KALIMAHSAWA.ID – “Rasa cemas, rasa panik, rasa ketakutan, dan berita-berita hoaks serta rumor menjadi musuh terbesar kita, bukan virus itu sendiri”- Joko Widodo, Presiden RI
Corona virus Disease 2019 atau sering disebut Covid-19 saat ini telah menjadi perbincangan di seluruh penjuru dunia. Berawal dari munculnya sebuah virus di kota Berna Wuhan, China yang saat ini sudah menginfeksi lebih dari 20 juta umat manusia di dunia.
Sebuah kejadian luar biasa yang tidak terbayangkan sebelumnya akan menjadi separah ini. Fenomena yang dapat mematikan banyak sektor di suatu negara, bukan hanya perang senjata melainkan perang terhadap sebuah mikroorganisme. Sehingga memaksa manusia untuk mengubah gaya hidup menjadi lebih sehat.
Di Indonesia sendiri, sudah terdapat 100.000 lebih penduduk yang terinfeksi oleh COVID-19. Angka yang sangat fantastis untuk menyebut jumlah pasien. Di samping itu, bertambahnya angka ini setiap harinya menyebabkan berbagai kalangan mulai paranoid dan cemas.
Masyarakat merasa tidak diberi kepastian akan banyak hal, seperti pandemik yang tidak kunjung selesai, tetapi justru meningkat terus tiap harinya bahkan munculnya varian baru. Hal ini mengakibatkan mereka mulai kehilangan pekerjaan dan memicu munculnya kasus kematian baru.
Beberapa vaksin covid-19 telah disetujui dan didistribusikan di berbagai negara yang telah menginisiasi kampanye vaksinasi massal. Tindakan pencegahan lainnya termasuk jarak fisik atau sosial, karantina, ventilasi ruang dalam ruangan, menutup mulut ketika batuk dan bersin, mencuci tangan, dan menjauhkan tangan yang tidak dicuci dari wajah.
Kepedulian UNISA Terhadap Pandemik Covid-19
Rasa peduli dan empati di tunjukkan oleh warga Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta dalam melakukan vaksinasi pertama. Dengan penyediaan 6500 vaksin untuk mahasiswa UNISA Yogya, keluarga pegawai, masyarakat umum, dan pelajar Muhammadiyah.
Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta menggelar vaksinasi sebagai bentuk komitmen membantu pemerintah melakukan vaksinasi bagi masyarakat dan upaya memutus rantai penyebaran Covid-19. Kegiatan vaksinasi tersebut bekerja sama dengan TNI-POLRI.
Selama pandemik Covid-19 ini, masyarakat terutama mahasiswa terpaksa untuk tetap #DiRumahAja demi memutus rantai penyebaran virus. Hal ini berdampak pada makin bertambahnya jumlah orang yang menghabiskan waktunya dengan berselancar di media sosial.
Sejatinya fenomena ini dapat berdampak positif maupun negatif. Apabila literasi masyarakat sudah cukup baik, maka mereka akan mendapatkan informasi yang kredibel. Sehingga dapat lebih waspada akan adanya terhadap covid-19.
Namun, realitanya masyarakat Indonesia memiliki tingkat literasi yang buruk, sehingga tidak dapat menyaring informasi yang tersebar dengan baik.
Hal tersebut mengakibatkan beredarnya banyak hoaks yang meremehkan ataupun melebih-lebihkan pandemik ini, sehingga masyarakat mudah terprovokasi tanpa ada mencari tahu kebenarannya.
UNISA Mengawal Ketat Covid-19 Sebagai Upaya Jalan Keluar
Pada masyarakat umum yang terjadi adalah terdapat pihak yang merasakan kecemasan berlebih serta pihak yang menyebarkan hoaks. Kelompok ini menjadi target yang rentan karena kesehariannya hanya menghabiskan waktu dengan melihat media sosial.
Sehingga sangat memerlukan adanya edukasi dari pemerintah ataupun pihak-pihak yang terkait untuk menyampaikan fakta maupun klarifikasi atas beredarnya rumor dari sumber yang tidak jelas. Seperti, Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta yang melakukan penyuluhan covid-19 melalui Aplikasi Zoom.
Hal ini sangat kita perlukan guna melatih berpikir kritis serta meningkatkan kepercayaan masyarakat pada pemerintah. Namun, pada kenyataannya masyarakat sering di ambang kebingungan pada pernyataan pemerintah yang tidak tegas dan labil, seperti penggunaan masker medis atau kain pada awal pandemik serta larangan mudik yang sampai menuai berbagai kontroversi.
Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta sebagai salah satu universitas yang bergerak dan berperan aktif dalam dunia kesehatan, telah menata diri agar pukulan pandemik tidak membuat tenaga pengajar dan mahasiswa larut dalam duka.
Mahasiswa UNISA membantu penanganan Covid-19 di RS Sardjito dengan mengirim 39 tenaga kesehatan sukarelawan. UNISA juga menyiapkan shelter khusus yang berfungsi sebagai tempat isolasi mandiri, khusus bagi pasien Covid-19 asimptomatik atau tanpa gejala. Shelter tersebut dinamakan Pesantren Covid-19.
Pada pasien serta keluarga yang terdampak pasti merasakan masa yang teramat sulit. Pasien yang harus berjuang melawan virus ini kerap dijauhi oleh banyak kalangan. Seakan-akan penyakit ini sebuah aib yang memalukan.
Padahal, mereka inilah yang seharusnya mendapat dukungan penuh agar tetap kuat menghadapi virus ini, tanpa perlu merasa terkucilkan. Mahasiswa UNISA berkontribusi dengan membagikan bantuan berupa sembako kepada mahasiswa yang melakukan isolasi mandiri.
WHO sebenarnya sudah memberikan beberapa anjuran untuk masyarakat terkait fenomena stigma ini, di antaranya adalah perlu adanya upaya untuk penyebaran informasi yang detail dan akurat agar masyarakat tidak lagi merasa kebingungan.
Selain itu, kita juga dapat berupaya untuk memperkuat cerita inspirasi dari orang-orang yang telah pulih dari covid-19. Sehingga kepercayaan pada masyarakat bahwa penyakit ini dapat disembuhkan.
Editor: Rahmat Rusma