Komunikasi adalah kunci, begitu kalimat yang sering diucapkan orang-orang ketika membahas tentang hubungan. Tidak sempit hanya hubungan antarpasangan, nyatanya hubungan antaragama juga membutuhkan yang namanya komunikasi atau biasa kita sebut dengan dialog. Dialog antargama memungkinkan berkurangnya konflik atau gesekan antaragama mengingat Indonesia adalah negara dengan multiagama.
Sebelum lebih jauh membahas tentang dialog antaragama, perlu diketahui bahwa Islam merupakan agama yang datang dengan membawa semangat perdamaian, keadilan dan rahmat bagi seluruh umat manusia. Mempunyai tujuan dasar untuk menjunjung tinggi keadilan sosial, kesejahteraan umat serta mempererat tali persaudaraan. Oleh karena itu, Islam sangat mengutamakan kesatuan umat manusia.
Dalam hal ini, lahirnya agama-agama di dunia khususnya Islam yang berperan penting sebagai salah satu bentuk pembebasan untuk membentuk masyarakat yang adil dengan tidak membeda-bedakan antara satu dengan yang lain baik dari segi ekonomi, sosial maupun budaya. Bentuk pembebasan atas dasar agama sering disebut dengan teologi pembebasan.
Teologi Pembebasan ala Asghar Ali Engineer
Salah satu tokoh yang mengkaji tentang teologi pembebasan yaitu Asghar Ali Engineer. Pemikirannya tersebut bermula dari pandangan mengenai sejarah yang terjadi pada zaman kebodohan (jahiliyah) sebelum datangnya Islam banyak sekali tekanan-tekanan yang dirasakan oleh umat manusia khususnya terhadap kaum perempuan yang tidak diberi kebebasan dalam hidupnya.
Asghar Ali Enginee merupakan sosok perintis zaman baru Islam yang berkebangsaan India, beliau lahir pada 10 Maret 1939 dan wafat pada 14 Mei 2013. Asghar Ali ini mendapatkan pendidikan pertama dari ayahnya yang merupakan seorang sarjana Islam dengan watak sabar.
Selain dianggap sebagai seorang aktivis, Ali juga dikenal sebagai feminis dan cendekiawan muslim. Adapun pemikirannnya tentang teologi pembebasan dalam Islam, yaitu mengembalikan hak-hak perempuan dalam Islam serta pemikirannya tentang hubungan antar Iman. Teori emansipasi perempuan juga dijunjung tinggi oleh para perintis zaman baru Islam termasuk Asghar Ali Engineer itu sendiri.
Asghar ali berpendapat bahwa memahami Islam yang sejati untuk saat ini harus bersifat pluralism. Dialog antaragama yang pada saat itu dipenuhi dengan gugatan kebenaran atas suatu agama, membuat Ali terinspirasi membangun basis teologi pembebasan dengan mengajukan pertanyaan tentang suatu kebenaran. Banyak pertanyaan yang berkaitan tentang apa kebenaran itu bersifat absolut? Apakah Islam satu-satunya agama yang benar? Dan masih banyak lagi pertanyaan lain tentang kebenaran-kebenaran tersebut.
Penggunaan Akal dan Wahyu
Dalam menjawab berbagai pertanyaan tersebut, Asghar Ali berpegang pada Al-Qur’an yang merupakan wahyu dari Allah digunakan sebagai petunjuk umat manusia. Akan tetapi, ia mempunyai suatu pandangan bahwa akal juga penting untuk mengembangkan intelektual seseorang.
Pernyataan tentang akal yang mempunyai peranan sangat penting dalam kehidupan manusia bukan berarti akal itu segalanya. Akal juga mempunyai batasan dalam menjawab pertanyaan akhir terutama mengenai makna dan tujuan hidup. Oleh karena itu, wahyu datang untuk melengkapi pengetahuan manusia.
Akal dan wahyu bukan sesuatu yang bertentangan meskipun wahyu melebihi kemampuan akal, tetapi keduanya merupakan sesuatu yang saling melengkapi satu sama lain. Hal ini yang menyebabkan Asghar Ali mempunyai pemikiran rasional dan liberal.
Dari sini perlu untuk diketahui bagaimana Asghar Ali dapat membangun perdamaian antarumat beragama agar bisa hidup secara berdampingan. Berbagai macam agama yang lahir sebenarnya mereka sama. Semua agama berasal dari satu sumber yaitu Tuhan. Tetapi dalam setiap agama memperoleh kebenaran dengan cara berbeda-beda tergantung masing-masing cara yang diyakininya.
Untuk mendapatkan hasil yang maksimal, Asghar Ali mengajak kaum beragama untuk melakukan dialog antaragama. Dalam hal ini, mereka tidak boleh beranggapan bahwa agama yang dianut lebih benar dibandingkan yang lain. Mereka harus mempunyai rasa toleransi tinggi dan tetap menghormati ajaran agama lain.
Tiga Macam Dialog Antaragama
Kesadaran dalam berdialog bertujuan untuk memperoleh kebenaran. Suatu kebenaran bisa didapatkan dengan berbagai cara dan salah satunya yaitu dengan berdialog. Apabila terdapat penolakan atau ketidaksetujuan dari salah satu pihak maka tidak seharusnya pihak lain menyerangnya karena perbedaan pendapat sudah biasa terjadi apalagi dalam tingkatan beda agama pasti banyak ketidaksesuaian.
Terdapat berbagai macam dalam berdialog menurut Asghar Ali Engineer. Pertama disebut dengan “dialog kehidupan” yaitu bentuk dialog tidak resmi. Misalnya, orang-orang dari agama yang berbeda berkomunikasi satu sama lain secara informal atau menyaksikan upacara agama-agama lain.
Kedua, dialog terstruktur merupakan bentuk dialog berisi pertukaran pendapat antar ulama yang bertujuan untuk sama-sama belajar. Dialog semacam ini dapat memperdalam keimanan seseorang. Karena menurutnya, diri sendiri tidak cukup dalam hal ini. Oleh karena itu, melalui dialog tersebut orang dapat menerima dan mengenali bagaimana agama “saling melengkapi” antarsesama.
Ketiga, bentuk dialog antaraktivis sosial dengan para ulama yang terlibat dalam gerakan sosial. Dimana setiap orang terinspirasi oleh ajaran agamanya dan bekerja sama untuk mengatasi masalah sosial, seperti keadilan sosial, perdamaian, kesejahteraan, dan sebagainya.
Misi agama adalah untuk membangun kembali dan melakukan transformasi sosial seperti penindasan, kemiskinan, kebodohan, ketimpangan gender, maupun dalam agama itu sendiri. Oleh karena itu, tujuan utama dari kegiatan berdialog adalah untuk kerjasama dalam membangun masyarakat sosialis tanpa adanya kontradiksi di dalam sosial masyarakat.
Editor: Anisa K.