Kalimahsawa.id – Abdul Fattah Santoso, Kepala Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial Universitas Muhammadiyah Surakarta (PSBPS UMS) menyebut pengetahuan terdalam manusia adalah pengetahuan tentang hakikat manusia itu sendiri. Jadi pengetahuan fisik dan anatomi itu adalah pengetahuan luaran. Sedangkan hakikat manusia ada pada jiwanya.
“Jiwa manusia adalah sebab hidup, penggerak, dan pengendali tubuh manusia. Di dalam agama ada ungkapan innama al-a’malu bi an-niyyat (sesungguhnya amal itu tergantung niatnya). Niat itu ada didalam jiwa, sedangkan amal itu ada di tubuh”, jelasnya.
Hal ini ia sampaikan dalam kegiatan Meeting ID, sebuah diskusi rutinan yang diadakan oleh Kalimahsawa, pada Jumat (5/6). Kegiatan ini mengambil tema “Aktualisasi Konsep Filosofis Jiwa Manusia menurut Ibnu Sina dalam Situasi Pandemi”.
Tiga Klasifikasi Jiwa Manusia
Ia mengtip Ibnu Sina yang mengklasifikasikan jiwa manusia menjadi tiga kelompok yang bersifat hirarkis. Jiwa paling bawah adalah jiwa tumbuhan, kemudian jiwa hewan, dan paling atas adalah jiwa manusia. Setiap jiwa memiliki daya. Jiwa memiliki daya sendiri dan daya jiwa yang ada dibawahnya. Misalnya, jiwa tumbuhan memiliki tiga daya, yaitu daya reproduksi, daya tumbuh, dan daya makan.
baca juga: Abdul Mu’ti: Mengenang Konsistensi dan Keberanian Buya Syafii
Jiwa hewan memiliki daya gerak dan daya persepsi. Sekaligus ia memiliki daya reproduksi, daya tumbuh, dan daya makan. Adapun jiwa manusia memiliki daya akal teoritis dan daya akal praktis, beserta seluruh daya pada jiwa hewan dan tumbuhan. Akal teoritis digunakan untuk mengembangkan ilmu pengetahuan, akal praktis digunakan untuk mengembangkan moral.
Menurut Staff Ahli Rektor UMS ini, mengutip pendapat Ibnu Sina, manusia bisa menerima wahyu karena akalnya sudah mencapai akal mustafad. Sehingga dia bisa berkomunikasi dengan malaikat Jibril.
“Jiwa bersifat immaterial, sementara tubuh bersifat material. Tubuh manusia tidak akan hidup tanpa jiwa. Jiwa bersifat ada bersama adanya tubuh, namun tidak punah saat manusia mati. Kematian berarti matinya raga, bukan matinya jiwa. Bila jiwa seseorang sempurna secara pengetahuan, hikmah, dan perbuatan baik, ia akan ditarik menuju cahaya ketuhanan”, ujarnya.
Menurutnya, ketika bangun tidur, ia langsung mengingat akan makan apa, maka orang tersebut memiliki tubuh manusia namun memiliki jiwa tumbuhan. Bentuk sikap dan tindakan manusia dalam situasi pandemi bergantung pada jiwa mana yang dominan.
Konsep Jiwa Ibnu Sina Merespon Pandemi
Ia juga menyebut ketika manusia diminta tetap tinggal dirumah namun justru keluar rumah karena masalah ekonomi, maka kebutuhan jiwa tumbuhan yang belum terpenuhi menjadi dominan. Selain itu, kerakusan pengusaha akan rente ekonomi yang tidak memiliki empati juga menjadikan jiwanya didominasi oleh jiwa hewan. Ia memiliki tubuh manusia namun jiwanya hewan.
Ia mengatakan ketika manusia tetap berkerumun, tidak menjaga jarak, tetap mudik, tetap beribadah di rumah ibadah, tidak menggunakan masker, dan dilakukan hanya karena emosi sesaat atau karena keras kepala, maka jiwanya tidak dipandu oleh jiwa rasional yang tercerahkan oleh hasil perkembangan ilmu dan hikmah transendental.
Mereka ini menurut Abdul Fattah Santoso tidak mau menggali hikmah ilahiyah yang ada dalam pandemi. Penyegeraan the new normal ketika PSBB masih setengah-setengah juga menjadi contoh kemiskinan jiwa rasional atau karena dominasi jiwa hewan.
Jiwa Rasional sebagai Solusi
Menurutnya, manusia harus menjadikan jiwa rasional dominan atas jiwa hewan dan jiwa tumbuhan agar bisa menghadapi situasi pandemi dengan baik. Salah satu indikator berpikir rasional adalah berbasis IPTEK (buah aktualisasi akal teoritis), hikmah (bauh aktualisasi akal teoritis bila sampai tataran akal mustafad), dan moral (buah aktualisasi akal praktis).
“Solusi yang ditawarkan harus berbasis perkembangan mutakhir ilmu-ilmu kesehatan dan maqasid asy-syariah seperti perlindungan jiwa tanpa tenggelam dalam emosi agama. Emosi keagamaan ini dapat kita lihat misalnya orang-orang yang nekat berjamaah di masjid meskipun membahayakan jiwa mereka dan orang lain. Emosi kolektivitas dapat kita temukan jika ada orang-orang yang nekat untuk pulang kampung. Seolah-olah tidak bahagia jika tidak berkumpul dengan orang lain”, jelasnya.
baca juga: Bergerak Bersama Hadapi Corona
Kepatuhan kepada protokol kesehatan, menurutnya, disinari oleh jiwa rasional untuk memandu gerak manusia. Jiwa rasional juga akan mengubah egoisme menjadi kepedulian dan solidaritas. Orang yang tidak mau menggunakan masker dan hand sanitizer adalah orang yang egois. Individualisme juga harus diubah menjadi kolektivisme. Sedangkan daya persepsi seperti imajinasi, refleksi, dan estimasi meghasilkan pola-pola hidup alternatif untuk memasuki the new normal.
reporter: Yusuf R Y