Setahun lebih sistem daring berjalan. Apa yang dirindukan dari kelas? Pre-test dadakan? Presentasi materi kuliah yang dibuat dengan sistem kebut semalam? Diam-diam memperhatikan doi yang duduk di pojokan? Atau rindu dengan teman kelas yang saat diskusi selalu merasa paling benar?
Well, penulis tertarik untuk membahas tentang pertanyaan terakhir pada paragraf di atas. Rasanya penulis ingin flashback seputar kejadian yang terjadi saat sesi diskusi di dalam kelas. Dari saat-saat yang menyenangkan ketika diskusi berjalan dengan dinamis dan saling mengisi, hingga saat tokoh protagonis sok benar hadir mengambil penuh segala atensi, mungkin semua pernah merasakan.
Orang-orang protagonis sok benar di dalam kelas itu memang selalu ada kan? Menjelma menjadi tokoh utama diskusi dengan bahasa melangit yang membuat orang lain merasa bodoh sebab tidak tahu artinya. Ngotot mempertahankan argumentasi, hingga ketika muncul pendapat yang berbeda pandangan, ia tak segan menyerang orang itu secara personal. Benar-benar intoleran!
Dari Negara hingga di Dalam Kelas, Orang Intoleran Selalu Ada!
Ternyata permasalahan intoleran itu tidak hanya terjadi di dalam kelas, namun pada skala yang lebih besar yaitu negara. Negara 62+ contohnya, karena merupakan negara plural, Indonesia memiliki beragam ras, suku, budaya, bahasa dan agama. Hal ini menyebabkan masalah toleransi menjadi isu yang tak pernah usai.
Jika melihat perkembangan dekade terakhir ini, masalah toleransi umat bergama masih hangat untuk diperbincangkan. Bukannya apa, kasus tentang pembunuhan dan perusakan fasilitas publik masih terjadi sebab atas nama agama. Sebenarnya, bukan agama terkait yang salah, hanya saja tindakan para pemeluknya ini yang salah memaknai ajaran agamanya.
Benar kata Guru Besar Studi Agama Universitas Wake Forest AS, Charles Kimball, bahwa memahami agama secara sempit dengan mengabaikan pendapat lain merupakan sumber dari permasalahan. Agama yang harusnya untuk kemanusiaan malah menciptakan orang-orang intoleran yang memusuhi kemanusiaan. Agama yang harusnya bisa menjadi alat pemersatu bangsa, malah menjadi provokasi yang menimbulkan ketegangan antar ummat.
Melihat kenyataan ini, penulis tidak heran jika pada skala yang lebih kecil yaitu kelas menjadi akar tumbuhnya orang-orang intoleran. Bukan atas perbedaan keyakinan Tuhan yang disembah, namun lebih pada perbedaan sudut pandang dalam memaknai ajaran. Oleh karena itu menurut penulis, jika ingin menghadirkan toleransi umat, maka orang-orang intoleran sejak di dalam kelas harus dibersihkan supaya tidak menjadi virus intoleran di negara pada waktu yang akan datang.
Aswaja Sebagai Jalan Alternatif
Menyoal permasalahan tersebut, maka dibutuhkan suatu paham sebagai alternatif penyelesaian. Menurut hemat penulis, paham Aswaja menjadi pilihan yang bagus. Pada hakikatnya Aswaja adalah ajaran Islam yang murni sebagaimana yang diajarkan dan diamalkan oleh Rasulullah bersama para sahabatnya.
Dalam jurnal tarbawi oleh penulis Ach Rofiq (2019), dikatakan bahwa Aswaja merupakan singkatan dari ajaran akidah Ahlussunnah wa al-Jama’ah, yaitu salah satu ajaran akidah yang merujuk pada doktrin aliran kalam yang digagas oleh Abu Hasan al-Asy’ari dan Abu Mansur al-Maturidi. Aswaja adalah salah satu doktrin akidah yang kemudian menjadi sebuah metode berfikir dan terus berkembang menjadi sebuah ideologi dalam proses sejarah yang sangat panjang.
