Dalam sebuah sistem pemerintahan yang telah mengalami degradasi moral, kehadiran pemikir yang brilian sangat diharapkan. Ali Syari’ati telah hadir pada saat yang tepat untuk mengkritisi kebobrokan pemerintahan Syah Reza. Ali Syari’ati menjalankan perannya sebagai seorang intelektual yang melahirkan gagasan kritik dari perspektif filsafat.
Biografi Ali Sya’riati
Ali Syari’ati, nama kecilnya Muhammad Ali Mazinani yang lahir pada 23 Nopember 1933 M di desa Mazinan, pinggiran kota Masyhad dan Sabzavar, propinsi Khorasan Iran. Ali kecil, yang mendapatkan pendidikan pertama dari sang ayah, Muhammad Taqi Syari’ati. Dikemudian hari darah sang ayah mengalir dalam dirinya yang menjadikan ia seorang cendekiawan sekaligus aktivis politik.
Pada awal 1940an, ayah Ali Mazinani mendirikan usaha penerbitan bernama “Pusat Penyebaran Kebenaran Islam” (The Center for Propagation of Islamic Truth). Lembaga ini bertujuan untuk mengkampanyekan Islam sebagai agama yang sarat dengan kewajiban dan komitmen sosial.
Tahun 1950-1951 M, Ali Mazinani bersama ayahnya bergabung dalam Gerakan Penyembah Tuhan Sosialis dan mengikuti gerakan nasionalisme yang dipimpin oleh Perdana Menteri Muhammad Mushadiq.
Gerakan ini mencapai puncaknya dengan menjadi Liga Kemerdekaan Rakyat Iran tahun 1953 M. Gerakan ini bertujuan melancarkan kudeta melawan Rezim Syah Reza Pahlevi pada tahun 1953 M. Akan tetapi, gerakan ini gagal dan sebagai konsekuensinya Ali bersama ayahnya dipenjara di rumah tahanan Qazil Qala’ah, Teheran selama delapan bulan.
Baca Juga:Abdul Fattah Santoso: Konsep Jiwa Ibnu Sina Menghadapi Pandemi
Setelah keluar dari penjara pada 1956 M, Ali Mazinani melanjutkan studi di Fakultas Sastra Universitas Masyhad. Kemudian pada tahun 1960 M, ia mendapat beasiswa dari pemerintah Iran dan melanjutkan pendidikan di Universitas Sorbonne, Perancis. Di Sorbonne inilah, ia menimba banyak ilmu kepada para intelektual terkemuka seperti Louis Massiggnon (Islamolog Prancis beragama Katolik), Jean-Paul sartre, “Che” Guevara, Jacques Berque, Henri Bergson dan Albert Camus.
Pada tahun 1965 M, Ali Kembali ke Iran setelah menamatkan pendidikannya. Akan tetapi, ia ditangkap di Bazarqan (perbatasan Iran-Turki) dan dipenjara satu setengah bulan. Ia dituduh berpartisipasi dalam aktifitas politik ketika sedang belajar di Perancis. Tahun 1967-1973 M adalah tahun paling aktif dalam hidup Ali pasca pembebasan dari hukuman penjara yang kedua. Kemudian ia mengajar di Masyhad, Hussainiyah Irshad di Teheran, serta beberapa universitas dan lembaga pendidikan Islam lainnya.
Gerakan Propaganda
Dalam waktu singkat, ia menjadi populer dengan aktifitasnya yang selalu mempropagandakan perlawanan terhadap Syah Pahlevi. Akhirnya setelah ayah Ali ditangkap, pada September 1973, Ali Mazinani menyerahkan diri pada polisi rahasia Shavak dan ia diganjar hukuman delapan belas bulan penjara.
Karena desakan masyarakat Iran dan juga protes dari dunia internasional, pada 20 Maret 1975 Ali Mazinani terpaksa dibebaskan. Namun, ia kemudian diawasi dengan ketat, dilarang menerbitkan buku, dan dilarang berhubungan dengan murid-muridnya.
Tanggal 16 Mei 1977 M Muhammad Ali Mazinani mengganti namanya menjadi Ali Syari’ati dan meninggalkan Iran. Pergantian nama ini dimaksudkan agar ia tidak terdeteksi pihak bandara dan polisi Iran (SAVAK). Lama tidak terlihat, pada 8 Juni 1977 M SAVAK mengeluarkan edaran bahwa Ali Mazinani telah meninggalkan Iran secara illegal dengan mengganti nama menjadi Ali Syari’ati.
****
Pada 19 Juni 1977 M, Syari’ati ditemukan tewas di Southampton, Inggris. Pemerintah Iran menyatakan Syari’ati tewas akibat penyakit jantung, tetapi banyak yang percaya ia dibunuh oleh Polisi rahasia Iran (Rahmena, 2002: 135).
Ali Syari’ati memang tidak sempat menyaksikan kejatuhan Shah Reza. Namun, pemikirannya tetap diakui sebagai salah satu inspirator revolusi tersebut. Sebagaimana diungkap John L. Esposito, bahwa posisi Khomeini dalam Revolusi Islam Iran lebih berperan sebagai pemimpin revolusi. Sedangkan perumus dan penyedia ideologi revolusinya sendiri adalah Ali Syari’ati (Esposito, 1987: 24).
