Rabu, Oktober 7, 2026
Kalimahsawa.ID
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
Kalimahsawa.ID
No Result
View All Result

Mahatma Gandhi: Pejuang Kemerdekaan Tanpa Melukai

Dariyana by Dariyana
April 15, 2020
in Report
0
Berbicara tentang penentangan kekerasan, maka yang terlintas dalam pikiran kita adalah sosok yang pejuang dari India. Ya benar ia bernama Mahatma Gandhi.

Berbicara tentang penentangan kekerasan, maka yang terlintas dalam pikiran kita adalah sosok yang pejuang dari India. Ya benar ia bernama Mahatma Gandhi.

53
SHARES
314
VIEWS

Berbicara tentang penentangan kekerasan (nir-kekerasan), maka yang terlintas dalam pikiran kita adalah sosok yang pejuang yang berasal dari India. Ya benar ia bernama Mahatma Gandhi. Tulisan ini hanya akan sedikit berbicara tentang Mahatma Gandhi. Sebagai sebuah refleksi penting untuk membawa kembali semangat perdamaian tanpa kekerasan.

Mohandas Karamchand Gandhi  atau biasa kita sapa Mahatma Gandhi lahir pada tanggal 2 Oktober 1869 di Porbandar, India. Dia adalah anak keempat dan merupakan anak terakhir dari ayahnya yang bernama Karamchand dan ibunya yang bernama Pulitbai. Dia dilahirkan dalam kasta waisya (kasta ketiga dari empat kasta dalam masyarakat hindu).

TulisanTerkait

Proyek Kepemimpinan, Mahasiswa PPG Pendidikan Pancasila A2 FKIP UMS Gelar PELITA di Panti Jompo Aisyiyah Surakarta

Seminar Nasional GANTARI 2026: Regenerasi Pemuda Jadi Kunci Keberlanjutan dan Swasembada Pangan Indonesia

IQT Fair XII 2026 Capai Puncak, Seminar Nasional dan Kajian Akbar Jadi Sorotan

Dulu, masyarakat agama Hindu membagi kelompok masyarakat menjadi 4 kasta yakni Brahmana, Ksatria, Waisya, Sudra. Menurut laporan BCC menyebutkan bahwa sistem kasta India adalah salah satu bentuk stratafikasi sosial tertua yang bertahan di dunia.

Kasta: Stratafikasi Sosial Tertua

Baik saya akan menjelaskan sedikit mengenai kasta-kasta tersebut. Pertama, kasta Brahmana. Kasta ini adalah kasta yang memiliki tingkatan tertinggi dalam ajaran agama Hindu. Biasanya orang dalam kasta ini mengabdikan dirinya dalam urusan bidang spiritual seperti sulinggih, pandita dan rohaniwan. Kedua, kasta Ksatria. Dalam kasta ini biasanya berisi kepala atau anggota lembaga pemerintahan (penguasa).

Ketiga, kasta Waisya. Dalam kasta inilah keluarga Gandhi berasal. Kasta ini berisi orang-orang yang berkerja sebagai pedagang, nelayan dan lainya. Dan yang terakhir adalah kasta Sudra. Kasta ini biasanya melakukan pekerjaan pekerjaan yang kasar.

Baca Juga: Kiai Yahya Cholil Staquf: Terorisme Itu Banyak Dalilnya

Namun dalam menelaah buku yang penulis baca, ada satu lagi golongan di kota India. Ia adalah Kaum Dalit atau kaum Untouchables. Kaum Dalit adalah kaum yang paling miskin dan tertindas. Menurut cerita, keluarga yang terlahir dari kaum ini sangat sulit mendapat pekerjaan. Maka kaum ini terletak dibawah kasta Sudra dan kaum ini jarang disentuh oleh pemerintahan.

Aksi Damai Gerakan Kemerdekaan

Baik kita kembali pada pembahasan mengenai tokoh yang dikenal sebagai bapak anti kekerasan ini. Gandhi adalah salah seorang yang paling penting yang terlibat dalam Gerakan Kemerdekaan India. Ia adalah aktivis yang tidak menggunakan kekerasan, mengusung gerakan kemerdekaan melalui aksi demonstrasi damai.

