Oleh: Fahrul Rozi
Islam dan tantangannya dalam menghadapi peradaban modern hari ini mungkin bukan bahasan baru bagi telinga kita. Bahasan ini sudah sejak lama dibicarakan oleh setiap kalangan dan hampir di setiap sudut kota-kota di tanah air bahkan dalam skala internasional sekalipun yang negaranya dihuni oleh ummat muslim. Mulai dari kedai kopi, sawah, sekolah, universitas, lembaga-lembaga islam (Ormas), kajian-kajian keislaman dansebagainya.
Tetapi bahasan ini masih saja hangat saat ini yang secara tidak langsung menyatakan bahwa Islam masih gagap dalam menghadapi peradaban modern dewasa ini. Sejarah lama kembali dibuka tentang kejayaan peradaban Islam di masa lampau yang mendominasi peradaban dunia dan berharap titik ini bisa membangkitkan kembali peradaban Islam seperti di masa lalu.
Namun realitanya saat ini modernitas yang dibarengi dengan meluasnya budaya menjadi tantangan tersendiri dalam mewujudkan kebangkitan Islam, kemudian diperburuk lagi saat wacana peradaban modern hari ini yang ditawarkan di masyarakat Islam tidak berjalan mulus di masyarakat Islam itu sendiri.
Latar belakang pandangan pemikiran dan perkembangan Islam yang beragam mulai dari tradisionalis, konservatif dan cenderung tertutup sangat berpengaruh. Karena hal ini menjadi faktor penghambat kebangkitan Islam saat ini, ditambah lagi dengan budaya lama yang tidak relevan masih saja dipelihara saat ini.
Problem Kontemporer Menurut Ibrahim M. Abu Rabi’
Kegelisahan yang sama di alami oleh Abu Rabi’, beliau menyatakan bahwa krisis perspektif dan keilmuan dalam Islam menjadi salah satu faktor lemah dan sulitnya peradaban Islam untuk bangkit dan berkembang. Abu Rabi’ berpendapat bahwa Islam berbeda dengan metodologi Islam.
Islam merujuk pada wahyu yang kekal dan agama yang suci, sedangkan metodologi Islam merujuk pada perkembangan keilmuan dan pemikiran muslim. Seperti penafsiran Al-Qur’an, Hadist, Fikih dan lain sebagainya.
Dalam hal ini berarti keilmuan dalam Islam bersifat terbuka dan selalu dinamis mengikuti kebutuhan dan perkembangan zaman. Disisi lain, keterbelakangan umat Islam menurut Rabi’ karena kurangnya perhatian terhadap perkembangan ilmu pengetahuan sehingga perspektif yang digunakan masih terkesan dikotomis, dan berpusat pada teks. Kemudian hal ini ditambah dengan gagalnya intelektual muslim untuk aktif dan memberikan solusi untuk menyelesaikan permasalahan kontemporer sekarang ini.
Baca Juga: Mengenal Ilmu Sosial Profetik
Berkaitan dengan permasalahan tersebut Abu Rabi menawarkan konsep kongkrit dalam menghadapi krisis dan problematika dalam studi Islam. Pertama, Menyadarkan bahwa studi Islam tidak dapat dilakukan dalam satu aspek saja melainkan menurutnya ada empat aspek penting yang harus diperhatikan dalam Islam: a) aspek filosofis (ideologis), b) aspek teologis, c) aspek teks (nash), d) aspek realitas antropologis. Kedua pentingnya intelektual yang benar-benar terlibat aktif dalam membangkitan studi Islam dan berupaya menyelesaikan masalah-masalah kontemporer umat Islam.
*****
Banyak sekali tokoh muslim yang menyoroti permasalahan umat Islam di era modern, terutama terkait kemandegkan perkembangan pemikiran muslim yang kian hari makin menggelisahkan. Nurcholis Majid salah satu tokoh muslim tanah air juga menyebutkan bahwa banyaknya permasalahan dan krisis dunia Islam saat ini salah satunya ialah disebabkan oleh kesalahan muslimiin itu sendiri dalam memahami dan memperlajari Islam.
Permasalahan yang di alami tokoh-tokoh muslim di atas juga kita alami dalam perkembangan pemikiran Islam di Indonesia. Permasalahan yang sama pun juga kita alami seperti pola pikir yang masih tradisionalis dan tertutup di daerah-daerah tertentu di Indonesia.
Di samping itu, banyak masyarakat yang masih kental dengan budaya lama yang dianggap sacral padahal menyalahi syari’at Islam dan tidak berorientasi pada dinamika dan kemajuan peradaban Islam serta gagap dalam menghadapi permasalahan kontemporer di era modern saat ini.
Penulis adalah Mahasantri Pondok Mahasiswa Hajjah Nuriyyah Shabran-UMS
Ilustrasi: ibtimes.id