Rabu, Oktober 7, 2026
Kalimahsawa.ID
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
Kalimahsawa.ID
No Result
View All Result

Haris Amir Falah: Hijrahnya Mantan Ekstrimis

Yusuf R Yanuri by Yusuf R Yanuri
Mei 24, 2020
in Report
0
Haris Amir Falah: Hijrahnya Mantan Ekstrimis
48
SHARES
281
VIEWS

164 Channel Nahdlatul Ulama mengadakan kegiatan Peci & Kopi. Kegiatan ini adalah semacam Kajian Daring dengan pembicara dari berbagai kalangan. Pada 21 Mei 2020, yang menjadi pembicara adalah Haris Amir Falah, seseorang yang pernah menjadi aktivis DI/TII, bahkan menjadi Ketua Lanjah Perwakilan DKI Jakarta, dan sekarang mendirikan Yayasan Hubbul Wathon Indonesia. Dalam kajian ini, ia bercerita panjang lebar mengenai perjumpaannya dengan dunia terorisme hingga keluar dan menjadi warga negara yang baik.

Persentuhan dengan Kelompok Jihadis

Ia mengaku bahwa perjumpaannya secara intensif dengan gerakan jihad bermula ketika SMA, ia bertemu dengan guru Matematikanya yang ternyata seorang aktivis jihad. Haris Amir Falah ditanya oleh guru tersebut, “apakah kamu pernah mendalami Alquran?” Ia yang merupakan seorang siswa SMA yang awam dalam hal agama lantas bertanya, “gimana caranya memdalami Alquran pak?” Guru tersebut menjawab: “nanti ikut saya”.

TulisanTerkait

Proyek Kepemimpinan, Mahasiswa PPG Pendidikan Pancasila A2 FKIP UMS Gelar PELITA di Panti Jompo Aisyiyah Surakarta

Seminar Nasional GANTARI 2026: Regenerasi Pemuda Jadi Kunci Keberlanjutan dan Swasembada Pangan Indonesia

IQT Fair XII 2026 Capai Puncak, Seminar Nasional dan Kajian Akbar Jadi Sorotan

Baca juga: Tutorial Meminta Maaf dengan Benar

Dari percakapan sederhana itu, ia mulai dikenalkan dengan sebuah kelompok. Berikut percakapan awalnya dengan kelompok jihadis:

“Apakah kamu Islam?”, tanya kelompok jihadis.

“Tentu, orang Betawi tentu Islam”, jawabnya.

“Kapan kamu masuk Islam?”, ia ditanya lagi.

“Sejak lahir sudah Islam”, jawabnya.

“Rukun Islam ada 5, yang pertama adalah syahadat. Kapan kamu mengucapkan syahadat?”, tanya mereka lagi.

“Ya ketika shalat kan mengucapkan syahadat”, jawabnya.

“Itu syahadat untuk salat, bukan buat masuk Islam”, kata kelompok jihadis. 

Kemudian ia diajak untuk mengikuti training atau dauroh selama 3 hari. Ia didoktrin dengan doktrin luar biasa dan mainstream. Pada saat itu ia tidak tahu bahwa yang ia ikuti adalah organisasi jihad. Setelah training, ia mengikuti pembinaan-pembinaan hingga 6 bulan pasca training. Setelah itu, ia berbaiat dan dikenalkan bahwa kelompok yang ia ikuti saat itu bukan kelompok biasa. Sebuah kelompok bawah tanah yang tujuannya adalah melawan NKRI.

Pada titik inilah bibit-bibit radikal dalam diri Haris Amir Falah mulai muncul dalam dirinya. Ia mulai menjadi orang eksklusif. Ia melihat orang lain yang mengaku muslim, tidak dilihat keislamannya. Semua orang tetap kafir karena belum pernah syahadat, terutama dihadapan kelompok yang ia ikuti. Setelah itu ia mulai beraktivitas, mulai berusaha merekrut teman-temannya.

Setiap hari Jumat-Minggu selalu rutin diadakan training dengan peserta minimal 10 orang. Rata-rata yang masuk adalah pengurus ROHIS. Dan ia juga merupakan pengurus ROHIS. Ketika Haris lulus SMA, ia kuliah di Universitas Muhammadiyah Jakarta. Namun, di semester 5 ia harus meninggalkan kampus karena teman-temannya satu kelompok tertangkap oleh polisi ketika melakukan amaliyat fa’i. Mereka mengartikan fa’i dengan merampok harta orang kafir tanpa melalui perang. Akhirnya ia menjadi buron. Itu terjadi tahun 1986. Setelah merasa aman, ia masuk ke Akademi Dakwah dan Bahasa Arab Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia di Kramat Raya.