Di Indonesia, ajaran aswaja dipopulerkan oleh KH. Hasyim Asy’ari. Salah satu doktrin akidah Ahlussunnah wa al-Jama’ah adalah moderasi berpikir (wasatiyah fi al-fikr) dan moderasi dalam gerakan (wasathiyah fi al-harakah). Moderasi dalam berpikir (wasathiyah al-fikr). Sikap moderat seperti ini yang diharapkan bisa menjadi gaya hidup masyarakat untuk menuju umat yang toleran.
Metodologi pemikiran aswaja senantiasa menghindari sikap-sikap tatharruf (ekstrem), baik ekstra kanan atau ekstrem kiri. Inilah yang menjadi esensi identitas untuk mencirikan paham aswaja dengan sekte-sekte Islam lainnya. Dan dari prinsip metodologi pemikiran inilah aswaja membangun keimanan, pemikiran, sikap, prilaku, dan gerakan.
Pendidikan di Sekolah Telah Gagal?
Dalam perkembangannya kampus ataupun sekolah-sekolah telah menjadi rumah kedua bagi seorang anak manusia untuk mengembangkan karakternya. Dalam bidang pendidikan aswaja juga memiliki peranan yang sangat penting sekali sebagai pengembangan nilai pendidikan di indonesia.
Salah satu kegiatan yang paling sering dilakukan oleh para mahasiswa yang sedang menempuh suatu pendidikan adalah diskusi di dalam kelas yang dipandu dosen. Kegiatan diskusi di dalam kelas ini memang menjadi sesuatu yang paling sering kita jumpai di dunia mahasiswa. Sebab, dengan berdiskusi baik di dalam kelas atau pun luar kelas, mereka mencoba mengembangkan kapasitas intelektual mereka antara satu dengan yang lainnya.
Maka tak jarang jika situasi diskusi di dalam kelas justru dijadikan sebagai ajang pamer intelektual yang kemudian merasa paling benar sendiri dan tidak mau menghargai pendapat orang lain. Ketika hal demikian sudah terjadi pada diri mahasiswa, maka tujuan pendidikan telah gagal. Hal ini sejalan dengan apa yang dikatakan Aristoteles, mendidik pikiran tanpa mendidik hati adalah bukan pendidikan sama sekali!
Aswaja dan Penerapannya dalam Dunia Pendidikan
Di sinilah peran aswaja dalam bidang intelektual sangat perlu diterapkan sebagai landasan dalam berfikir dan bertindak. Salah satu sikap yang terkandung dalam aswaja yang relevan untuk meningkatkan evektivitas kegiatan diskusi di dalam kelas adalah sikap moderasi yang nantinya akan melahirkan nilai tasamuh atau toleransi.
Adanya sifat tasamuh yang melekat dalam diri setiap mahasiwa menjadikan itu sebagai sebuah langkah positif dalam meningkatkan nilai-nilai saling menghargai dan merekatkan persatuan. Sejalan dengan apa yang dikatakan John F. Kennedy Presiden Amerika ke-35, “Jika ada perbedaan, yang harus dilakukan adalah menemukan cara untuk merayakan dan mendiskusikan perbedaan itu tanpa memecah belah”. Dengan demikian, paham aswaja penting untung memberangus sikap intoleran hingga ke akar-akarnya.
Hal ini penting untuk menciptakan dunia pendidikan yang memiliki nilai moral. Sebab, nilai moral akan menciptakan karakter individu yang positif seperti sikap tasamuh atau toleransi misalnya. Ya, meskipun dengan toleransi kita tidak bisa mengakhiri perbedaan-perbedaan, paling tidak kita dapat membantu dunia tetap aman untuk keanekaragaman.
Editor: Anisa Kurniarahman