Di masa remajanya, Gandhi dinikahkan dengan perempuan yang bernama Kasturbai ketika berusia 13 tahun. Waktu itu pernikahan dini tidak tampak aneh di Negara India. Pada Usia 18 tahun, Gandhi menempuh pendidikan sekolahnya. Ketika berusia 19 tahun, Gandhi melanjutkan pendidikan ilmu Hukum di Inggris.

Tepat bulan juni 1891,Gandhi melewati ujian akhirnya di Inner Temple Inn of Court di London, Inggris. Selanjutkan  di usia 22 tahun, dia menyelesaikan studinya untuk bekerja sebagai seorang pengacara. Setelah dua tahun bekerja di India, Gandhi memutuskan untuk berlayar ke Afrika. Dan di sanalah kepekaan dan kejernihan pemikiran Gandhi dimulai.

Kejernihan Pikir Mahatma Gandhi

Ketika sampai di negara Afrika, beliau menerima perlakuan yang berbeda dan tidak manusiawi yakni diskriminasi ras yang dinamakan apartheid. Diskriminasi warga India sangat kental  dan sangat melekat di Negara tersebut.

Komunitas India yang berjumlah ratusan ribu orang atau lebih di Afrika selatan di pandang rendah. Di sanalah pemikiran Gandhi muncul dan memutuskan untuk menjadi seorang aktivis politik agar dapat mengubah hukum-hukum yang diskriminatif.

Gandhipun membentuk sebuah gerakan non-kekerasan yang mengusung aksi damai. Berkat ketetapan hati Gandhi yang diperkuat dengan pengalaman ketidakadilan rasialnya sendiri pada saat awal di Afrika selatan menjadikannya seorang pemimpin komunitas India.

Pada tahun 1914, Gandhi mendapatkan gelar Mahatma yang artinya Jiwa Agung. Selain itu, di negaranya yakni India, ia juga dipanggil “Bapu” yang berarti ayah atau papa.

Kelahiran Satyagraha

Pada bulan Juli 1906, melihat penderitaan di Zulu, Gandhi bersumpah akan dua hal yaitu “Non-Kepemilikan” dan “Mengabdikan hidupnya untuk melayani orang banyak”. Bulan Agustus, ia membaca bahwa pemerintahan Tranvaal (Afrika Selatan) sedang membuat hukum baru yang dikenal dengan Black Act.

Black Act atau Undang-Undang Kulit Hitam yang digulirkan oleh pemerintah ditujukan untuk seluruh orang India baik laki-laki maupun perempuan Untuk disidik jari mereka. Orang India yang tidak memiliki surat keterangan akan dipenjara, dihukum atau dideportasi dari Negara tersebut.

Pada saat inilah, Gandhi melempar gagasan pertamanya yaitu Satyagraha. Satyagraha diambil dari bahasa Sansekerta yakni satya yang berarti “Kebenaran, Kenyataan dan agraha yang berarti “Memegang Teguh”. Gandhi sering mengatakan bahwa nilai-nilai prinsip itu merupakan ajaran yang sangat sederhana.

Baca Juga: Menggugat Kartini: Bukan Hanya Soal Emansipasi

Menurut kepercayaan Hindu tradisional: kebenaran (satya), dan non-kekerasan (ahimsa). Satyagraha merupakan usaha mempertahankan kebenaran bukan dengan hukuman yang menderitakan lawan namun hukuman terhadap diri sendiri. Konsep Gandhi ini, menginspirasi berbagai generasi aktivis-aktivis demokrasi dan antirasisme seperti Martin Luther King dan Nelson Mandela.

Berkat kampanye satyagrahanya, Gandhi telah berhasil melawan penindasan terhadap komunitas india di Afrika Selatan. Dan sejak saat itu Gandhi mulai dikenal dan sangat dihormati di seluruh Afrika Selatan dan India.

