Rabu, Oktober 7, 2026
Kalimahsawa.ID
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
Kalimahsawa.ID
No Result
View All Result

Solusi Konflik Kehidupan Terdapat Pada Sila Ketuhanan

RedaksiKS by RedaksiKS
Juli 13, 2020
in Esai
0
agama

agama

143
SHARES
839
VIEWS

Pancasila yang merupakan “Darul ‘Ahdi wal Syahadah” atau kesepakatan bersama para pendiri bangsa merupakan tujuan hidup atau visi penelenggaraan Negara. Dimana setiap perilaku berkehidupan sosial setiap warga Negara dan kebijakan pemimpin bangsa harusnya mencerminkan nilai-nilai Pancasila dalam menghadapi masalah harus ada solusi konflik.

Sama halnya dengan implementasi sila pertama yang merupakan pangkal dari setiap kehidupan yang muaranya akan selaras dengan sila-sila berikutnya. Sila pertama merupakan keyakinan hidup berlandaskan ketuhanan, dimana wujud religiusitas harus masuk kedalam kehidupan sehari-hari warga Negara.

TulisanTerkait

Refleksi Tahanan Politik Aksi 2025: Menulis untuk Rekan Juang yang Terpenjara

Ketika Prestasi Menjadi Ukuran: Membangun Organisasi Berbasis Meritokrasi

Wacana Digitalisasi Ikatan: Mengapa Satu Data IMM penting?

Nilai sila pertama akan membawa kita pada bentuk pengkajian religiusitas dalam kehidupan pribadi kepada pencipta dan juga hubungan sosial. Hal tersebut juga terlihat akhir-akhir ini dimana menurut survey yang dikeluarkan google bahwasanya di masa pandemik pencarian dalam serch engine lebih banyak mengarah pada pengetahuan religiusitas. Hal tersebut juga kemudian pernah menjadi sebuah tesis dari para filsuf abad modern seperti karl marx yang mengatakan agama menajadi candu. Candu disini ditafsirkan sebagai hiburan pada saat masyarakat mengalami penderitaan baik secara fisik maupun psikis. Namun yang menjadi permasalahan adalah bagaimana masyarakat memaknai religiusitas tersebut dalam implementasi berkehidupan masih terlalu sempit.

Terjebak Pada Ritus Keagamaan

Dalam buku “Iblis Menggugat Tuhan” terdapat satu bab yang membahas tentang cerita seorang raja. Dia berhasil menciptakan tempat ibadah yang sangat megah, hingga suatu ketika tempat ibadah tersebut di rusak oleh orang yang berbeda keyakinan. Secara singkat sang raja merasa murka dan akan menuntut balas dengan menyerang tempat peribadahan orang tersebut. Hingga penasehat raja mengatakan bahwa raja tidak sedang membela tuhan melainkan membalaskan demdamnya karna karyanya telah di rusak.

Pada cerita ini dapat ditarik sebuah benang bahwasanya selama ini pemaknaan nilai religiusitas dalam sila pertama. Yaitu hanya sekedar dimaknai sebagai toleransi dan kebebasan beragama yang justru membawa pemeluk agama menjadi fanatik terhadap agamanya.

baca juga Komunisme Memang Gagal

Kefanatikan tersebut berujung pada sensitifnya gensekan agama dan menghilangkan makna sesungguhnya dari ajaran religious. Religiusitas (keberagamaan) seseorang menurut Stark dan Glock (1994) diuraikan dalam bentuk pemahaman bertahap, diawali dengan kepercayaan dogma agama, pengetahuan agama, perasaan beragama dan terakhir adalah praktik beragama.

Melihat situasi saat ini pemaknaan sila pertama dalam Pancasila belum mampu menunjukan praktik ajaran agama secara keseluruhan. Umat beragama masih dalam taraf menjalankan ritual agama dan justru mulai luntur nilai kemanusiaan yang menjadi tujuan utama agama. Permasalahan tersebut juga masih menjadi konflik berkepanjangan sejak abad pertengahan, dimana ilmu pengetahuan yang saat itu berfokus pada keadaan sosial berkonflik dengan kaum agama. Bahkan sempat muncul satu thesis keras dan kontoversial dari Nitzce yang mengatakan tuhan telah mati, dalam hal tersebut saya memaknainya bahwa Nitzce mengkritik agamawan yang mempelajari hidup dalam dogma agama namun tidak mampu memaknai moral dan nilai kehidupan secara utuh.

Menuju Tuhan

Dalam pemaknaan sila pertama dalam Pancasila masih terjadi permasalahan mendalam mengenai status mayoritas dan minoritas. Hal tersebut mampu diselesaikan pendiri bangsa dalam perumusan Pancasila yang mengubah literature sila pertama dari “Ketuhanan dengan Kewajiban Menjalankan Syariat Islam bagi Pemeluk-pemeluknya” menjadi “Ketuhanan yang Maha Esa”. Dengan melihat dialektika tersebut harusnya masalah dalam memaknai sila pertama kita sudah beranjak dari toleransi dan kebebasan beragama. Namun realitasnya sampai saat ini kita belum selesai dengan permasalahan tersebut. Nilai kemanusiaan yang lebih tinggi justru belum mampu kita pijak dalam berkehidupan sosial.