Secara sederhana, ada dua kubu yang menjadi pilar Revolusi Islam Iran, yaitu: religius tradisional Syi’ah (diusung oleh para ulama atau mullah) dan semi-religius yang tetap berbasis Syi’ah (tetapi dibawa oleh para intelektual berlatar pendidikan sekuler). Yang pertama diwakili Ayatullah Ruhullah Musawi Khomeini dan Ayatullah Murtadha Muthahhari. Yang kedua diwakili Ali Syari’ati, Mehdi Bazargan, dan Bani Sadr.
Teologi Sosial
Dalam mazhab pemikiran Syari’ati, soiologi berjalan selaras dengan kecenderungan, ideal-ideal dan pandangan-pandangan khusus mazhab tersebut. Mazhab soiologi yang dibangun Ali yari’ati adalah pemikiran yang dipayungi nilai “ketuhanan” untuk melakukan pembebasan terhadap kemanusiaan. Berdasarkan hal ini, maka kajian soiologi harus bisa melakukan penilaian, mengkritik dan mengevaluasi pandangan-pandangan sudah ada yang tidak bisa berkontribusi positif lagi kepada manusia.
Bangunan sosiologi yang diinginkan Ali Syari’ati adalah sebuah pemikiran yang mampu melihat problem realitas manusia, kemudian memberikan solusinya secara Islami.
Kemampuan memberikan solusi yang demikian menunjukkan kemampuan kita sebagai ilmuwan di mana bisa menyajikan ilmu sosial yang bisa berkontribusi bagi kebutuhan manusia.
Kemudian kemampuan kita menawarkan sosiologi yang berprespektif Islam demikian menunjukkan keberhasilan kita sebagai Muslim. Yang menyajikan kontribusi agama bagi kegiatan keilmuan dan sekaligus kebutuhan kemanusiaan.
Menurut Ali Syari’ati, “seni demi seni” mengagungkan seni dan “ilmu demi ilmu” menuja-muja ilmu, begitupula, “agama demi agama” juga memuji-memuji agama, yang implikasinya justru menjadi sarana untuk merusak kebenaran dan tujuan-tujuan agama yang hakiki. Ditambah lagi bahwa sebagai akibat dari pemujaan agama secara demagogis dan di balik kesemarakan keagungan yang palsu.
****
kebenaran dan ruh agama pun mati, seperti matinya esensi seni dan ilmu. Itulah sebabnya, dalam anjuran Syari’ati, bahwa manusia harus menyadari bahwa keberagamaannya tidak akan membuahkan apa-apa di mata Tuhan kalau hanya sekedar untuk memuji Tuhan.
Dalam bahasa tegasnya, Tuhan tidak butuh pujian secara terus menerus dari sang mahluq karena Tuhan sudah memiliki segala-galanya. Tuhan justru lebih menghargai dan memberi pahala berlipat atas kecerdasan ibadah hambanya untuk hal-hal sosial yang konstruktif. Pelajaran berharga ini merupakan kritik atas sifat manusia yang sekedar memperhatikan ritus-ritus dan upacara keagamaan. Tapi melupakan peran ajaran agama yang sesungguhnya berguna untuk memanusiakan manusia, menyantuni mereka yang kekurangan, melindungi pihak yang lemah dan memberontak kepada penguasa yang lalim.
Dalam kekagumannya, Ali syari’ati semakin menguatkan bahwa orang beragama tidak untuk agamanya itu sendiri. Begitupula dengan teologi, ia tidak berhenti untuk memuji tuhan saja. Melainkan agama merupakan sarana untuk memanusiakan manusia. Ungkapan-ungkapan mutakhir yang menunjukkan konsep-konsesp Islam paling fundamental dan bahkan ungkapan-ungkapan yang mengacu kepada agama itu sendiri semuanya bermakna berjalan.
Sebuah Petualangan
Jalan adalah sarana yang mesti dilalui seseorang guna mencapai suatu tujuan tertentu. Tujuannya bukanlah berdiri sendirian di jalan itu dan kemudian mulai mengucapkan pujian palsu dan tak karuan. Ini seperti menggunakan jalan bukan sebagai sarana untuk mencapai tujuannya, melainkan menerangi dan menghiasinya demi kepentingan jalan itu sendiri. Inilah makna “jalan demi jalan”, yakni pergi tak tentu arah dan berjalan percuma dan sia-sia tanpa bermaksud mencapai suatu tempat (Syari’ati, 1995: 189).
Dengan konsep inilah dia menegaskan bahwa cita-citanya untuk memakmurkan kehidupan rakyat bukannya menggunakan kapitalisme maupun komunisme. Ia menghendaki kebebasan individu sebagaimana karakater dasar kapitalisme. Tapi setiap individu harus melakukan shodaqoh, zakat atau kegiatan sosial lain untuk meratakan kesejahteraan bagi rakyat kecil.
Baca Juga: Azyumardi Azra: Muslim yang Lebih Dungu dari Keledai
Begitupula ia menghendaki negara harus mengontrol semua individu sebagaimana karakter dasar komunis, tapi negara tidak mengambil hak milik pribadi. Dalam Islam, hak milik pribadi tetap diberikan.
Ajaran Islam yang sesungguhnya meniupkan kemuliaan kepada manusia di alam ini bahkan menciptakan manusia sebagai pemegang amanat khusus untuk mengelola alam ini. Tuhan tidak menciptakan manusia sebagai makhluk yang tidak berdaya apa-apa sebagaimana diyakini dari mitos Yunani. Hal ini dibuktikan dengan pemberian Allah berupa hak istimewa untuk menjadi khalifah di muka bumi ini.