Selamat Milad yang ke-111 Hijriyah untuk Persyarikatan Muhammadiyah. Milad kali ini “ramai” gaungnya di jagat maya. Tetapi di ruang yang nyata, kita masih menghadapi keprihatinan, karena pandemi global Covid-19 belum usai. Di samping itu, kita juga sedang was-was lantaran harus bersiap-siap menghadapi resesi ekonomi (baca: krisis) yang mungkin tidak lama lagi akan menghampiri.
Masalah kesehatan dan ekonomi karna pandemi kali ini, bukanlah masalah yang sederhana. Dalam konteks global, masih banyak negara yang sedang berjuang keras menghadapinya. Tampaknya memang belum ada yang menjadi pemenang. Tidak ada resep yang paling manjur untuk terlepas dari jerat krisis yang ada, namun bukan berarti kita harus berputus-asa.
Nah, dianggap tidak sederhana, karena dampaknya terhadap kehidupan sehari-hari, begitu nyata. Angka kematian akibat pandemi Covid-19 di Indonesia menjadi yang terbesar di Asia Tenggara. Sementara itu, psikosomatik (kekhawatiran yang berlebihan sehingga merasa sakit, walau sebenarnya tidak) yang bersifat massal mewabah, namun berjalan beriringan dengan ketidakpedulian sebagian masyarakat terhadap pentingnya protokol kesehatan (memakai masker, menjaga jarak dan kebiasaan mencuci tangan secara sering).
Pemerintah sempat mengambil langkah taktis, yakni pemberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) atau semacam lockdown versi Indonesia. Ternyata hal tersebut menciptakan krisis finansial yang luar biasa. Gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) menjamur di mana-mana. Orang miskin baru, semakin melimpah ruah. Singkat kata, kemiskinan menjadi semacam “pembunuh” manusia yang tidak kalah berbahaya.
Setelah PSBB dicabut, maka pemerintah mengumumkan adanya cara hidup baru (dulu disebut new normal), yang intinya harus lebih berhati-hati, waspada dan peka terhadap kesehatan. Ternyata angka kasus Covid-19 semakin tinggi. Di minggu-minggu ini (Juli 2020), ternyata menyentuh angka 100.000 kasus. Tujuan pencabutan PSBB adalah untuk menormalisasi krisis keuangan yang ada. Tapi, sementara krisis belum terobati, pandemi semakin menggurita.
Kendati demikian, bukan berarti tidak ada titik terang dalam rangka mengakhiri masalah yang ada. Berbagai laboratorium dan universitas terkemuka di dunia mengumumkan hasil kerja kerasnya mengenai uji klinis vaksin terhadap manusia. Universitas Oxford, Inggris, misalnya, menyatakan bahwa vaksin mereka cukup manjur dalam meningkatkan imunitas manusia dan membentengi dari virus Corona yang mematikan. Di saat yang sama, berbagai laboratorium di Tiongkok juga mengungkapkan hal yang serupa.
Indonesia sendiri mengambil langkah strategis bekerjasama dengan Tiongkok, dalam rangka uji klinis vaksin tersebut. Tentu kerjasama internasional di bidang riset mutakhir, adalah hal yang lazim dan dianggap saling memberikan keuntungan (simbiosis mutualistik). Mudah-mudahan uji klinis kali ini berhasil dan hasilnya baik, sehingga dalam waktu dekat vaksin yang manjur akan diproduksi secara massal di negeri ini. Kami optimis bahwa semua penyakit, niscaya ada obatnya. Setiap racun, ada penawarnya.
Muhammadiyah selama pandemi berlangsung, berdiri di garda depan mendampingi negara ini. Apa saja sudah diberikan oleh Persyarikatan yang berusia lebih tua dari Republik Indonesia ini. Termasuk di antaranya adalah bantuan finansial, energi, tenaga, sumberdaya kesehatan, kesejahteraan sosial dan banyak lagi yang lainnya. Semuanya diberikan tanpa pamrih.
