Perubahan tingkah laku sering kali disebabkan hasil dari pengalaman dari interaksi pada segala macam manusia dengan lingkunganya yang terwujud dalam bentuk pengetahuan, sikap dan tindakan. Perilaku merupakan respon seorang individu terhadap stimulus yang berasal dari luar maupun dalam dirinya, termasuk perilaku yang menunjukkan moderasi dalam beragama dan sebaliknya.
Begitu juga radikalisme. Tindakan yang identik dengan kekerasan ini adalah hasil dari pengalaman yang didapatkan melalui faktor internal dan eksternal. Faktor internal adalah sesuatu yang hadir dari dalam dirinya, diantaranya seperti frustasi, sikap dalam beragama serta peneguhan identitas dan rasa memiliki.
Radikalisme seringkali lahir dari ekspresi frustrasi akibat ketidakadilan sosial, ekonomi dan politik dalam masyarakat. Kekecewaan itu terhadap penguasa atau pemerintahan sebagai wujud ketidakpuasan, lalu mereka melakukan tindakan radikal.
Radikalisme juga terjadi akibat salah dalam memahami sejarah umat Islam yang dipadukan dengan harapan kondisi Islam pada periodisasi tertentu. Seperti gerakan salafi yang menginginkan adanya pemurnian Islam dengan cara menghilangkan praktik-praktik yang dianggap bid’ah dengan cara kekerasan.
Peneguhan identitas akibat keluhan kolektif yang membentuk persepsi bahwa pemerintah tidak legitimate dan sistem pemerintahan harus diubah. Persepsi tersebut menggiring pribadi akan menjadi semakin kuat apabila bergabung dengan kelompok.
Dengan perkembangan teknologi dan informasi, proses bergabungnya pribadi dalam kelompok seideologi menjadi mudah. Dengan begitu identitas diri secara personal menjadi hilang dan digantikan dengan identitas kelompok.
Setelah tahap peneguhan identitas tercapai, maka masuk dalam tahap rasa memiliki yang sangat kuat terhadap kelompok, atau disebut sikap loyalitas. Hal itu dipicu akibat dirasa bahwa kelompok mampu memberikan perlindungan baginya dari dunia luar yang tidak adil bagi dia. Kelompok dianggap sebagai komunitas seperjuangan, tempat yang memberikan rasa aman dan menyelamatkan dari krisis identitas yang mungkin dialami.
Sedangkan faktor eksternal ialah faktor yang disebabkan oleh hal-hal di luar dirinya. Faktor tersebut di antaranya geografis, faktor kondisi ekonomi, sosial dan politik dan perkembangan teknologi dan informasi.
Pertama, secara konstelasi geografi, Indonesia berada pada posisi silang dua benua, dua samudera yang memiliki alur laut tersibuk di dunia. Wilayah yang sangat strategis secara geostrategik tersebut rentan terhadap masuknya paham radikalisme. Sebab dengan kondisi wilayah yang terbuka dan kepulauan terbesar, maka rawan terhadap radikalisme dan sasaran terorisme untuk melakukan rekrutmen personil.
Kedua, ketimpangan ekonomi, kesenjangan, ketimpangan dan ketidakadilan, diyakini sebagai dasar bagi sekelompok orang menyatakan bahwa pemerintah thogut maka sistem perekonomian haruslah diganti. Lalu mereka melakukan perubahan secara radikal.
Memang anggota kelompok radikal berasal tidak dari berbagai kalangan dengan latar belakang ekonomi rendah. Tetapi sering kali berasal dari kalangan ekonomi yang mapan. Hal tersebut menunjukkan bahwa akar radikalisme yang berasal dari faktor ekonomi bukanlah semata-mata kondisi ekonomi yang secara personal yang sedang dialami. Namun juga berupa empati dan keinginan untuk mengubah perekonomian secara global akibat didasari isu ketidakadilan menjadi faktor munculnya perilaku kekerasan.
Ketiga, perkembangan ilmu dan teknologi telah merangsek masuk hingga ke wilayah pedesaan hanya melalui akses internet pada gawai, seseorang dapat terhubung dengan berbagai informasi dan orang-orang yang ada di seluruh dunia. Ternyata hal ini membawa dampak besar terhadap cara berkomunikasi sekaligus memperoleh informasi.
Banyak kasus radikalisme dan terorisme yang terungkap bearwal dari internet. Sebagian besar mereka memanfaatkan internet sebagai media komunikasi konsolidasi gerakan. Dari informasi internet inilah kemudian memberikan inspirasi bagi pelaku untuk melakukan aksi yang dianggapnya sebagai bagian dari jihad.
Memang, ruang digital saat ini menjadi arena kontestasi. Sayangnya ruang media sosial kini kerap kali didominasi nilai keagamaan yang menjurus pada eksklusifitas. Dari berbagai kasus radikalisme dan terorisme yang terungkap, sebagian besar mereka memanfaatkan media sosial sebagai media komunikasi dan konsolidasi gerakan. Dari berbagai informasi melalui media sosial kemudian memberikan inspirasi bagi pelaku untuk melakukan aksi yang dianggapnya sebagai bagian dari jihad.
Dengan begitu, kiranya perlu dilakukan upaya kontra radikalisme membangun moderasi beragama diruang digital melalui integrasi antara Islam washatiyah dengan dakwah di media sosial. Sebab secara prinsip Islam Wasthiyah berlandaskan pada sikap yang inklusif, humanis dan toleran. Nilai-nilai tersebut sebagai landasan untuk berfikir, bersikap atau bertindak sesuai dengan kondisi budaya Indonesia yang multikultral.
Kendati demikian, untuk menuai keberhasilan dakwah di media sosial era milenial ini setidaknya memperhatikan tiga aspek, yakni estetika visual, menggunakan cara yang komunikatif seperti forum tanya-jawab dan strategi marketing.
Namun hal yang menjadi penting adalah mengenai strategi market media sosial. Maka dari itu perlu dilakukan bagaimana caranya moderasi beragama dapat diterima pengguna media sosial. Marketing yang kreatif merupakan langkah untuk penyampaian gagasan kepada kalayak dengan langkah yang berbasis digital dan tersebar di internet.
Begitu juga moderasi beragama Islam wasathiyah, akan dikemas semanarik mungkin sesuai dengan kondisi kontekstual saat ini agar setiap pesan dapat menginformasikan, mendidik, memengaruhi sehingga berdampak pada perubahan dalam diri individu atau masyarakat secara luas.
Untuk itu, di masa kini perlu kiranya digitalisasi moderasi beragama dengan mensublimasi nilai-nilai Islam Wasathiyah dengan budaya pop yang berkembang saat ini yang disebarkan melalui media sosial. Dengan tidak menghilangkan unsur subtansi dari nilai-nilai Islam itu sendiri. Dengan begitu radikalisme akan terbendung dengan sendirinya dan moderasi beragama di Indonesia serta persatuan akan terjaga.
Editor: Yusuf