“Sastra Indonesia semakin berkembang dengan tampilnya para novelis muda berbakat dengan karya-karya hebat. Dialog Sunyi karya Dare Darwisy yang ada di tangan pembaca ini adalah salah satunya. Di tengah kecenderungan anak muda yang larut dalam hingar bingar kehidupan penuh hura-hura. Dialog Sunyi mengisahkan sisi kehidupan anak muda yang memilih jalan sunyi demi kedamaian, ketegaran dan masa depan yang cermelang. Layak dibaca oleh anak-anak muda, guru dan para orang tua yang mendambakan jalan terang masa depan generasi umat dan bangsa”. (Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed., Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah).
Novel Dialog Sunyi karya Faizin Mubarok Ahmad dengan nama penanya “Dare Darwisy”, seorang novelis muda yang merupakan santri Pondok Pesantren Muhammadiyah Ahmad Dahlan kabupaten Tegal. Dialog Sunyi adalah sepenggal kisah, yang berhasil disarikan oleh Dare Darwisy selama enam tahun hidup di lingkungan pesantren. Dialog Sunyi selesai ditulis oleh Dare Darwisy ketika duduk di kelas akhir Madrasah Aliyah. Saya termasuk teman satu angkatannya sebagai saksi sejarah perjuangan dalam penulisan novel tersebut.
Dare Darwisy pandai meramu cerita yang sederhana menjadi menarik dengan pilihan kata yang tepat dalam menggambarkan suasana dan keadaan, sehingga seorang yang membaca novel tersebut terasa menjadi aktor atau terjun langsung dalam ceritanya. Dalam alur ceritanya selalu ada kejutan, jangankan mengandaikan akhir ceritanya sad ending atau happy ending, menebak cerita pada halaman selanjutnya juga akan susah dibuatnya. Surprise!
Dialog Sunyi menggunakan latar belakang pesantren sebagai alur cerita yang utama. Novel setebal 186 halaman dan Nizar sebagai tokoh utama. Nizar merupakan anak ke empat dari lima bersaudara dan dia merupakan anak yang pertama kali menempuh dunia santri sedangkan ketiga kakaknya tidak mondok dan menempuh di sekolah umum seperti kebanyakan orang. Keiinginan Nizar untuk melanjutkan ke sekolah favorit di Tegal kandas, ditabrak saja oleh pinta ego bapaknya “Supaya kamu bisa menghafal dan memahami Al-Qur’an dengan baik, dan bisa mendo’akan orang tuamu kelak” kata beliau.
Pelangi Tak Berwarna
Nizar dengan berat hati dan terpaksa akhirnya masuk ke dunia pesantren atas dorongan dari orang tuanya serta dukungan dari ketiga kakaknya. Teman-teman sekolah dasar Nizar tidak ada yang mondok dan di pondok nanti cuma bisa ngaji kitab saja dan tidak bisa mengembangkan potensi diri, pikir Nizar pada saat itu.
Nizar mulai menikmati hidup di dunia pesantren. Ketika ia belajar di ruang kelas dengan pelajaran Bulughul Marom, kitab karya Ibnu Hajar Al-Atsqolany. Belum lama belajar ada panggilian dari ustaz untuknya dan mengizinkan ia besuk ke rumah sakit dikarenakan bapaknya terkena sindrom kelelahan kronis. Setelah besuk ia langsung balik ke pondok.
Dalam mimpi Nizar bertemu dengan bapaknya tengah duduk di telaga dengan sorban dan pakaian serba putih. Karena gelisah atas mimpi itu ia kabur dari pondok dan pulang tanpa membawa surat izin pengasuhan. Karena ia tahu tak akan diizinkan pulang hanya karena sebuah gerak hati.
Rumah Nizar ramai, tapi ia terpaku pada sosok lelaki kekar berbaring dengan balutan kain putih, beberapa lubang di kepalanya telah ditutup kain kapas, tubuhnya kaku dan pucat. Innalillahi wainna ilaihi raji’un!
Ada kata-kata bapak Nizar yang masih terngiang dipikirannya. Bahwa ada tiga tipe manusia di dunia ini. Pertama manusia yang tidak mempunyai masalah yaitu manusia yang sudah mati. Kedua manusia yang punya satu masalah yaitu orang gila karena masalahnya bagaimana cara membuatnya kembali jadi waras. Ketiga manusia yang memiliki banyak masalah, inilah orang waras karena hidup sendiri adalah masalah yang harus dihadapi.
Ujian Terberat
Malam itu, selepas salat isya’, sebuah pengumuman dengan bahasa arab berdengung dari balik pengeras suara rumah pengasuhan, nama Nizar disebut.
“Adda’wah ila maktabi musaa’adati ri’ayatittolabah halan, huwa akhinal karim, Muhammad Nizar. Tholabatu sanatussaadisah jaa a min Tegal”. (Panggilan ke kantor pembantu pengasuhan santri, saudara kita yang mulia, Muhammad Nizar. Santriwan kelas enam, asal Tegal).
Nizar memasuki ruangan dan duduk di depan para pengasuhan putra dan putri yang membentuk formasi setengah lingkaran dengan satu meja didepan. Disamping Nizar ada santriwati yang duduk sambil menundukan kepala. Wajahnya tertutupi jilbab putih yang memanjang.
Nizar melakukan kesalahan besar yaitu pulang tanpa izin, ia juga difitnah pacaran dengan santriwati dan sering kirim surat ke santriwati. Ini adalah kebohongan terkejam yang dialami oleh Nizar. “Alfitnatu asyaddu minal qotli” fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan.
baca juga Mendamba Negara Merdeka Bahagia
Hati Nizar hancur, belum bisa menerima akan harga diri yang telah pudar. Ia mendapatkan tiga hukuman sekaligus. Pertama digundul, mengaji di depan rumah pengasuhan setiap sore menjelang maghrib, dan yang terakhir orang tua nya dipanggil.
Dialog Sunyi
Remang-remang cahaya masjid membuat Nizar ingin bersimpuh dan berdo’a dalam kesunyian malam berdialog dengan Allah swt. Menenangkan jiwa yang resah karena pekik kehidupan dunia. Sosok ibu yang hingga kini entah masih mempercayai Nizar atau tidak dan fitnah itu yang membuat ia galau. Dan kembali keinginan besar untuk belajar di Madinah terngiang-ngiang di kepalanya.
Jawaban do’a Nizar mulai terjawab. Kyai Abror pimpinan pondok mengetahui bahwa Nizar merupakan korban fitnah temannya yang iri sama dia. Ibu Nizar juga bangga karena mempunyai anak yang kuat, tabah dan taat beribadah.
Rombongan Syaikh Fahad ber-silaturahim ke pesantren tempat Nizar belajar. Kyai Abror memanggil Nizar untuk menjamu dan mendapatkan kesempatan untuk menghadap Syaikh. entah bagaimana mengungkapkan rasa bahagia Nizar mendapat beasiswa di Universitas Kuwait.
Siapa sangka kekuatan do’a akan secepat itu. Bagi Nizar, Madinah-Kuwait sama saja. Mungkin lewat Kuwait ia akan bisa berdiskusi dengan dosen dari Madinah. Mungkin.