Rabu, Oktober 7, 2026
Kalimahsawa.ID
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
Kalimahsawa.ID
No Result
View All Result

Oksidentalisme dan Kiri Islam

Niken Putri Pramesti by Niken Putri Pramesti
Juli 1, 2021
in Filsafat
0
Kiri Islam Hassan Hanafi
55
SHARES
322
VIEWS

Selama ini umat Islam masih merasa berada dibawah bayang-bayang bangsa Barat. Selain itu masih banyak masyarakat muslim yang tertindas secara tidak langsung. Umat Islam pun termasuk ke dalam kelompok-kelompok itu. Sehingga mereka selalu terlihat kalah oleh bangsa Barat. Padahal sebenarnya, umat Islam dapat bangkit kembali jika memiliki kemauan yang lebih. Oleh karena itu, Hasan Hanafi mengemukakan gagasannya tentang Kiri Islam dan Oksidentalisme.

Kiri Islam adalah proyek pembebasan yang digagas oleh Hasan Hanafi. Kiri adalah sebutan untuk masyarakat yang lemah, tertindas, dan tidak memiliki hak untuk menentukan nasibnya sendiri namun berani untuk melawan. Mereka selalu dihegemoni oleh kelompok-kelompok yang berkuasa.

TulisanTerkait

Rausyanfikr di Era Digital: Membaca Peran Intelektual Muda melalui Pemikiran Ali Syariati

Membaca Gaya Hidup Generasi Digital melalui Perspektif Jean Baudrillard

Amor Fati: Ketika Mencintai Takdir Menjadi Bentuk Tertinggi dari Kebebasan Jiwa

Menurut Hassan Hanafi, para elit atau penguasa ini termasuk ke dalam kelompok kanan. Kelompok kiri harus selalu mengikuti perkataan atau perintah dari kelompok kanan. Oleh sebab itu, Hasan Hanafi merancang proyek Kiri Islam yang memiliki arti sebuah gerakan revolusi moral untuk memperjuangkan hartat dan martabat kaum tertindas demi persamaan dan keadilan umat manusia. Hasan Hanafi menginginkan kelompok Kiri harus bergerak secara progresif untuk melawan status quo.

Terdapat beberapa alasan yang melatarbelakangi lahirnya Kiri Islam. Pertama, kooptasi kekuasaan. Kelompok kiri selalu dikekang, diatur oleh para elit, dan tidak memiliki kebebasan. Kedua, sistem ekonomi dan sosial yang terlalu liberal. Jika sistem yang liberal itu tidak segera dirubah, maka kiri akan mengalami kekalahan. Sebenarnya Kiri memiliki kelompok-kelompok progresif di dalamnya, seperti kelompok Marxis, Nasionalis, dan Liberal. Tetapi kelompok-kelompok itu selalu bergerak sendiri.

Perjuangan yang dilakukan kelompok Marxis itu sama dengan Kiri, tetapi memiliki kekurangan di segi religiusitas. Walaupun gerakannya mengarah ke revolusi, tetapi mereka terlalu jauh dengan agama. Sehingga memunculkan stigma negatif, karena mereka tidak menyentuh moralitas agama.

Kemudian ada kelompok Nasionalis. Kiri membutuhkan kelompok ini untuk memerangi kolonialisme, imperialisme, dan lain sebagainya. Selain itu, Kiri juga membutuhkan kelompok Liberal untuk dimanfaatkan daya kritisnya dan mengevaluasi diri. Oleh karena itu, Hasan Hanafi menginginkan Kiri untuk bergerak tapi tidak egois atau bergerak sendiri.

Kiri harus bekerja sama dengan kelompok-kelompok Marxis, Nasionalis, dan Liberal. Karena kunci keberhasilan mengakhiri Kiri yang lemah adalah kerja sama. Tetapi, selama ini kiri selalu bermasalah dengan mereka karena selalu melihat perbedaan.

Sedangkan menurut Hasan Hanafi, sesungguhnya perbedaan antar 4 kelompok tersebut hanya dalam bentuk bahasa, simbol, dan metode, tetapi substansinya sama. Hasan Hanafi menginginkan Umat Islam untuk tidak terlalu mempermasalahkan perbedaan tersebut. Lebih baik bekerja sama, bersatu, bangkit untuk kepentingan bersama. Jika hal tersebut dilakukan, maka umat Islam pun dapat melakukan revolusi besar-besaran. Itulah beberapa tawaran dari Kiri Islam yang digagas oleh Hasan Hanafi.