Kita semua tahu bahwa, Ibu Pertiwi sedang mengalami keterpurukan dan Muhammadiyah berkhidmat untuk “Memajukan Indonesia, Mencerahkan Semesta.” Dengan puluhan juta anggota yang menyebar ke seantero negeri, Muhammadiyah menebar kebajikan dengan segala jerih payah yang dihadapinya. Bidang-bidang strategik yang ditekuni Muhammadiyah adalah pendidikan, kesehatan dan filantropisme (Koordinasi Lazismu). Bidang-bidang lain yang juga vital adalah penanggulangan bencana (Muhammadiyah Disaster Management Centre/MDMC) dan bahkan secara khusus memiliki Muhammadiyah Covid-19 Command Centre (MCCC).
Segala kerja keras Muhammadiyah bukan tanpa masalah. Tentu ada banyak masalah pelik yang menghampiri. Tapi itu semua bukanlah alasan untuk meredupkan spirit berlomba-lomba dalam kebajikan (fastabiq al-khairat) Muhammadiyah. Dalam mengurus persoalan muktamar misalnya, Muhammadiyah dengan segala ketabahan dan kesabaran menunda pelaksanaannya di tahun 2020 (dan akan digelar pada 2021 mendatang).
Sementara itu, berkaitan dengan gejolak politik, sosial dan ekonomi, terutama yang muncul melalui tanda adanya berbagai rancangan undang-undang (RUU), Muhammadiyah memberikan respon dengan penuh pertimbangan yang memihak persatuan dan kesatuan bangsa, keadilan, kemanusiaan dan kelestarian alam. Berbagai RUU kontroversial, ditanggapi secara arif dan bijaksana oleh Muhammadiyah.
Dalam konteks kebangsaan, Muhammadiyah lebih banyak memberi daripada menerima. Memang pada dasarnya, Muhammadiyah mengutamakan tangan di atas daripada tangan di bawah. Muhammadiyah juga, dalam konteks keuangan dan aktivitas pemberdayaan masyarakat, mulai memperkuat lembaga “Muhammadiyah Aid” semacam sentral lembaga donor yang dikelola secara profesional, modern dan berpijak di atas fondasi kemaslahatan bangsa (transparan, akuntable, berkelanjutan dan berkemajuan).
Jika membayangkan Indonesia adalah pohon besar yang berdaun lebat dan berbuah manis, Muhammadiyah bukanlah pupuk atau sekedar vitamin penyubur tanah. Muhammadiyah adalah akar, batang, ranting, daun dan buah bangsa Indonesia itu sendiri. Muhammadiyah adalah Indonesia, dan Indonesia adalah Muhammadiyah.
Baca juga: Menuju Kebahagiaan yang Paripurna
Dalam konteks ini, Muhammadiyah telah berkomitmen dan menegaskan bahwa Indonesia adalah Negara Pancasila. Dan Negara Pancasila menurut perspektif Muhammadiyah, adalah Dar al-Ahd wa al-Syahadah atau negara konsensus dari seluruh elemen bangsa dan sekaligus tempat bekerja keras dan persaksian atas proses pembangunan yang secara konsisten dilakukan. Artinya, Muhammadiyah berkontribusi secara signifikan pada proses pembangunan Indonesia. Proyeksi Muhammadiyah berkaitan dengan hal ini adalah ingin menciptakan peradaban Indonesia yang luhur dan berkemajuan.
Tentu saja, keringat yang mengucur dari Muhammadiyah menunjukkan betapa yang dilakukannya selama ini benar-benar kerja keras yang tidak mudah. Tetapi kami yakin bahwa, sesungguhnya dengan segala tantangan terjal yang ada, senantiasa diiringi dengan timbulnya jalan keluar. Sebagaimana kata kitab suci, “Setelah kesulitan, muncullah kemudahan. Setelah kesukaran, terbitlah jalan yang lapang” (QS Al-Insyirah).
Editor: Yusuf