Perubahan dari MMI ke JAT

Ia merasa tetap harus tampil di masyarakat agar jangkauan rekruitmennya lebih luas. Sampai ketika orde baru akan berakhir, angin reformasi sudah ditangkap, mereka mulai mengatur bagaimana strategi berikutnya. Di Agustus 2000, mereka menggagas Kongres Mujahidin Indonesia di Jogja yang melahirkan organisasi Majelis Mujahidin Indonesia. Ia termasuk yang menjadi muassis. Setengah tahun kemudian ia ditunjuk menjadi ketua Lajnah Wilayah Jakarta. Ia mulai mengembangkan dakwah di MMI.

Di MMI tidak ada istilah baiat karena ia sudah menjadi organisasi formal. Gerakannya juga bersifat formal karena organisasi ini tercatat di departemen agama. Bahkan saat itu ia sudah mulai berdialog dengan agama lain, salah satunya adalah umat Nasrani di Katedral. Ia menawarkan konsep perdamaian dunia, dan meminta orang-orang Nasrani untuk menyampaikan konsep perdamaian dunia versi mereka, sehingga terjadi dialog yang terbuka. Sehingga pendekatannya menjadi lebih halus. Di tahun ke 8 ia menjadi ketua Lajnah, ia mulai mendapatkan doktrin yang membuatnya kembali radikal seperti dulu. Ia dipengaruhi oleh Amman Abdurrahman yang menggagas konsep radikalisme baru pasca reformasi.

Bersama Abu Bakar Baasyir dan Amman Abdurrahman, ia keluar dari MMI dengan satu pernyataan bahwa MMI adalah salah satu organisasi sekular yang sudah menyimpang. Hal tersebut dikarenakan MMI terlalu halus dalam gerakannya. Ia kemudian mendirikan organisasi Jamaah Ansoru Tauhid.

Setelah berdirinya JAT, hampir semua gerakan jihadis Islam mengadakan pelatihan militer di Aceh. Hanya beberapa bulan pelatihan itu berjalan, polisi langsung dapat menciumnya. Haris Amir Falah akhirnya tertangkap pada Mei 2010. Ia divonis 4,5 tahun. Di penjara, ia mulai mengalami perubahan paradigma berpikir. Bahwa selama ini, gerakan yang ia bangun adalah menjadikan kepolisian sebagai musuh nomor satu, khususnya Densus 88.

Titik Balik Doktrin

Tapi ternyata ketika ia ditangkap, kenyataannya berbeda. Polisi bukan kelompok yang memerangi Islam. Ia mulai sadar bahwa ketika ia menjadi sasaran, target operasi, dan lain-lain, bukan karena ia muslim, tapi karena ia melakukan pelanggaran hukum di wilayah NKRI. Awalnya ia merasa dikejar polisi karena ia adalah seorang muslim yang menjalankan syariat perang. Namun setelah ditangkap ia baru sadar bahwa ternyata tidak seperti itu. Ia mulai banyak berinteraksi dengan polisi ketika di penjara. Banyak yang salat duha, puasa Senin Kamis, dan lain-lain. Hal itu menjadi titik balik doktrin yang ia yakini.

Menurutnya, pergolakan yang ia alami sangat membutuhkan pemikiran dan hati yang jernih. Ia mengatakan:

Kalau masih ada bibit-bibit permusuhan, tentu tidak bisa seperti itu. Tidak boleh melihat hanya dari sisi gelap, padahal masih banyak sisi terang yang lain. Seperti menggunakan kacamata kuda. Ini banyak dialami oleh mereka yang hijrah dari Radikal dan teroris menjadi orang yang cinta NKRI.

Ia sekarang mendirikan Yayasan Hubbul Wathan Indonesia. Ini menjadi ingatan bagi  bahwa orang yang dulu mengkhianati negara, sekarang ingin membangun bangsa.

Reporter: Yusuf R Yanuri

Terkait

Tags: ekstrimHijrahradikal
Previous Post

Amien Rais: Islam Harus Menang di Dunia & Akhirat

Next Post

Idul Fitri dan Refleksi Kemenangan di Tengah Pandemi

Yusuf R Yanuri

Yusuf R Yanuri

LAPSI Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Muhammadiyah

Next Post
Idul Fitri dan Refleksi Kemenangan di Tengah Pandemi

Idul Fitri dan Refleksi Kemenangan di Tengah Pandemi

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Tentang Kalimahsawa.id
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Kirim Tulisan
Contact Person: 085850332866

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.

No Result
View All Result
  • Report
  • Video
  • Narasi
    • Esai
    • Cerpen
    • Sosok
    • Puisi
  • Ulûm ad-Dîn
    • Akhlak
    • Tafsir
    • Filsafat
    • Ibadah
  • Risalah
    • Khutbah
    • Doa
    • Kata Bersama
    • Muslimah
  • Kirim Tulisan

© 2020 Kalimahsawa.ID - Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS.