Kamis, Oktober 8, 2026
Kalimahsawa.ID
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
Kalimahsawa.ID
No Result
View All Result

Gandhi, Damai Tidak Dicapai Melalui Kekerasan

Arif Saifudin Yudistira by Arif Saifudin Yudistira
Juni 7, 2020
in Narasi
0
Berbicara tentang penentangan kekerasan, maka yang terlintas dalam pikiran kita adalah sosok yang pejuang dari India. Ya benar ia bernama Mahatma Gandhi.

Berbicara tentang penentangan kekerasan, maka yang terlintas dalam pikiran kita adalah sosok yang pejuang dari India. Ya benar ia bernama Mahatma Gandhi.

19
SHARES
110
VIEWS

Saat kekerasan melanda dunia, kita jadi ingat satu nama Gandhi Masa kecilnya tumbuh dengan didikan ibunya yang penuh kasih dan damai. Karamchand ayahnya adalah seorang yang memiliki jabatan penting di kotanya kala itu. Keluarga itu sudah memiliki tradisi yang kuat menjelang anak lahir.

Karamchand pun berpuasa sebelum Gandhi lahir. Adegan penting di kala kecil adalah tatkala Gandhi bercakap bersama ibunya di tengah rintik hujan di luar. Gandhi kecil kala itu bertanya, “Ibu, mengapa Ibu tak makan-makan? Sakitkah Ibu?”.

TulisanTerkait

Refleksi Tahanan Politik Aksi 2025: Menulis untuk Rekan Juang yang Terpenjara

Ketika Prestasi Menjadi Ukuran: Membangun Organisasi Berbasis Meritokrasi

Wacana Digitalisasi Ikatan: Mengapa Satu Data IMM penting?

Ibu memandang hujan dan anaknya berganti-gantian. Ia pun menjawab pertanyaan anaknya itu. “Nak, Ibu sedih melihat hujan yang tidak henti-hentinya. Banyak orang kehilangan tempat berteduh dan penghasilan mereka. Mereka akan kedinginan dan kelaparan.

Untuk berapa lama lagi mereka bisa bertahan demikian? Ibumu tidak berdaya untuk membantu meringankan beban mereka. Ibu hanya berpuasa dan berdoa agar mereka diberi kekuatan dalam penderitaan mereka, dan agar penderitaan ini dapat berakhir secepat mungkin”. (Murni, Tri, 1976: 3).

****

Ajaran berpuasa ini diterima Gandhi di masa kecilnya. Gandhi kecil adalah anak yang penurut pada ibunya. Ia semula adalah anak pemalu, penyendiri. Ia suka sekali membaca dan menekuri bukunya di kamarnya. Badannya kurus, kecil dan lemah. Gandhi pun mengenali dunia luarnya semenjak ditegur ibunya. Ia ingin anaknya melihat indahnya alam ini.

Ia ingin anaknya keluar rumah dan melihat dunia di luar buku-bukunya. Gandhi pun menuruti apa kata ibunya. Ia bermain dengan teman-temannya. Ia sudah menemukan keberanian hidup sejak kecil. Sewaktu bermain dengan teman-temannya, ia diejek temannya karena tak berani makan daging.

Perjalanan Hidup Gandhi

Disiplin tubuh sejak dini telah ditanamkan oleh keluarga Gandhi. Ada adegan menarik saat remaja yang membuat Gandhi tak bisa melupakan didikan ayah dan ibunya. Suatu hari teman-temannya mengajaknya untuk merokok. Ia meminta uang pada ibunya tapi ibunya melarangnya.

Betapa lugunya Gandhi kala itu, ia pun kembali kepada teman-temannya dan mengatakan kalau ibunya melarangnya. Lalu, teman-temannya memintanya mengambil uang kakaknya. Gandhi pun melakukannya. Saat ia merokok bersama  teman-temannya ia pun merasa pusing dan pening kepalanya.

Baca Juga: Siasat KH. Sholeh Darat dalam Propaganda Bela Negara

Ia ingat kata-kata ibunya. Ia ingat dosanya, dan menulis surat kepada ayahnya. Ayahnya tak marah, lalu menyobek surat itu dan berkata kepada Gandhi: “Anakku, mengapa kamu jadi tersesat? Kembalilah ke jalan yang benar Nak, jalan yang selalu ditunjukkan oleh ibumu.” Ia pun menangis dan mencium tangan ayahnya. Inilah peristiwa yang tidak pernah ia lupakan seumur hidupnya. (Murni, Tri, 1976 :10).

Konsep Damai dalam Hidup

Sebelum ke Inggris, keluarganya pun bermusyawarah. Mereka mengumpulkan bekal dan mendukung cita-cita Gandhi untuk belajar ke Inggris. Kakaknya menyarankan Gandhi untuk mengambil hukum. Sebelum belajar ke Inggris, Ibunya memintanya mengucap tiga janji. Tiga janji itu adalah kebersihan, tidak makan daging, dan tidak minum anggur (Ali, A.Z, 1950: 12).

