Rendahnya tingkat literasi menjadi pekerjaan rumah bagi kita semua sebagai generasi muda untuk dapat menumbuhkan dan meningkatkan minat baca di antara sesama generasi muda pada khusushnya dan kepada masyarakat kalangan usia manapun pada umumnya.

Kesadaran Literasi Mulai dari Diri Sendiri

Tanggung jawab menyadarkan masyarakat berada di pundak kita, selaku generasi muda. Namun, kita tidak bisa serta merta menyadarkan masyarakat tentang pentingnya berliterasi di era digital ini, kecuali mulai dari diri sendiri. Perlu ada gebrakan untuk memacu semangat meningkatkan literasi bagi diri pribadi terlebih dahulu, sebelum mengajak masyarakat luas. Kesadaran akan literasi perlu kita tumbuhkan dan perlu kita jadikan literasi itu sebagai kebutuhan bukan sebagai penghias saja, atau pengisi waktu luang.

Untuk meningkatkan literasi di kalangan muda ataupun kalangan umum, bukan berarti kita lepas total dari gawai, smartphone atau internet, hal itu akan tidak mungkin kita lakukan. Justru keadaan serba digital ini harus menjadi pacuan untuk kita supaya bisa mengatur waktu yang di alokasikan setiap harinya. Seorang generasi literat harus bisa mengatur waktu belajar, membaca buku, menulis, berfikir, mengamati, refreshing, olah raga, bermain media sosial, hiburan dan lain sebagainya. Dengan cara seperti itu, kita bisa kita katakan orang yang pandai berliterasi, bukan hanya membaca buku, tetapi bisa membaca waktu untuk pengalokasian hal yang produktif dan bermanfaat.

Masih terkait diri pribadi seorang literat. Di zaman yang serba digital ini, kita harus bisa memanfaatkan teknologi yang ada untuk mencari informasi dan pengetahuan yang belum kita dapatkan. Dengan memanfaatkan gawai atau internet, kita bisa mengakses buku online (e-book), sehingga tidak ada alasan lagi untuk tidak membaca buku. Berbeda dengan orang yang hidup di era yang belum ada internet, mereka harus mencari informasi melalui buku yang harus mereka cari di perpustakaan atau toko buku, dan itu belum tentu ada. Mereka pun harus mencari ke tempat lain. Lagi-lagi kita sebagai generasi literat di era digital harus bisa membaca keadaan dan pandai memanfaatkannya. Namun, walaupun demikian tetapi tetap membaca buku harus lebih diprioritaskan daripada mencari e-book di internet.

Selain dari dalam diri, eksternal diri juga memiliki andil untuk membentuk jiwa literat terutama di era serba digital, sebut saja mereka orang tua dan guru. Orang tua sudah sepatutnya aktif membimbing anaknya di rumah untuk bisa mengatur waktu supaya lebih produktif. Misalnya membimbingnya untuk belajar, membaca, menulis, bermain, olah raga, dan sebagainya. Terutama waktu menggunakan internet perlu ada pembatas supaya tidak menjadi kecanduan memainkannya. Dengan hal itu, anak akan terbiasa dengan mengatur waktunya supaya lebih bermanfaat. Begitu pula sikap guru terhadap siswa siswinya di sekolah.

Kontribusi masyarakat sangat penting

Peran yang tidak kalah penting datang dari masyarakat dan pemerintah. Masyarakat harus memiliki kesadaran akan pentingnya bacaan bagi lingkungannya. Hal ini bisa kita buktikan semisal membangun taman bacaan dan mengadakan event-event literasi di lingkungannya. Otoritas pemerintah, pemangku kebijakan juga sebagai fasilitator dari segala kebutuhan masyarakatnya, termasuk kebutuhan akan literasi, harus membuka fasilitas bacaan. Hal ini bisa kita lihat dari pembangunan sarana perpustakaan dan melengkapi buku-buku di dalamnya. Bahkan sudah berjalan perpustakaan keliling di beberapa daerah.

Perpustakaan sebagai jantungnya peradaban harus menjadi sarana membangun atau menghidupkan peradaban. Perpustakaan seharusnya menjadi tempat yang ramai orang kunjungi untuk membaca, berdiskusi dan lain sebagainya. Maka perpustakaan harus menarik untuk dikunjungi. Lengkapi fasilitas di dalamnya, adakan event-event literasi baik secara online ataupun offline untuk masyarakatnya dan apresiasi bagi para pengunjungnya. Perpustakaan bukan menjadi tempat yang sepi pengunjung bahkan jangan sampai menjadi tempat menjenuhkan. Kampanye di media sosial tentang pentingnya literasi juga patut kita lakukan, mengingat banyaknya pengguna internet di zaman ini.

Tingginya penggunaan internet karena era digital harus juga diberengi dengan literasi yang baik. Dengan canggihnya teknologi harus dapat kita manfaatkan supaya dapat mengakses ilmu dan informasi lebih mendalam untuk memperluas wawasan. Meningkatkan minat literasi di era sekarang ataupun era-era yang akan datang merupakan tanggung jawab bersama semua elemen. Dengan bergotong royong, bersama-sama menyadarkan diri dan masyarakat tentang pentingnya literasi di era digital ini. Kita yakin dengan bersatu menyadarkan pentingnya literasi, peradaban kita akan maju apabila sumber daya manusia kita berkualitas dan berkuantitas.

Penulis : Emil Maulana

Editor : Akbar Syifa NUrsyam

Terkait

Previous Post

Harun Nasution : Pentingnya Peranan Akal

Next Post

Etika Orang Awam di Era Matinya Kepakaran

RedaksiKS

RedaksiKS

Kalimahsawa.id hadir atas kesadaran bahwa pluralitas merupakan sesuatu yang tak terelakkan dan bahwa keragaman tak harus menjadi keseragaman. Dalam konteks keindonesiaan, Negara Pancasila merupakan titik temu pemikiran antara keislaman, kemoderenan dan keindonesiaan secara harmonis.

Next Post
beretika media sosial

Etika Orang Awam di Era Matinya Kepakaran

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Tentang Kalimahsawa.id
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan
Contact Person: 085850332866

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.

No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.