Selain Kiri Islam, Hasan Hanafi juga memiliki agenda tentang bagaimana sikap umat Islam terhadap Barat (Oksidentalisme). Agenda itu termasuk ke dalam proyek besar Hasan Hanafi yaitu Turats wa Tajdid. Terdapat beberapa hal yang harus dilakukan umat Islam terhadap Barat. Yaitu, Umat Islam harus melokalisasikan atau mengembalikan Barat pada batas-batas alamiahnya.

Umat Islam harus membuang semua mitos Barat sebagai pusat peradaban dunia. Dan menepis ambisi kebuduyaan Barat untuk menjadi paradigma kemajuan bagi bangsa-bangsa lain. Jika Barat bisa maju versi mereka, maka Islam juga bisa maju dengan versi yang berbeda dari Barat.

Umat Islam harus mengembalikan peradaban barat pada batas-batas kebaratannya, asal-usulnya, kesesuainnya dengan latar belakang sejarahnya, agar Barat sadar bahwa terdapat banyak peradaban dan banyak jalan menuju kemajuan. Selama ini Islam terlihat kalah atau lemah sekali, karena parameter semua hal ada di Barat.

Rumus sukses atau tidak sukses disesuaikan dengan Barat. Bahkan standar tulisan ilmiah disesuaikan dengan Barat. Menurut Hasan Hanafi, Umat Islam boleh belajar dari Barat, tapi jangan terlalu terpesona atau kagum dengannya. Umat Islam harus menjadikan Barat sebagai obyek kajian dan mempelajarinya melalui Oksidentalisme.

Oksidentalisme adalah suatu kajian kebaratan atau kajian yang komprehensif dengan meneliti dan merangkum semua aspek mengenai kehidupan masyarakat Barat. Oksidentalisme ini merupakan lawan dari Orientalisme (kajian terhadap bangsa Timur), atau dapat dikatakan sebagai kritik terhadap Orientalisme yang selama ini telah menyerang bangsa Timur. Hasan Hanafi mengatakan bahwa Oksidentalisme tidak memiliki tujuan hegemoni dan mendominasi seperti Orientalisme. Para Oksidentalis hanya ingin merebut kembali ego Timur yang telah dibentuk dan direbut Barat.

Kajian Oksidentalisme ini bertujuan untuk membebaskan umat Islam dari pengaruh pihak lain (Barat) yang selama ini telah menguasai dunia Timur. Hasan Hanafi mengatakan bahwa dunia Timur juga memiliki eksistensinya sendiri yang harus dihargai. Oksidentalisme ini juga dapat dikatakan sebagai bentuk reaksi kekecewaan umat Islam terhadap paham Orientalisme, sebagai reaksi dari paham kolonialisme, imperialisme, westernisasi, dan lain sebagainya.

Hasan Hanafi juga menginginkan kajian Oksidentalisme sebagai salah satu proyek besar dalam usaha kebangkitan umat Islam. Dalam kajian Oksidentalisme ini, umat Islam diharapkan berani mempelajari sejarah awal bangsa Eropa menemukan satu bentuk kesadaran yang membuat mereka bangkit menjadi bangsa yang memiliki ilmu pengetahuan dan teknologi yang maju. Hal itu dapat kita contoh agar umat Islam dapat bangkit menuju kemajuan.

Editor : Yusuf

Terkait

Tags: baratHassan HanafiIslamKiri IslamOksidentalisme
Previous Post

Biografi Hassan Hanafi dan Sejarah Kemunculan Kiri Islam

Next Post

Abbas Ibn Firnas: Sang Penerbang Pertama dari Andalusia

Niken Putri Pramesti

Niken Putri Pramesti

Mahasiswi UIN Sunan Ampel Surabaya

Next Post
Abbas Ibn Firnas: Sang Penerbang Pertama dari Andalusia

Abbas Ibn Firnas: Sang Penerbang Pertama dari Andalusia

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Tentang Kalimahsawa.id
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan
Contact Person: 085850332866

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.

No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.