Rabu, Oktober 7, 2026
Kalimahsawa.ID
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
Kalimahsawa.ID
No Result
View All Result

Refleksi Kemerdekaan Indonesia: Nasionalis Sekaligus Bersyari’at

Toni Ardi Rafsanjani by Toni Ardi Rafsanjani
Agustus 14, 2020
in Esai
0
proklamasi kemerdekaan muhammadiyah
35
SHARES
205
VIEWS

Pada 17 Agustus 2020 negara Indonesia akan masuk usia ke 75 tahun sejak kemerdekaan. Rakyat Indonesia akan merayakan hari kemerdekaan atau hari ulang tahun Republik Indonesia. Kemerdekaan RI adalah momen yang sangat menggembirakan bagi seluruh rakyat Indonesia. Banyak program-program yang dipersiapkan untuk mengisi pada saat hari kemerdekaan RI itu.

Setiap awal bulan agustus bayak tulisan-tulisan yang bergambar simbol nasionalis dan bernada perjuangan kemudian masyarakat berbondong-bondong membuat perlombaan dari tingkat dusun sampai tingkat kabupaten. Ini adalah ekpresi kebanggaan terhadap negara Republik Indonesia.

TulisanTerkait

Refleksi Tahanan Politik Aksi 2025: Menulis untuk Rekan Juang yang Terpenjara

Ketika Prestasi Menjadi Ukuran: Membangun Organisasi Berbasis Meritokrasi

Wacana Digitalisasi Ikatan: Mengapa Satu Data IMM penting?

Sikap nasionalis yang harus kita lestarikan dan gelorakan tentu tidak hanya sebatas ritual atau formalitas.

Kemerdekaan yang kita peroleh harus dimaknai sebagai anugrah dari Tuhan kepada manusia untuk membentuk persatuan dan peradaban yang bisa memberi manfaat untuk kehidupan.

Sejarah Kemerdekaan Indonesia

Secara history, kemerdekaan Negara Republik Indonesia bisa terwujud karena perjuangan tokoh-tokoh agamis dan nasionalis. Semua memperjuangkan demi terwujudnya Negara Republik Indonesia yang utuh dari pengusiran para penjajah.

Pada Februari 1945, Ki Bagus diundang ke Jepang bertemu Kaisar Hirohito alias Tenno Heika. Ki Bagus menjadi anggota dari Badan Penyelidikan Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia yang bertugas merumuskan Undang-undang Dasar. Ia mewakili golongan Islam bersama dr. Sukiman Wirjosanjoyo. Haji Abdul Kahar Muzakkir, Wahid Hasyim, Abikoesno Tjokrosoejoso, Mr. Ahmad Soebardjo, dan Haji Agus Salim.

Baca Juga: Antarini Arna: Pendidikan Pancasila tidak Sensitif Gender

Ki Bagus Hadi Kusumo mewakili kaum agamis, memperjuangkan negara yang hadir harus berlandaskan agama Islam, akan tetapi gagasan tersebut tidak diterima oleh kelompok nasionalis. Mereka beranggapan masyarakat Indonesia tidak semua beragama Islam, melainkan ada yang beragama Kristen, Hindu dan Budha.

Ketika terjadi perdebatan antara kaum agamis dan nasioanlis maka terjadi kebuntuan dalam mempersiapkan kemerdekaan. Melihat kondisi tersebut Ki Bagus Hadi Kusumo berdo’a “Ya Allah, berikan kami petunjuk ke jalan yang benar, yaitu jalan yang telah Engkau beri nikmat dan bukan jalan orang-orang yang Engkau murkai, bukan pula jalan orang-orang yang sesat”.

****

Pada 7 Agustus 1945 BPUPKI diganti menjadi Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) yang dipimpin Sukarno. Dalam sidang yang membahas Pembukaan UUD 1945, Ki Bagus mengusulkan agar kalimat “Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagipemeluk-pemeluknya” disertakan.

Tokoh-tokoh yang ikutan di dalam merumuskan PPKI terdiri dari kelompok Islamis dan nasionalis diantaranya adalah Soekarno, Haji Achmad Soebardjo, Haji Abdul Kahar Muzakkir, Alex Andries Maramis, Abikoesno Tjokrosoejoso, Haji Mohammad Hatta, Haji Abdul Wahid Hasyim, Haji Agus Salim, Haji Mohammad Yamin.

Meskipun demikian, Para tokoh Islam memiliki kebesaran hati dan kepribadian sangat mulia untuk memperoleh kemerdekaan. Hal ini bisa dilihat dari cara berfikir dan sikap politik saat bergabung dalam panitia persiapan kemerdekaan Indonesia (PPKI).

