Rabu, Oktober 7, 2026
Kalimahsawa.ID
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
Kalimahsawa.ID
No Result
View All Result

NU dan Gerakan Modernitas

Nurbani Yusuf by Nurbani Yusuf
Oktober 25, 2020
in Esai
0
santri NU dan modernitas

sumber: wikipedia

32
SHARES
190
VIEWS

NU sering dianggap sebagai organisasi tradisional yang kemudian dibenturkan dengan gerakan modernitas semacam Muhammadiyah. NU maju karena menjadikan Muhammadiyah sebagai model gerakan pemajuan, pemodernan dan inklusifitas. Muhammadiyah berada di zona nyaman sebagai Islam berkemajuan, modern dan eksklusif.

Modernis dan tradisionalis agaknya sudah tak lagi bisa dipatok atau dikurung dalam definisi yang rigid. Apalagi jika ukuran modern dan tradisional bertumpu pada simbol-simbol fisik dan gerak mekanik. Menafikkan yang substantif bahwa modem dan tradisional lebih pada cara berpikir, cara pandang atau state of mind.

TulisanTerkait

Refleksi Tahanan Politik Aksi 2025: Menulis untuk Rekan Juang yang Terpenjara

Ketika Prestasi Menjadi Ukuran: Membangun Organisasi Berbasis Meritokrasi

Wacana Digitalisasi Ikatan: Mengapa Satu Data IMM penting?

Perpedaan fisik

Seratus tahun yang lalu mungkin: celana, pentalon, dasi, sepatu vantovel bisa disebut modern berbanding terbalik dengan sarung, surban, terompah atau kopyah. Atau buku putih dengan huruf tulisan Latin Eropa lebih modern dibanding kitab kuning bertulis Arab gundhul disebut tradisional.

NU pun disebut kaum tradisionalis —bukan bagian dari gerakan modernitas— sebab mengenakan sarung, surban, terompah dan atribut ndeso lainnya yang kemudian identik dengan kaum ndesit yang dianggap kolot jumud dan tidak mau berubah. Tapi benarkah stigma ini ?

Baca juga: Santri Progresif: Menuju Era NU Digital

Batasan simbolik itu sudah berubah seiring dengan gerak dialektik —sunatullah tak bisa dibendung. Yang dulu di sebut modern dan tradisional telah berubah dan menghapus garis batas. Sementara yang menabalkan diri sebagai modern bisa saja berubah tradisional, kolot dan jumud karena mengusung semangat eksklusifitas.

Belum ada kata pasti siapa pertama sebut NU tradisional atau Muhammadiyah modern — Nakamura dan Greg Barton pun juga tak bisa jelaskan kenapa kedua gerakan Islam ini seakan mengambil posisi saling berhadapan.

Menerabas Batas Modernitas dan Tradisionalis

Batas-batas modernitas dan tradisionalis itu sudah diterabas— NU sudah punya puluhan universitas, rumah sakit atau boarding school sebagai silmbol modernitas — sebaliknya Muhammadiyah tak kalah gesit dengan membanngun puluhan pesantren dengan berbagai variannya yang dulu dianggap tradisional.

Muhammadiyah sukses menjadi model gerakan Islam modernis —membuka cakrawala pemikiran Islam yang luas dan menyandingkan pada budaya modem. Dengan begitu Islam menjadi setara. Tidak dipandang sebelah mata seperti sebelumnya. Gagasan dan ide Kyai Dahlan dinikmati banyak orang. Proses Dialektik sedang berlangsung natural sebab begitulah yang seharusnya.

Perbedaan fisik dan gerak mekanik makin menipis — lantas apa yang tersisa dari perspektif modernitas dan tradisionalis itu? Bukankah kedua nya sudah sama-sama pakai celana, dasi dan sepatu vantouvel dengan merk yang sama, keduanya sudah sama-sama membaca buku putih dengan tulisan Latin Eropa? Bahkan Gadget nya juga sama-sama dari produk kafer yang sama?

Jadi apa yang di perdebatkan? apa yang perlu dibenturkan antara NU dan gerakan Modernitas? Tentang nawaitu, qunut subuh, bacaan sayyidina atau tentang peringatan maulid? Kemudian saling membangun identitas sebagai atribut untuk membedakan. Yang baca ushali, qunut subuh yang memperingati maulid disebut tradisionalis? Dan sebaliknya yang meninggalkan disebut modern ?

Dulu sekali —pelajar modern disebut ‘student’ — pelajar tradisional disebut ‘santri’ — tapi bisa saja sekarang malah berbalik menyebut student dianggap kemaruk atau kem-Inggris —

 

editor: Sifa Lutfiyani A.

Terkait

Tags: ModernitasMuhammadiyahNUNU modernNU tradisionaltradisionalis
Previous Post

Menyoal Omnibus Law: Tujuan dan Cara Etis

Next Post

Pemuda Dulu, Pemuda Kini

Nurbani Yusuf

Nurbani Yusuf

Komunitas Padhang Makhsyar

Next Post
Pemuda Dulu, Pemuda Kini

Pemuda Dulu, Pemuda Kini

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Tentang Kalimahsawa.id
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan
Contact Person: 085850332866

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.

No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.