Pendidikan merupakan alat untuk mencapai kebahagiaan dan kesejahteraan bagi seluruh umat manusia. Pendidikan yang berkualitas akan mencerminkan masyarakat yang maju damai dan mengarah pada sifat-sifat yang konstruktif.
Pendidikan juga menjadi roda penggerak sehingga kebudayaan dan kebiasaan dari tiap-tiap zaman menjadi berubah mengikuti perubahan yang diperoleh dari pendidikan itu sendiri.
Maka ketika ingin mencapai kehidupan yang lebih baik tentunya pendidikanlah yang merupakan jawabannya. Karena dari pendidikan melaihirkan hal-hal yang kreatif, inovatif dalam menapaki setiap perkembangan zaman.
Pada pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 pada alinea keempat, secara ekplisit menyatakan bahwa mencerdaskan kehidupan bangsa menjadi beban untuk kebaikan pemerintahan Indonesia. Dalam historis perkembangan pendidikan Indonesia, memang sejak dulu Indonesia jauh tertinggal pendidikannya dibandingkan dengan negara-negara Eropa dan beberapa negara di Asia.
Sehingga pada zaman kolonialisme dulu banyak pemikir dari Indonesia itu belajar ke luar negeri untuk belajar dan kalaupun ada di Indonesia sekolah-sekolah itu hanya untuk orang-orang Belanda dan keluarga Indonesia yang tergolong kaum ningrat.
Agenda Mencerdasakan Bangsa
Setelah Indonesia merdeka pendidikan itupun mulai di bangun pada zaman orde lama, orde baru dan hingga saat ini mencerdaskan kehidupan bangsa. Untuk mengarah pada arah yang semakin baik namun tetap saja kurang maksimal. Perubahan kebijakan-kebijakan melakukan penyeimbangan pendidikan di seluruh Indonesia turut diupayakan.
Demi beban menunaikan beban moral pemerintahan yang termaktub dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 tersebut. Tetapi sampai saat ini memang kualitas pendidikan negara Indonesia masih saja teringgal dari negara-negara lain, apakah ini faktor sejarah? Atau faktor tipologi pendidikan Indonesia? Atau mungkin saja psikologi pendidikan Indonesia yang sangat berbeda?
Baca Juga: Literatur Keislaman Generasi Milenial
Memang dalam perjalan Indonesia menapaki tiap zaman, pendidikan dalam perubahan yang mengarah pada kemajuan. Ini dibuktikan beberapa kebijakan pemerintah mulai dari program wajib belajar. Beasiswa kepada masyarakat kurang mampu dan program-program yang mengupayakan peningkatan kualitas sejauh ini sudah dilakukan.
Sudahkah Sesuai Arah?
Tapi yang menjadi pertanyaan besar adalah kemana arah pendidikan Indonesia saat ini? Dan kenapa kemudian pendidikan Indonesia melakukan perubahan-perubahan sistem apa urgensinya sehingga perubahan sistem itu dilakukan. Padahal menurut perspektif penulis sistem itu tidak perlu dirubah yang perlu dirubah itu adalah orang orang yang menjalankan sistem itu sendiri dalam pengaktualisasiannya.
Pada dasarnya sistem itu dibuat ketika memang dijalankan dengan benar maka tujuan dari sistem itu sendiri akan tercapai. Perlu penegasan dalam menjalankan revolusi mental bagi tiap-tiap orang yang dipertanggungjawabkan untuk menjalankan peningkatan kualitas pendidikan itu sendiri. Dan butuh penataan yang baik secara kompleks hingga ke daerah-daerah sehingga pendidikan itu sama tupoksinya dikonsumsi oleh masyarakat.
Selanjutnya perlu sebuah penetapan untuk tujuan pendidikan tersebut bercermin dari sejarah bahwa dulu pendidikan di Yunani itu diarahkan dengan tujuan pertahanan saja. Sehingga sistem pendidikan mereka diatur secara sistematis dan terfokus kepada pertahanan.
Menuju Konsep Merdeka Belajar
Di masa sekarang ini di bawah kekuasan Presiden Joko Widodo, melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), yaitu oleh Bapak Nadiem Makarim mengeluarkan kebijakan yang dianggap masyarakat banyak sangat revolusioner sehingga kebijakan ini hangat di bicarakan di ruang publik.
Yaitu program “Merdeka Belajar” program ini diwujudnyatakan dalam kebijakan penghapusan Ujian Nasional (UN) mulai tahun 2021 diganti dengan sistem penilaian Asesmen Kompetensi Minimum dan survei karakter.
“Asesmen kompetensi minimum adalah kompetensi yang benar-benar minimum di mana kita bisa memetakan sekolah-sekolah dan daerah-daerah berdasarkan kompetensi minimum”, kata Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim dalam peluncuran empat pokok kebijakan pendidikan Merdeka Belajar di Jakarta, Rabu (11/12/2019)
Baca Juga: “Sains Syariah”, Apakah Bisa menjadi Identitas Baru Pendidikan Islam?
Banyak argumentasi bapak Nadiem Makarim yang menguatkan kebijakan merdeka belajar yang mau diterapkan. Beliau mengatakan bahwa di masa sekarang ini nilai bukanlah penentu kompetensi seseorang. Akreditasi bukan juga menjadi tolak ukur kemampuan yang baik. Kurang lebih seperti itu penyampaiannya dan banyak juga dukungan atas kebijakan ini mulai masyarakat luas baik dari pendidik maupun siswa dan mahasiswa.
Menjadi Terlalu Santai Belajar
Namun tidak luput juga dari kalangan masyarakat yang kurang setuju dengan kebijakan ini. Yang beranggapan bahwa nantinya ketika kebijakan itu berlangsung banyak siswa yang terlalu santai dalam belajar.
Karena tidak lagi memikirkan Ujian Nasional (UN) yang sebetulnya itu adalah sebagai tolak ukur kemampuan kompetensi secara nasional yang soal-soalnya disesuaikan dengan kurikulum yang berlaku pada tiap-tiap zamannya.
Konsep “Merdeka Belajar” ini juga belum menentukan arah dari pendidikan kita kemana. Apakah konsep merdeka belajar ini menuntut pendidikan itu berkontribusi untuk peningkatan ekonomi sehingga menuntut siswa ini belajar dengan bebas. Penulis bukan bermaksud pesimis terhadap kebijakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) saat ini.
****
Namun kita perlu melihat sejarah itu menjadi bahan pembelajaran kedepannya bahwa dari dulu pendidikan kita tidak terlalu difokuskan untuk apa. Melainkan pendidikan itu terbagi ke beberapa bidang sehingga satupun masalah sosial yang ada di Indonesia ini belum ada seutuhnya yang dapat selesai. Karena pendidikan itu disiapkan untuk mengantisipasi masalah-masalah sosial yang ada di tengah-tengah masyarakat.
Jangan sampai kebijakan ini nantinya “jauh panggang dari api”, jauh kenyataan dari konsep yang sudah dibuat.
Perlu ketelitian juga dalam melihat situasi psikologi pendidikan yang ada di negara kita. Karena tiap wilayah yang berbeda di Indonesia juga berbeda akalnya. Sebelum mengubah sistem pendidikan kita perlu melakukan pendekatan psikologi pendidikan. Dan juga sangat perlu penegasan revolusi mental terhadap tenaga pendidik dan yang dididik supaya tujuan pendidikan tersebut dapat tercapai secara maksimal.
Sumber Ilustrasi: wowkeren.com
Editor: Dartim I.R.