Keanggotaan dalam PPKI secara kuantitas didominasi oleh tokoh-tokoh Islam, akan tetapi tidak menuntut banyak maupun dikhususkan. Para tokoh Islam bukan tidak peduli terhadap agama Islam tapi lebih mengutamakan terwujudnya persatuan dan kebersamman demi meraih kemerdekaan serta keutuhan NKRI.

Syari’at Bernegara

Ada sebagian masyarkat menganggap bahwa sistem demokrasi bertentangan dengan syariat Islam. Tidak hanya bertentangan, demokrasi juga dituduh sebagai sistem thoghut ciptaan manusia yang penuh hawa nafsu. Sementara Islam menghendaki agar segala seluk beluk kehidupan umat Islam termasuk sistem negara harus menyatu.

Syariat Islam yakni berisi hukum dan aturan Islam yang mengatur seluruh sendi kehidupan umat manusia, baik muslim maupun non-muslim. Selain berisi hukum dan aturan, Syariat Islam juga berisi penyelesaian masalah seluruh kehidupan ini.

Maka oleh sebagian penganut Islam, Syariat Islam merupakan panduan integral atau menyeluruh dan sempurna seluruh permasalahan hidup manusia dan kehidupan dunia ini termasuk dalam bernegara.

Hadirnya Negara tentu disertai dengan Undang-undang untuk mengatur kehidupan berbangsa dan bernegara yang baik. Kekayaan alam adalah kenikmatan yang harus dikelola untuk kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia. Bernegara tentu menggunakan norma-norma yang disepakati oleh masyarakat banyak, menjaga kerukunan, kedamaian dan kemakmuran adalah bagian dari ajaran agama dalam bernegara.

****

Berbangsa dan bernegara mempunyai berbagai variable-variable yang saling mendukung satu dengan yang lainnya. Dari sekian banyak variable itu ada beberapa variable yang harus kita perhatikan yaitu persatuan dan kesatuan yang merupakan aspek penting dalam kesatuan konsep berbangsa dan bernegara. Al-Qur`an memerintahkan persatuan dan kesatuan. Allah berfirman: 

Artinya: “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah”. (Ali-Imran: 103)

Baca Juga: Konsep Tauhid Seharusnya Menginspirasi Sikap Moderasi

Quraish Shihab menjelaskan, Berpegang teguhlah kepada agama Allah dan tetaplah bersatu. Janganlah berbuat sesuatu yang mengarah kepada perpecahan. Renungkanlah karunia Allah yang diturunkan kepada kalian pada masa jahiliah, ketika kalian masih saling bermusuhan. Saat itu Allah menyatukanhati kalian melalui Islam, sehingga kalian menjadi saling mencintai.

Saat itu kalian berada di jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kalian dengan Islam. Dengan penjelasan yang baik seperti itulah, Allah selalu menerangkan berbagai jalan kebaikan untuk kalian tempuh.

Merawat Nasionalisme

Negara Republik Indonesia sudah hadir dan sekarang berusia 75 tahun, Indonesia negara yang berlandaskan Pancasila sudah final dan tidak perlu dipertentangkan lagi. Adapun jika ada isu-isu perubahan ideologi dasar negara maka dia melanggar kesepakatan yang sudah disepakati oleh pejuang-pejuang terdahulu.

Sebagai anak bangsa kita harus merawat warisan yang diperjuangkan oleh tokoh-tokoh Islamis dan nasionalis. Pada saat ini merawat nasionalisme tidak perlu menumpahkan darah, melainkan dengan menguatkan sumber daya manusia dan mengelola sumber daya alam dengan baik, maka akan terwujud Indonesia yang “Baldatun Tayyibatun wa Rabbun gafụr”.

Ilustrasi: tribunnews.com

Terkait

Tags: 17 AgustusKebangsaanKemerdekaanNKRI
Previous Post

Rehabilitasi Mantan Napi Terorisme, Mahasiswa Harus Berperan!

Next Post

Anhar Gonggong: Apa yang Tidak Diberikan Muhammadiyah Kepada Bangsa?

Toni Ardi Rafsanjani

Toni Ardi Rafsanjani

Next Post
Anhar Gonggong: Apa yang Tidak Diberikan Muhammadiyah Kepada Bangsa?

Anhar Gonggong: Apa yang Tidak Diberikan Muhammadiyah Kepada Bangsa?

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Tentang Kalimahsawa.id
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan
Contact Person: 085850332866

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.

No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.