Pengembaraan Spiritual Mahatma Gandhi

Dalam perjalanan spritualnya, Gandhi melakukan beberapa prinsip dalam mengembangkan spiritualnya di ataranya adalah Samakhva, Aparigraha, Ahimsa. Pengembaraan spiritualnya diawali dengan mempelajari ajaran-ajaran Bhagawad Gita. Kitab tersebut menjelaskan prinsip-prinsip hidup yang terkandung dalam ajaran tertua dalam Agama Hindu.

Prinsip-prinsip tersebut ia implikasikan dalam Samakhava. Samakhva memiliki arti bahwa seseorang tidak boleh merasa terganggu karena perasaan sakit atau senang. Mereka harus berusaha meraih hak tanpa khawatir gagal atau berharap sukses. Gandhi selalu menghindari penekanan usaha menghalalkan segala cara. Selain itu, Gandhi juga mengikuti ajaran Aparigraha, yang artinya berarti sikap tak memiliki terhadap kebendaan.

Kekayaan spiritual dapat diraih dengan menjadi miskin dan bersih tanpa memiliki harta yang melimpah. Kemudian prinsip yang ketiga yang Gandhi terapkan adalah Ahimsa. Arti Ahimsa adalah tindakan tanpa kekerasan terhadap segala kehidupan dengan cara membunuh atau lainya.

Selalu Memihak Yang Lemah

Konsep hidup Gandhi selalu menolak segala bentuk sifat kemunafikan dan palsu. Ia menanamkan kasih sayang dan tenggang rasa kepada orang lain, sehingga Gandhi selalu dihargai oleh lawan-lawan yang menentangnya.

Tepat di tahun 1915, Gandhi memutuskan untuk kembali ke negara India dan mendirikan sebuah Ashram (komunitas religious). Sejak saat itu Gandhi mengabdikan hidupnya untuk India. Untuk kemerdekaan India dan untuk kesatuan india.

Keberhasilan Gandhi dalam banyak hal adalah menyiapkan rakyatnya menuju kemerdekaan dengan prinsip yang ia ajarkan. Gandhi berpihak pada rakyat miskin dan tertindas. Dia adalah sosok yang sederhana tetapi memiliki kharisma yang besar dalam proses pengawalan kemerdekaan.

Hilangnya Cahaya Pelipur Lara

Pada 30 Januari 1948, saat Gandhi melakukan doa bersama, ia dibunuh seorang lelaki Hindu yang marah kepadanya karena menduga Gandhi terlalu banyak menaruh simpati dan memihak kepada Muslim. Pada malam terbunuhnya Gandhi, Perdana Menteri Jawaharlal Nehru berbicara kepada seluruh negeri melalui Ali India Radio.

Baca Juga: Risalah Cahaya Badiuzzaman Said Nursi: Kebebasan dan Spiritualitas

Nehru berkata “Sang cahaya telah meninggalkan hidup kita dan kegelapan akan dimana-mana. Cahaya telah hilang, saya bilang dan saya salah.Cahaya yang bersinar di negeri ini bukanlah cahaya yang biasa. Cahaya yang menerangi negeri ini pada tahun-tahun akan tetap menerangi negeri ini pada tahun-tahun berikutnya dan ribuan tahun berikutnya. Cahaya itu akan terlihat di negeri ini dan dunia akan melihatnya, dan akan melipur lara hati yang tak terbilang banyaknya”.

Inilah kisah akhir seorang yang terkenal dengan kesederhanaanya dan sikap tenggang rasanya terhadap sesama makhluk ciptaan Tuhan yang saya kira perlu kita hadirkan kembali di masa sekarang.

Terkait

Tags: Anti kekerasanMahatma GandhiPerjuangan
Previous Post

Yahya Cholil: Masih Relevankah NU?

Next Post

Tahun 2020 Menjadi Nuqthatul Intilaq (Titik Tolak) Globalisasi NU

Dariyana

Dariyana

Next Post
Nahdlatul Ulama (NU) tahun 2020 menjadi nuqthatul intilaq globalisasi NU

Tahun 2020 Menjadi Nuqthatul Intilaq (Titik Tolak) Globalisasi NU

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Tentang Kalimahsawa.id
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan
Contact Person: 085850332866

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.

No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.