Ketiga janji ini ia tunaikan saat ia belajar di Inggris. Setelah kembali dari Inggris, ia mendapati kabar ibunya telah tiada. Saudara-saudaranya tak ingin Gandhi tahu dan menghambat belajarnya. Setelah mengetahui kabar ibunya, ia seperti kehilangan daya. Untuk itu ia merenung cukup lama, sehingga ia sampai pada kesimpulan ia harus memberi pada kehidupan, ia harus berguna bagi kemanusiaan.

****

Tahun 1893, ia bertolak ke Afrika Selatan untuk menyelesaikan kasus kelompok dagang orang India yang ada di sana. Sewaktu naik kereta api ia membeli tiket kelas pertama. Namun ia diusir ke gerbong kelas tiga. Peristiwa ini mempengaruhi jiwa Gandhi bahwa ia ingin menghapus perbedaan ras, kulit, yang semena-mena ini.

Pada tahun 1915, ia memenuhi panggilan bangsanya kembali ke India. Ia berjumpa kembali dengan anak dan istrinya yang telah lama ia tinggalkan. Di India ia menemukan cara perlawanan anti kekerasan. Ajaran-ajarannya telah menginspirasi banyak orang di dunia bahwa kekerasan tidak selalu perlu dibalas dengan kekerasan.

Tiga Ajaran Damai

Ia mengajarkan kepada India dari rumah ke rumah. Dari pintu ke pintu untuk mengetuk kesadaran semua orang bahwa kekerasan bukanlah jalan untuk mencapai dunia yang lebih damai dan aman.

Ajaran yang pertama adalah Satyagraha, yaitu selalu berpihak dan menegakkan kebenaran. Kedua, Ahimsa dimaknai sebagai cinta, perlawanan pasif tanpa kekerasan.

Ketiga, Swadeshi, mengabdi kepada lingkungannya sendiri, memakai barang produksi sendiri atau non-kooperasi.

Karena dituduh pemerintah melancarkan pemberontakan, akhirnya Gandhi dipenjara enam tahun. Namun, ketika 22 bulan Gandhi dibebaskan karena kesehatannya menurun. Ketika keluar dari penjara januari 1924, Gandhi melihat orang-orang semakin menurun dan melemah semangatnya dalam berjuang.

Baca Juga: Teologi Sosial Ali Syari’ati

Ketika terjadi percekcokan dan persengketaan antara Hindu dan Islam, Gandhi menjalani puasa persaudaraan. Ia berkata: “Persatuan Hindu-Islam adalah mungkin, aku akan mulai merintisnya. Untuk ini aku akan berpuasa sampai mati!” (Tri, 1976: 42).

Di tahun-tahun menjelang kematiannya, 1942, Inggris terancam serangan dari Jepang. Ia ditangkap sebagai biang kerusuhan kecil oleh Raja Muda Lord Linlithgow. Ia pun berpuasa untuk membuktikan dirinya tidak bersalah. 13 januari 1948 Gandhi berpuasa untuk persatuan umat Islam dan Hindu. Setelah umat islam mendirikan Pakistan, Gandhi berpuasa menuntut orang Hindu membayar kerugian kepada Pakistan. Akhirnya, Gandhi pun memenangkan kembali puasanya. Setelah selesai puasanya, ia berpidato di depan ribuan umat Islam dan hindu.

Akhir Hayat Gandhi

Ia dibunuh oleh pengikutnya sendiri yang fanatik karena mengira Gandi berpihak pada Islam. 30 Januari 1948, Gandhi menghembuskan nafas terakhirnya. Tagore menyebut Gandhi sebagai manusia hindu yang sempurna. Gandhi telah mewariskan kebajikan, kebenaran dan cinta kasih serta damai. Eknath Easwaran (2013)  dalam bukunya Gandhi The Man menuliskan tentang Gandhi.

Gandhi istimewa karena berani mengubah dirinya dan juga menginspirasi semua orang untuk mengubah dunia. Cara gandhi justru berjuang yang mengarah pada diri.

Puasa, adalah cara Gandhi untuk berjuang melawan keangkuhan, kesombongan, dan melawan tirani yang ada dalam diri kita”.

Editor: Arief M

Terkait

Tags: BiografiDamaiGandhi
Previous Post

Pesantren Salafi Melawan Radikalisme

Next Post

Siasat KH. Sholeh Darat dalam Propaganda Bela Negara

Arif Saifudin Yudistira

Arif Saifudin Yudistira

Kepala Sekolah Smk CITRA MEDIKA (2018-2019), Tuan Rumah Pondok Filsafat Solo, Penulis Buku Mendidik Anak-Anak Berbahaya (2020), pegiat Sarekat Taman Pustaka Muhammadiyah.

Next Post
Siasat KH. Sholeh Darat dalam Propaganda Bela Negara

Siasat KH. Sholeh Darat dalam Propaganda Bela Negara

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Tentang Kalimahsawa.id
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan
Contact Person: 085850332866

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.

No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.