Sampai saat ini dalam memaknai sila pertama dalam Pancasila kita masih dalam taraf hubungan dengan pencipta namun belum memulai hubungan dengan kehidupan sosial seutuhnya. Hal tersebut juga diperparah dengan pemaknaan kehidupan sosial yang hanya sebagai hubungan manusia dengan manusia lain. Lebih luas lagi harusnya kita mulai memaknai hubungan sosial lebih luas lagi yaitu kehidupan dengan alam, hewan dan seluruh kehidupan. Dengan menyadari hal tersebut tidak akan mucul kembali permasalahan ekologi, eksploitasi hewan dan kriminalisasi yang marak terjadi.

Dengan permasalahan sila pertama yang belum mampu teratasi. Maka perbaikan pola pemikiran yang berkelanjutan adalah alternative dalam menghentikan permasalahan ini dan beranjak pada kehidupan yang menjadi cita-cita bersama. Kesadaran kolektif yang harus digalakkan serta perbaikan pola pikir generasi muda menjadi kunci utama dalam pemaknaan sila pertama yang lebih mendalam. Hal ini karena generasi muda yang nantinya mengemban amanah peradaban harus dibekali pemahaman yang mendalam.

Analisis Akademik Terhadap Religiusitas

Hasil penelitian Andist, Miftah Aulia dan Ritandiyono (2008) tentang Religiusitas dan Perilaku kenakalan remaja mengatakan bahwa semakin tinggi religiusitas maka semakin rendah perilaku seks bebasnya. Sebaliknya semakin rendah religiusitas maka semakin tinggi perilaku seks bebasnya. Kenapa kemudian tulisan ini mengangkat kenakalan remaja karena hal tersebut akan menjadi lebih komplek saat mereka dewasa nantinya.

baca juga Melindungi Pemilih, Merawat Demokrasi

Namun yang kembali harus ditegaskan adalah bahwa ajaran agama bukan hanya sekedar penegakan ritual keagamaan namun hubungan pemeluk agama dengan kehidupan. Karena pada hakikatnya manusia hidup bersandingan bahkan manusia juga masuk kedalam kekuasaan kehidupan. Sehingga perlu pemahaman manifestasi nilai agama kepada hubungan dengan alam, hewan dan seluruh kehidupan dan bukan hanya tentang hubungan mereka dengan tuhan secara personal.

Hasil penelitian Ulfa Maria (2007) menyimpulkan ada peran persepsi keharmonisan keluarga, ligkungan sosial dan konsep diri terhadap kecenderungan kenakalan remaja. Artinya bukan hanya generasi muda namun seluruh manusia harus kembali belajar memaknai nilai agama. Serta menghayati sila pertama dalam Pancasila untuk menuju kehidupan yang dicita-citakan seluruh bangsa.

Dengan pemaknaan yang mendalam tentang sila pertama dalam Pancasila yang merupakan manifestasi dari ajaran agama. Maka, akan membawa kita menuju jalur implementasi sila-sila dalam Pancasila selanjutnya. Sehingga, dengan pemaknaan yang mendalam dari sila pertama yang selaras dengan pandangan hidup. Pada akhirnya akan memperbaiki konflik kehidupan yang melanda bangsa ini.

Pemimpin Negara yang membawa nilai ajaran agama akan mampu membawa kebaikan bagi seluruh warga negaranya. Tidak akan ada lagi krisis moral, kerusakan alam, eksploitasi terhadap hewan dan lebih mendalam kebahagiaan sejati akan membersamai dalam kehidupan.

Oleh: Umi Makrifatun Khasanah, Zul Fadhli Al Amin, dan Dicky Suryoko (Alumni Pelatihan Bina “Gen-P” (Generasi Pancasila) yang diselenggarakan oleh PSBPS bekerjasama dengan LPIDB UMS. Tulisan ini merupakan hasil diskusi mereka mengenai makna Sila Pertama Pacasila).

Terkait

Tags: Bina Gen-PGenerasi Pancasilapancasilasila pertama
Previous Post

Bhineka di Pelupuk Mata

Next Post

Musyawarah Sebagai Jalan Utama Menuju Mufakat

RedaksiKS

RedaksiKS

Kalimahsawa.id hadir atas kesadaran bahwa pluralitas merupakan sesuatu yang tak terelakkan dan bahwa keragaman tak harus menjadi keseragaman. Dalam konteks keindonesiaan, Negara Pancasila merupakan titik temu pemikiran antara keislaman, kemoderenan dan keindonesiaan secara harmonis.

Next Post
Apa Kabar Pendidikan Daring ?

Musyawarah Sebagai Jalan Utama Menuju Mufakat

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Tentang Kalimahsawa.id
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan
Contact Person: 085850332866

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.

No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.