Rabu, Oktober 7, 2026
Kalimahsawa.ID
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
Kalimahsawa.ID
No Result
View All Result

Rais Syuriyah PBNU: Hijrah dari Indonesia ke Syam itu Terbalik

Yusuf R Yanuri by Yusuf R Yanuri
Mei 26, 2020
in Report
0
Rais Syuriyah PBNU: Hijrah dari Indonesia ke Syam itu Terbalik
32
SHARES
188
VIEWS

Pada hari Jumat (22/5), 164 Channel kembali menggelar Talkshow Virtual. Setelah sebelumnya mereka mengundang Haris Amir Falah, seorang mantan ekstrimis yang sudah mengakui kesalahan dan menjadi muslim yang baik, sekarang mereka mengundang Rais Syuriyah PBNU, Kiai Afifuddin Muhajir. Talkshow Virtual kali ini membahas tentang Hijrah & Al-Wala’ wa al-Barra’, suatu terminologi dalam Islam yang sangat familiar di kalangan jihadis.

Makna Hijrah

Menurut Kiai Afifuddin Muhajir, hijrah adalah pindah dari suatu tempat ke tempat lain. Di awal Islam, orang Makkah diwajibkan berpindah dari Makkah ke Madinah, dan itu memerlukan pengorbanan yang luar biasa besar. Tanah air yang mereka cintai harus ditinggalkan, rumah yang mereka bangun harus ditinggalkan, harta benda, bahkan keluarga yang tidak masuk Islam juga harus ditinggalkan. Hijrah diharuskan untuk mempertahankan aqidah yang mereka anut agar mereka leluasa untuk melaksanakan ibadah. Ada beberapa orang di Makkah yang sudah menyatakan masuk Islam namun tidak mau hijrah, akhirnya ditekan oleh orang-orang kafir Quraisy dan kesulitan untuk mempertahankan keislamannya.

TulisanTerkait

Proyek Kepemimpinan, Mahasiswa PPG Pendidikan Pancasila A2 FKIP UMS Gelar PELITA di Panti Jompo Aisyiyah Surakarta

Seminar Nasional GANTARI 2026: Regenerasi Pemuda Jadi Kunci Keberlanjutan dan Swasembada Pangan Indonesia

IQT Fair XII 2026 Capai Puncak, Seminar Nasional dan Kajian Akbar Jadi Sorotan

Afifuddin mengatakan bahwa mereka yang tidak berpindah ke Madinah ditegur oleh Allah  dalam Surat An-Nisa ayat 97 yang berbunyi “…alam takun ardhullahi wasi’atan fatuhajiru fiihaa…” (bukankah bumi Allah itu luas sehingga kamu dapat berhijrah?) Akan tetapi setelah Makkah dapat ditaklukkan dan berada dibawah kekuasaan Islam, kewajiban hijrah sudah tidak ada lagi. Nabi SAW bersabda: “la hijrota ba’da al fathi, lakin jihadun wa niyatun” (tidak ada hijrah setelah fathul Makkah, tetapi jihad dan niat yang baik).

“Akan tetapi substansi daripada hijrah tetap ada. Substansinya adalah kewajiban bagi umat Islam untuk pindah dari tempat yang tidak kondusif, pindah ke tempat lain yang kondusif. Nabi berkata “hijrah itu tidak akan terhenti, kecuali sampai taubat terhenti”, yaitu hari kiamat”, tambah Afifuddin. 

Dalam konteks hijrahnya beberapa masyarakat Indonesia ke Syam untuk bergabung ke ISIS atau yang lainnya, Afifuddin mengatakan bahwa itu justru terbalik. Mereka justru hijrah dari tempat yang aman di Indonesia ke Syam yang tidak aman. Padahal hijrahnya Nabi itu dari Makkah ke Madinah, bukan Madinah ke Makkah.

Pria kelahiran Sampang, Madura ini mengatakan bahwa ada hijrah hissiyah dan hijrah ma’nawiyah. Hissiyah yaitu hijrah secara fisik material. Adapun ma’nawiyah, yaitu  yang bersifat moral spiritual. Yang kedua ini harus dilakukan oleh semua umat Islam. Sebagaimana yang disabdakan oleh Nabi, “Al-muhajiru man hajara ma naha Allahu ‘anhu” (Orang yang hijrah adalah orang yang menjauhkan diri dari apa yang dilarang oleh Allah). Ini namanya hijrah ma’nawiyah. Hijrah min al-kufri ila al-iman (dari kekufuran menuju keimanan), min al-ma’siyati ila ath-to’ah (dari maksiat menuju taat), dari jahat menjadi baik. 

Makna Al-Wala’ wa Al-Barra’

Menurutnya, al-wala’ wa al-barra‘ adalah dua kata yang antonim. Al-wala’ artinya loyalitas atau setia. Afifuddin mengutip firman Allah yang berbunyi: Innama waliyyukumullahu wa rasuluhu walladzina amanu alladzina yuqimuna as solata wa yu’tuna az-zakata wa hum raki’un (Sesungguhnya penolongmu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang melaksanakan shalat dan menunaikan zakat, seraya tunduk (kepada Allah)). Jadi orang Islam harus loyal & setia terhadap Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang mukmin yang lain dengan ciri-ciri mendirikan salat dan membayar zakat.

“Al-barra‘ maknanya kebencian. Benci kepada seseorang berarti tidak mau dekat. Siapa yang harus kita benci? Tidak lain kecuali mereka yang membangkang kepada Allah, Rasulullah, dan bengis kepada orang-orang mukmin yang baik. Allah berfirman: “la tajidu qouman yu’minuna billahi wa al-yaumi al-akhiri yuwadduna man hadda Allaha wa rasulahu” (Engkau (Muhammad) tidak akan mendapatkan suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya)”, ujarnya.

Tawaddud & Ta’ayis

Afifuddin menambahkan bahwa loyalitas kepada Allah tidak bisa bergabung dengan kecintaan seseorang dengan musuh-musuh Allah. Ketika seseorang mencintai Allah, maka tidak mungkin dalam waktu yang bersamaan ia mencintai musuh Allah. Ini yang dimaksud dengan al-wala’ wa al-barra’. Tapi harus ada perbedaan antara tawaddud dengan ta’ayis. Tawaddud adalah hubungan kasih sayang antara manusia dengan Allah, Rasulullah, dan mukmin yang lain. Sedangkan kepadan manusia seluruhnya  menggunakan konsep ta’ayis.

Ia menutup dengan berkata:

Ta’ayis berarti hidup berdampingan. Kalau hidup berdampingan bisa dengan siapa saja asalkan mereka tidak memusuhi Islam. Memang ada istilah orang kafir. Namun tidak berarti bahwa mereka harus dimusuhi. Justru harus tetap bermuamalah dengan baik. Demikian pula jika kita bertetangga dengan orang kafir yang tidak memusuhi kita. Kepada orang-orang kafir yang tidak memusuhi kita, tidak dilarang kita berbuat baik kepada mereka. Bahkan harus berbuat adil dan berbagi. Berbagi berarti kalau punya makanan, kita berikan kepada tetangga non-muslim. 

Reporter: Yusuf R Yanuri

Terkait

Tags: al-wala' wa al-barra'aqidahHijrah
Previous Post

Kisah Ahli Surga: Debt Collector Pemaaf

Next Post

Harari dan Relevansi Agama

Yusuf R Yanuri

Yusuf R Yanuri

LAPSI Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Muhammadiyah

Next Post
Harari dan Relevansi Agama

Harari dan Relevansi Agama

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Tentang Kalimahsawa.id
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan
Contact Person: 085850332866

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.

No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.